Pelayanan Humanis Polwan Polda Metro Jaya Sukses Redam Aksi Ojol Nasional

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Polisi wanita dari Polda Metro Jaya memimpin layanan saat massa aksi dari Dewan Presidium Pusat Koalisi Ojek Online Nasional berunjuk rasa di kawasan silang selatan Monas, Jakarta. Mereka mengamankan demonstrasi driver ojek online dengan pendekatan yang humanis dan penuh kepedulian.

Kabidhumas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menyatakan bahwa kehadiran personel polisi wanita tersebut merupakan wujud nyata pendekatan humanis Polri dalam mengawal aspirasi rakyat. Terlihat para polwan membentangkan spanduk bertuliskan “Selamat Datang Pejuang Aspirasi” sebagai tanda penyambutan hangat terhadap peserta aksi.

“Polri, khususnya Polwan, hadir untuk melayani dan membangun komunikasi yang baik agar kegiatan berjalan aman dan tertib,” ujar Budi pada hari Kamis, 15 Januari 2026.

Tak hanya pengamanan, personel polisi wanita Polda Metro Jaya bersama anggota lainnya turut membagikan air mineral dan camilan kepada massa aksi driver ojol. Budi menegaskan bahwa fokus Polri tidak hanya pada keamanan, melainkan juga pelayanan dan kepedulian terhadap masyarakat.

“Pembagian tersebut dilakukan di sela-sela kegiatan sebagai bagian dari pelayanan kepolisian dalam pengamanan aksi penyampaian pendapat di muka umum,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa pengamanan aksi unjuk rasa tidak hanya sebatas penegakan hukum, tetapi juga harus disertai pelayanan dan pengayoman. Pendekatan persuasif menjadi kunci utama untuk menjaga situasi di lapangan tetap kondusif. Polda Metro Jaya menjamin seluruh rangkaian kegiatan pengamanan dan pelayanan dilakukan secara profesional, dengan situasi di Silang Selatan Monas terpantau aman dan terkendali selama aksi berlangsung.

Dalam beberapa tahun terakhir, transformasi layanan kepolisian di Indonesia mengalami perkembangan signifikan, khususnya dalam menyikapi dinamika sosial. Data menunjukkan bahwa penggunaan pendekatan humanis mampu menurunkan eskalasi konflik di lapangan hingga 40% dibandingkan metode represif. Fenomena ini menjadi studi menarik bagaimana aparat penegak hukum menempatkan diri sebagai pelindung, bukan sekadar penjaga.

Jika ditelusuri lebih dalam, aksi unjuk rasa driver ojek online seringkali dipicu oleh kebijakan algoritma atau sistem bagi hasil yang dinilai tidak adil. Sebagai contoh, pada tahun 2023, terdapat kasus serupa di mana driver melakukan aksi damai meminta transparansi pendapatan. Ketika polisi merespons dengan membagikan logistik dan membuka dialog, tensi aksi menjadi cair dan solusi dapat ditemukan lebih cepat. Ini membuktikan bahwa empati adalah senjata ampuh dalam meredakan ketegangan sosial.

Membangun hubungan yang harmonis antara polisi dan masyarakat adalah kunci keberhasilan penjagaan keamanan. Dengan terus mengedepankan sikap humanis dan responsif terhadap aspirasi rakyat, kita bersama-sama dapat menciptakan lingkungan yang aman, tertib, dan penuh kebersamaan untuk semua elemen bangsa.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan