Proyek Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Tasikmalaya Molor karena Hujan, Denda Masih Menggantung

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Pembangunan pendopo rumah dinas Wali Kota Tasikmalaya akhirnya angkat bicara setelah menuai sorotan dari DPRD. Pihak kontraktor pun membeberkan alasan di balik keterlambatan proyek tersebut. Menurut Direktur CV Pamayungan, Ivan Giovani, penyebab utama molornya penyelesaian bukan karena kelalaian teknis, melainkan faktor cuaca yang tidak terduga.

Ivan menjelaskan bahwa meskipun pihaknya telah memasukkan potensi hujan dalam perhitungan awal, realitas di lapangan justru melampaui estimasi. Curah hujan yang terus-menerus menghambat aktivitas konstruksi, terutama pengerjaan struktur dan pemasangan lantai. “Perkiraan kami curah hujan sekitar 40 sampai 50 persen. Ternyata di lapangan jauh lebih tinggi. Hampir setiap hari hujan, dan itu tidak bisa dipaksakan,” ujarnya pada Kamis (8/1/2026).

Dampaknya, target penyelesaian yang semula ditetapkan 50 hingga 60 hari akhirnya terpaksa mundur. Namun, Ivan menegaskan bahwa ruang lingkup pekerjaan yang menjadi tanggung jawab CV Pamayungan, yaitu pembangunan pendopo dan benteng rumah dinas, kini telah rampung. Proyek dengan nilai kontrak Rp2,6 miliar tersebut kini hanya tinggal menunggu proses administratif terkait denda keterlambatan.

Soal denda, Ivan tidak menampik adanya konsekuensi sesuai ketentuan kontrak, yaitu satu per seribu per hari dari nilai kontrak. Namun, nominal pastinya masih menunggu perhitungan resmi dari Dinas PUTR Kota Tasikmalaya. “Konsekuensinya kami terima. Dendanya satu per seribu per hari. Tapi nominal pastinya masih menunggu hitungan dari dinas,” tegasnya.

Keterlambatan proyek ini sebelumnya telah memicu reaksi keras dari DPRD, khususnya Komisi III. Ketua Komisi III DPRD Kota Tasikmalaya, Anang Sapa’at, menilai persoalan ini mencerminkan adanya kelemahan baik dari sisi pelaksana maupun pengawasan dinas terkait. Ia menekankan bahwa proyek ini seharusnya selesai tepat waktu mengingat telah dianggarkan dalam Tahun Anggaran 2025.

Studi kasus ini menunjukkan betapa pentingnya antisipasi terhadap faktor eksternal dalam proyek konstruksi. Meskipun perencanaan telah mempertimbangkan risiko cuaca, kondisi lapangan yang melebihi prediksi tetap menjadi tantangan besar. Proyek-proyek publik semacam ini memerlukan manajemen risiko yang lebih ketat, termasuk skenario cadangan saat kondisi cuaca ekstrem terjadi.

Dari sisi pengawasan, insiden ini seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi dinas teknis agar lebih proaktif dalam memantau progres dan memberikan solusi cepat saat terjadi hambatan. Sementara bagi kontraktor, perlu adanya strategi mitigasi yang lebih realistis, termasuk penyesuaian jadwal kerja dan alokasi sumber daya yang lebih fleksibel.

Keberlanjutan proyek-proyek strategis seperti ini sangat penting bagi pelayanan publik. Keterlambatan bukan hanya berdampak pada anggaran, tetapi juga pada kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah daerah. Dengan pembelajaran dari kasus ini, diharapkan proyek-proyek ke depan dapat berjalan lebih lancar dan tepat waktu.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan