Kronologi Hilangnya Pesawat ATR 72 Rute Yogyakarta-Makassar di Maros, Sulawesi Selatan

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Pesawat ATR 400 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang terbang dengan rute Yogyakarta menuju Makassar dilaporkan kehilangan kontak di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Saat ini, operasi pencarian sedang berfokus pada area pegunungan kapur Bantimurung, tepatnya di Desa Leang-leang, Maros, yang juga ditetapkan sebagai posko utama oleh Basarnas di sekitar lokasi kejadian.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, mengonfirmasi bahwa rencana pencarian lanjutan akan melibatkan penerbangan helikopter milik TNI Angkatan Udara bersama tim Basarnas, dengan jadwal operasi dimulai pada pukul 16.25 WITA. Kronologi kehilangan kontak ini bermula pada Sabtu, 17 Januari 2026, ketika Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menerima laporan awal mengenai hilangnya sinyal komunikasi dari pesawat dengan registrasi PK-THT tersebut.

Pesawat berusia produksi tahun 2000 dengan nomor seri 611 ini merupakan armada yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT) dengan AOC 034, yang dikemudikan oleh Pilot in Command Capt. Andy Dahananto. Berdasarkan alur kronologis yang dilaporkan, pada pukul 04.23 UTC, pesawat sedang dalam proses pendekatan (approach) ke landasan pacu RWY 21 Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar atas arahan Air Traffic Control Makassar Area Terminal Service Center (MATSC).

Selama proses pendekatan tersebut, petugas ATC mengidentifikasi bahwa pesawat tidak berada pada jalur yang seharusnya, sehingga instruksi koreksi posisi diberikan kepada awak kabin. ATC kemudian memberikan sejumlah arahan lanjutan untuk mengembalikan pesawat ke jalur pendaratan yang sesuai dengan prosedur standar. Namun, setelah instruksi terakhir diberikan, komunikasi dengan pesawat terputus total atau loss contact. Menyikapi situasi ini, ATC segera mendeklarasikan fase darurat DETRESFA (Distress Phase) sesuai protokol yang berlaku.

AirNav Indonesia Cabang MATSC melakukan koordinasi cepat dengan Rescue Coordination Center (RCC) Basarnas Pusat serta Polres Maros melalui Kapolsek Bandara untuk mendukung upaya pencarian dan pertolongan. Sementara itu, Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar telah menyiapkan Crisis Center di Terminal Keberangkatan untuk menjadi pusat koordinasi informasi terkait insiden ini.

AirNav Indonesia juga tengah menyiapkan penerbitan Notice to Airmen (NOTAM) terkait kegiatan pencarian dan pertolongan (Search and Rescue) guna memastikan keselamatan penerbangan di sekitar area tersebut. Dari data awal, jumlah orang di dalam pesawat atau Persons on Board (POB) tercatat sebanyak 10 orang, yang terdiri dari tujuh awak pesawat dan tiga penumpang.

Mengenai kondisi cuaca saat kejadian, informasi awal menunjukkan jarak pandang (visibility) sekitar 8 kilometer dengan kondisi langit yang dilaporkan sedikit berawan di sekitar area kejadian. Meskipun demikian, detail dan konfirmasi resmi mengenai faktor cuaca masih dalam proses koordinasi intensif bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Direktorat Jenderal Perhubungan Udara terus berkoordinasi dengan Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah V Makassar, AirNav Indonesia, Basarnas, operator penerbangan, TNI Angkatan Udara, serta instansi terkait lainnya untuk memantau perkembangan situasi dan memastikan penanganan berjalan optimal. Pembaruan informasi akan disampaikan secara berkala sesuai perkembangan resmi di lapangan.

Dalam konteks kecelakaan penerbangan, evakuasi di area pegunungan kapur seperti Bantimurung seringkali menantang karena medan yang berat dan aksesibilitas yang terbatas. Studi kasus serupa menunjukkan bahwa koordinasi cepat antara Basarnas, TNI, dan pihak bandara sangat krusial untuk meminimalkan waktu respons. Analisis terbaru menunjukkan bahwa penggunaan teknologi pelacakan satelit dapat meningkatkan akurasi pencarian di area terpencil, menyederhanakan proses identifikasi lokasi jatuhnya pesawat. Infografis yang relevan biasanya memetakan rute penerbangan terakhir, titik kontak terakhir, dan radius pencarian di sekitar pegunungan kapur tersebut, memberikan gambaran visual yang jelas tentang kompleksitas operasi SAR ini.

Kita harus terus mendoakan keselamatan seluruh awak dan penumpang, serta mendukung upaya tim SAR yang bekerja tanpa lelah di lapangan. Setiap detik berharga dalam operasi penyelamatan, dan sinergi antara berbagai pihak menjadi kunci utama dalam menghadapi situasi genting ini. Mari kita berharap yang terbaik dan tetap waspada terhadap perkembangan informasi resmi yang disampaikan pihak berwenang.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan