Frekuensi Bercinta Ideal bagi Pasangan Suami Istri yang Bahagia Menurut Ahli

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Hubungan Seksual yang Memuaskan, Apakah Harus Sering? Inilah Penjelasan Ahli

Jakarta – Dalam dunia pernikahan, sering kali muncul pertanyaan: seberapa sering suami istri harus melakukan hubungan seksual agar bisa dikatakan bahagia? Apakah semakin sering, semakin baik? Atau justru kualitas yang lebih penting daripada kuantitas?

Tidak Ada Angka Ajaib yang Universal

Dr. Carolina Castaños, seorang psikolog klinis yang ahli dalam terapi pernikahan dan keluarga, menyatakan bahwa tidak ada satu angka pasti yang menjadi patokan bagi semua pasangan. Setiap individu dan setiap hubungan memiliki kebutuhan, preferensi, dan dinamika yang berbeda-beda.

“Seorang pasangan bisa melakukan hubungan intim setiap hari, namun tetap merasa ada jarak emosional di antara mereka. Di sisi lain, ada pasangan yang hanya melakukannya seminggu sekali, tetapi setiap kali terjadi, perasaan koneksi dan kepuasannya sangat kuat,” jelas Carolina.

Kualitas Lebih Berarti daripada Kuantitas

Menurutnya, seksualitas tidak bisa disamakan dengan kebutuhan dasar seperti makan atau minum yang memiliki takaran tertentu. Seksualitas adalah bagian dari ekspresi cinta dan koneksi yang lebih luas dalam suatu hubungan. “Seks yang baik adalah hasil dari hubungan yang sehat, aman, dan penuh kepercayaan,” lanjutnya.

Ia menekankan bahwa frekuensi tinggi tidak otomatis menjadi indikator hubungan yang harmonis. Bisa saja secara fisik sering bersatu, tetapi secara emosional justru terasa hampa.

Tanda Peringatan: Ketika Seks Tidak Terjadi

Meskipun tidak ada patokan wajib, Carolina memberikan satu peringatan penting. Jika suatu pasangan tidak melakukan hubungan seksual sama sekali selama lebih dari sebulan, hal ini bisa menjadi sinyal adanya masalah yang lebih dalam dalam hubungan mereka.

“Ketidakhadiran seksual dalam jangka panjang bisa mencerminkan ketidaknyamanan, konflik yang belum terselesaikan, atau bahkan ketidakcocokan dalam kebutuhan,” imbuhnya.

Seks Bukan Pelarian, tapi Ekspresi

Carolina juga mengingatkan agar seksualitas tidak dijadikan sebagai pelarian dari masalah. Jika suatu hubungan hanya ‘hidup’ di ranjang, tetapi keseharian dipenuhi ketegangan, ketidakpercayaan, atau komunikasi yang buruk, maka frekuensi seks tinggi pun tidak akan menyelesaikan akar masalah.

“Ketika seseorang mencapai orgasme, tubuh melepaskan oksitosin yang menurunkan stres dan memberikan rasa nyaman. Jika hal ini dijadikan pelarian, bisa menjadi semacam kecanduan yang menutupi ketidakbahagiaan yang sebenarnya,” paparnya.

Studi Kasus: Pasangan yang Menemukan Ritme Mereka Sendiri

Sebuah studi kasus dari pasangan berusia 30-an di Jakarta menunjukkan bagaimana mereka menemukan ritme yang cocok. Awalnya, mereka merasa tertekan karena teman-teman mereka mengaku ‘berhubungan setiap hari’. Setelah berkonsultasi dengan terapis, mereka menyadari bahwa kualitas komunikasi, kehadiran emosional, dan waktu berkualitas bersama jauh lebih penting daripada sekadar angka frekuensi. Mereka akhirnya menemukan keseimbangan yang membuat keduanya merasa dicintai dan dipahami, meskipun tidak sesering yang mereka bayangkan sebelumnya.

Infografis: Faktor yang Mempengaruhi Keharmonisan Seksual dalam Pernikahan

  • Komunikasi Terbuka: Kemampuan membicarakan kebutuhan dan keinginan
  • Kesehatan Mental dan Fisik: Stres, depresi, dan kondisi medis tertentu
  • Kualitas Waktu Bersama: Aktivitas sehari-hari yang memperkuat ikatan
  • Lingkungan yang Mendukung: Privasi, kenyamanan, dan keamanan
  • Ekspektasi yang Realistis: Memahami bahwa setiap pasangan berbeda

Kebahagiaan dalam pernikahan bukan dihitung dari seberapa sering Anda bersatu, melainkan seberapa dalam Anda saling memahami. Temukan ritme Anda berdua, bukan mengejar angka yang dianggap ‘normal’ oleh orang lain. Koneksi yang autentik, komunikasi yang jujur, dan kehadiran yang tulus adalah fondasi yang jauh lebih kuat daripada sekadar frekuensi. Mulailah dengan saling mendengar, saling memahami, dan membangun keintiman yang bermakna—dalam dan di luar kamar tidur.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan