Alasan Realme Kembali Menjadi Sub-Brand di Bawah Oppo

Saskia Puti

By Saskia Puti

Produsen smartphone dan teknologi asal Tiongkok, Oppo, dikabarkan akan menarik kembali Realme sebagai sub-brand di bawah naungannya. Kabar ini mulai menyebar luas sejak Rabu (7/1/2025) dan langsung menjadi perbincangan hangat di industri teknologi global.

Langkah strategis ini dilaporkan dilakukan untuk menyatukan sumber daya dan mengurangi biaya operasional antar kedua perusahaan yang sebenarnya berada di bawah satu grup besar, BKK Electronics. Selain Oppo dan Realme, BKK Electronics juga menaungi Vivo, yang hingga kini masih konsisten masuk dalam jajaran lima besar produsen smartphone terbesar dunia.

Oppo sendiri dikenal sebagai salah satu pemain utama di pasar global, kerap kali masuk dalam daftar Top 5 produsen smartphone berdasarkan pangsa pasar. Sementara Realme, meski lebih muda usianya, telah sukses membangun basis penggemar kuat, terutama di kalangan anak muda di pasar seperti India, Asia Tenggara—termasuk Indonesia—dan Eropa.

Sejarah keduanya memang saling terkait. Realme awalnya lahir sebagai sub-merek Oppo pada 2018 sebelum akhirnya memilih melepaskan diri dan berdiri sebagai perusahaan independen, meski tetap berada dalam naungan BKK Electronics. Namun, setelah tujuh tahun berjalan sendiri, Realme kini kembali ke bawah sayap Oppo.

Apa yang menyebabkan keputusan ini diambil? Salah satu faktor utama diduga adalah performa Oppo yang mulai melambat di pasar global. Pada kuartal III 2025, Oppo bahkan terlempar dari daftar lima besar produsen smartphone dunia, digantikan oleh Transsion Holdings—induk dari Tecno, Infinix, dan Itel—yang mulai menunjukkan pertumbuhan signifikan, terutama di pasar Afrika dan Asia.

Selain itu, kondisi rantai pasok global yang masih belum stabil juga turut andil. Kelangkaan chip dan komponen seperti RAM, serta pembatasan produksi yang terjadi di berbagai pabrik, membuat efisiensi operasional menjadi krusial. Dengan menggabungkan kembali Realme, Oppo bisa lebih optimal dalam hal distribusi, riset dan pengembangan, serta strategi pemasaran.

Gabungan kekuatan ini diprediksi akan memperkuat posisi keduanya di tengah persaingan industri yang semakin sengit. Dengan portofolio produk yang lebih luas—mulai dari segmen entry-level hingga flagship—Oppo dan Realme bisa lebih lincah merespons kebutuhan konsumen di berbagai lapisan pasar.

Data Riset Terbaru:
Menurut laporan IDC Q3 2025, Transsion Holdings mencatat pertumbuhan 28% year-on-year dengan total pengiriman 45 juta unit, menyalip Oppo yang hanya tumbuh 3% dengan 41 juta unit. Sementara itu, penjualan Realme secara global sempat stagnan di beberapa kuartal terakhir karena keterbatasan stok dan persaingan harga yang ketat dari brand-brand China lainnya.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Alih-alih bersaing internal, penggabungan ini adalah bentuk kolaborasi strategis. Alih-alih dua tim berlari berlawanan arah, kini mereka berlari searah dengan tujuan sama: merebut kembali pangsa pasar yang sempat terlepas. Dalam konteks bisnis, ini adalah langkah rasional di tengah tekanan ekonomi global dan ketidakpastian pasokan.

Studi Kasus:
Di India, pasar smartphone terbesar kedua di dunia, Realme sempat menguasai 11% pangsa pasar pada 2022. Namun, pada 2025 angka ini turun menjadi 7% akibat dominasi Samsung dan Xiaomi yang lebih agresif dalam inovasi dan distribusi. Dengan integrasi penuh ke Oppo, diharapkan Realme bisa memanfaatkan jaringan distribusi dan R&D yang lebih mapan.

Infografis (dalam bentuk teks):

  • Oppo: 41 juta unit dikirim Q3 2025 (tumbuh 3%)
  • Realme: 28 juta unit dikirim Q3 2025 (stagnan)
  • Transsion: 45 juta unit dikirim Q3 2025 (tumbuh 28%)
  • Pasar Target: India, Asia Tenggara, Eropa
  • Strategi Baru: Integrasi R&D, distribusi, dan branding

Dengan langkah ini, Oppo tidak hanya menyelamatkan Realme, tetapi juga menyelamatkan dirinya sendiri dari stagnasi. Di era di mana kolaborasi lebih bernilai daripada kompetisi sesama grup, keputusan ini bisa menjadi kunci kebangkitan keduanya. Masa depan bukan milik perusahaan yang berdiri sendiri, tapi milik mereka yang mampu beradaptasi, bergabung, dan bangkit bersama. Waktunya untuk kembali ke puncak.

Baca juga Info Gadget lainnya di Info Gadget terbaru

Tinggalkan Balasan