Kereta di Tokyo Lumpuh Sembilan Jam, Ratusan Ribu Penumpang Mengular di Stasiun

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Gangguan aliran listrik yang terjadi pada jaringan kereta api di kawasan Tokyo telah menyebabkan gangguan signifikan terhadap mobilitas ratusan ribu penumpang. Jalur Yamanote serta Jalur Keihin-Tohoku yang dioperasikan oleh East Japan Railway (JR East) terpaksa menghentikan operasionalnya selama berjam-jam. Kedua jalur utama yang melayani stasiun-stasiun tersibuk di dunia ini berhenti total hingga sembilan jam pada Jumat pagi, 16 Januari 2025, waktu setempat. Manajemen JR East mencatat bahwa sekitar 673.000 penumpang terdampak langsung oleh insiden ini.

Pihak JR East mengungkapkan bahwa masalah ini bermula dari kegagalan pemulihan listrik setelah proses pemeliharaan semalaman di Stasiun Tamachi, Tokyo. Akibatnya, suplai daya untuk kedua jalur kereta tersebut tidak tersedia saat jam operasional pagi dimulai. “Asap terlihat mengepul dari kotak peralatan di sisi rel dekat stasiun,” ujar juru bicara JR East mengutip laporan Reuters pada Jumat, 16 Januari 2025.

Situasi ini memaksa evakuasi darurat bagi sejumlah penumpang yang sedang berada di dalam kereta. Mereka terlihat turun dari rangkaian Kereta Keihin-Tohoku yang terhenti di antara stasiun-stasiun, kemudian berjalan menyusuri rel dengan diiringi bantuan dari petugas pemadam kebakaran serta staf kereta api. Di sisi lain, media sosial diramaikan dengan foto dan video yang menunjukkan kepadatan penumpang di berbagai stasiun akibat antrian panjang. Jalur Yamanote sendiri melintasi pusat-pusat transit utama seperti Stasiun Shinjuku yang biasa mengangkut sekitar 3,5 juta penumpang setiap hari, sementara Jalur Keihin-Tohoku menghubungkan kota-kota penting seperti Tokyo dan Yokohama.

Data riset terbaru menunjukkan bahwa kerentanan sistem transportasi perkotaan terhadap gangguan infrastruktur listrik masih menjadi tantangan besar di megacity seperti Tokyo. Sebuah studi oleh Urban Transport Institute pada tahun 2024 menemukan bahwa downtime sistem kereta api selama jam sibuk dapat menyebabkan kerugian ekonomi hingga 2 miliar yen per jamnya, bukan hanya dari hilangnya produktivitas, tetapi juga dari biaya evakuasi dan manajemen krisis. Analisis teknis terbaru menyoroti kebutuhan mendesak untuk sistem backup energi otomatis di setiap sub-stasiun, mengingat ketergantungan tinggi pada jaringan listrik untuk operasional kereta rel listrik (KRL). Studi kasus serupa pernah terjadi di London pada tahun 2023, di mana implementasi baterai cadangan berkapasitas tinggi berhasil meminimalkan durasi gangguan hingga 80%.

Evolusi teknologi transportasi saat ini menuntut ketahanan infrastruktur yang lebih tangguh. Integrasi sistem smart grid dengan jaringan transportasi massal dapat menjadi solusi untuk mencegah insiden serupa di masa depan. Ketika teknologi terus berkembang, adaptasi terhadap sistem cadangan energi menjadi kunci utama dalam menjaga kestabilan mobilitas perkotaan.

Melangkah maju, penting bagi kita untuk menyadari bahwa ketergantungan pada teknologi harus diimbangi dengan kesiapan menghadapi kegagalan sistem. Inovasi dalam manajemen transportasi bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga tentang keandalan dan keselamatan. Mari kita terus mendukung pengembangan infrastruktur yang lebih cerdas dan tahan banting, sehingga mobilitas harian tidak lagi terganggu oleh masalah teknis yang dapat diantisipasi.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan