Tasikmalaya Ditetapkan sebagai Pusat Edukasi Arboretum Bambu

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Arboretum bambu merupakan area konservasi khusus yang dirancang untuk mengumpulkan, melestarikan, dan meneliti berbagai jenis tanaman bambu. Selain berfungsi sebagai tempat konservasi, kawasan ini juga menjadi pusat pendidikan lingkungan, objek wisata alam, serta berperan sebagai paru-paru kota yang menjaga keseimbangan ekosistem dan sumber air. Di Kota Tasikmalaya, pembangunan Pusat Edukasi Arboretum Bambu saat ini sedang dipersiapkan melalui program rutin Jumat Menanam.

Kegiatan penanaman perdana dilakukan di Blok Rancamerak, Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi pada hari Jumat (9/1/2026). Aksi ini menjadi tonggak awal pembangunan kawasan arboretum bambu di Kota Tasikmalaya yang merupakan kolaborasi antara Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat dengan Pemerintah Kota Tasikmalaya. Kepala Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VI Jawa Barat, Agung Lukman, menjelaskan bahwa penanaman kali ini masih bersifat simbolis dan awal dari proses panjang.

Sebanyak 45 pohon ditanam dalam kegiatan tersebut, terdiri dari berbagai jenis seperti bambu, durian, mahoni, alpukat, dan mangga. Menurut Agung, ini adalah langkah awal yang akan menjadi pintu masuk pengembangan kawasan bambu di Kota Tasikmalaya. Pemilihan lokasi Rancamerak dilakukan setelah melalui kajian bersama Pemerintah Kota Tasikmalaya, dengan pertimbangan kontur tanah dan kondisi lahan yang sangat mendukung untuk pengembangan kawasan hijau berbasis bambu.

Selain di Kota Tasikmalaya, rencana serupa juga disiapkan di wilayah Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Alasannya, Salawu dikenal sebagai sentra perajin bambu, sehingga sangat tepat jika dikembangkan menjadi arboretum. Sementara di Kota Tasikmalaya, fokusnya lebih kepada pendidikan dan edukasi masyarakat. Dalam pengembangan arboretum, Dinas Kehutanan juga akan menanam berbagai jenis bambu, termasuk varietas unggulan dari luar negeri seperti bambu wayah dan bambu beludru yang berasal dari Cina dan Jepang.

Upaya ini bukan untuk tujuan produksi, melainkan untuk edukasi dan pelestarian keanekaragaman hayati. Rencana pembangunan arboretum ditargetkan selesai pada Februari–Maret 2026, dengan target mencakup minimal 20 hingga 40 jenis bambu, ditambah berbagai tanaman buah-buahan. Konsep ini diharapkan menjadi ruang belajar hidup bagi masyarakat, terutama generasi muda, tentang pentingnya pelestarian lingkungan dan potensi ekonomi dari tanaman bambu.

Data riset terbaru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2025 menunjukkan bahwa pengembangan arboretum bambu di berbagai daerah telah meningkatkan kualitas udara sebesar 15% dan menurunkan suhu mikroklimat sekitar 2-3 derajat Celsius. Studi kasus di Arboretum Bambu Cibadak, Sukabumi, membuktikan bahwa kawasan ini mampu menyerap 2,5 ton karbon dioksida per tahun dan menjadi destinasi edukasi bagi lebih dari 3.000 pelajar setiap bulannya. Infografis dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga mencatat bahwa bambu memiliki kemampuan regenerasi akar hingga 90% lebih cepat dibandingkan pohon biasa, menjadikannya solusi jangka panjang untuk mitigasi perubahan iklim.

Dengan pengembangan arboretum bambu di Kota Tasikmalaya, bukan hanya lingkungan yang akan membaik, tetapi juga kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga alam. Mari jadikan setiap tetesan keringat dalam menanam sebagai investasi masa depan yang hijau, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan