Trump Klaim Venezuela akan Serahkan Minyak Hingga 50 Juta Barel ke AS

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa Venezuela akan menyerahkan 30 hingga 50 juta barel minyak kepada negaranya. Minyak yang sebelumnya terkena sanksi internasional ini akan dijual di pasar bebas, tetapi hasil penjualannya akan dikendalikan sepenuhnya oleh pemerintah AS. Dalam unggahan di platform Truth Social pada Kamis (8/1/2026), Trump menyatakan bahwa pihak otoritas sementara Venezuela telah menyetujui penyerahan minyak tersebut, dan hasil penjualannya akan digunakan untuk kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat.

Untuk segera menindaklanjuti kesepakatan ini, Trump langsung memerintahkan Menteri Energi Chris Wright agar segera mengeksekusi rencana tersebut. Minyak ini akan diangkut menggunakan kapal-kapal tanker menuju dermaga-dermaga pembongkaran yang tersebar di wilayah Amerika Serikat. Seorang pejabat senior pemerintah AS mengungkapkan bahwa sebagian besar minyak tersebut bahkan sudah berada di atas kapal dan siap diarahkan menuju fasilitas penyulingan di kawasan Teluk AS.

Meskipun volume 50 juta barel terdengar sangat besar, namun jumlah tersebut sebenarnya tidak terlalu signifikan jika dibandingkan dengan konsumsi minyak AS yang mencapai sekitar 20 juta barel per hari. Namun, pengumuman ini tetap berdampak pada pasar minyak global. Usai pernyataan Trump, harga minyak mentah AS langsung turun sekitar US$ 1 per barel atau hampir 2%, berada di kisaran US$ 56 per barel. Meski demikian, penurunan harga minyak mentah ini kemungkinan besar tidak akan secara langsung memengaruhi harga bensin di AS. Sebagai perbandingan, pada tahun 2022 lalu, mantan Presiden Joe Biden pernah merilis 180 juta barel minyak dari cadangan strategis negaranya, tetapi menurut data dari Departemen Keuangan AS, langkah tersebut hanya berhasil menurunkan harga bensin sekitar 13 hingga 31 sen per galon dalam jangka waktu empat bulan.

Namun, dari sisi pendapatan, penjualan puluhan juta barel minyak Venezuela ini tetap menjanjikan. Dengan harga minyak Venezuela yang saat ini berada di kisaran US$ 55 per barel, total pendapatan yang bisa diraih oleh AS diperkirakan mencapai antara US$ 1,65 miliar hingga US$ 2,75 miliar. Jika dikonversi ke dalam mata uang rupiah dengan kurs Rp 16.700 per dolar AS, nilai tersebut setara dengan Rp 27,55 triliun hingga Rp 45,92 triliun.

Data Riset Terbaru:
Berdasarkan laporan International Energy Agency (IEA) pada Januari 2026, produksi minyak Venezuela diperkirakan akan mengalami peningkatan tipis sebesar 2,5% dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun masih terkendala oleh sanksi ekonomi dan keterbatasan infrastruktur. Sebagian besar produksi minyak Venezuela berasal dari wilayah Orinoco Belt, yang dikenal memiliki minyak berat dengan kandungan belerang tinggi. Namun, karena keterbatasan teknologi pengolahan, minyak jenis ini membutuhkan proses penyulingan yang lebih kompleks, sehingga harganya cenderung lebih rendah dibandingkan minyak mentah jenis lainnya di pasar internasional.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Langkah Trump dalam mengamankan minyak Venezuela sebenarnya merupakan strategi ganda. Di satu sisi, ini bisa dianggap sebagai upaya untuk mengamankan pasokan energi jangka pendek, terutama di tengah ketidakpastian pasar minyak global akibat konflik geopolitik. Di sisi lain, pengendalian hasil penjualan minyak Venezuela oleh AS bisa menjadi alat tekanan politik terhadap rezim oposisi di Caracas. Dengan menguasai aliran pendapatan minyak, AS memiliki daya tawar yang lebih besar dalam menentukan kebijakan atau bahkan pergantian kekuasaan di Venezuela.

Studi Kasus:
Pada tahun 2019, AS pernah menerapkan strategi serupa dengan mengunci aset minyak Venezuela yang disimpan di luar negeri, termasuk di Singapura dan India. Saat itu, AS mendukung Juan Guaido sebagai presiden sementara dan menganggap pemerintahan Nicolas Maduro sebagai ilegal. Dampaknya, ekspor minyak Venezuela merosot tajam, dari sekitar 1,2 juta barel per hari pada 2017 menjadi kurang dari 400.000 barel per hari pada 2020. Strategi ini terbukti efektif dalam melemahkan perekonomian Venezuela, tetapi juga memperburuk krisis kemanusiaan di negara tersebut.

Infografis:

  • Total minyak Venezuela yang akan dikirim ke AS: 30-50 juta barel
  • Konsumsi minyak AS per hari: 20 juta barel
  • Harga minyak Venezuela: US$ 55 per barel
  • Potensi pendapatan: US$ 1,65 – 2,75 miliar
  • Dampak harga minyak mentah AS: turun 2% menjadi US$ 56 per barel
  • Dampak harga bensin AS: minimal (hanya 13-31 sen per galon dalam 4 bulan)

Dengan langkah ini, AS tidak hanya mendapatkan tambahan pasokan energi, tetapi juga memperkuat posisi tawarnya dalam konstelasi geopolitik global. Namun, keberhasilan strategi ini tetap bergantung pada kemampuan AS untuk mengelola dampak jangka panjangnya, baik terhadap stabilitas energi domestik maupun terhadap kondisi kemanusiaan di Venezuela.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan