Trump Bersikeras Kuasai Greenland, Enam Negara NATO Siaga Menghadang

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Donald Trump kembali menunjukkan ambisinya terhadap Greenland dengan mempertimbangkan berbagai cara, termasuk opsi penggunaan kekuatan militer untuk mencaplok wilayah Arktik tersebut. Karoline Leavitt, Sekretaris Pers Gedung Putih, mengungkapkan bahwa rencana akuisisi Greenland dianggap sebagai prioritas utama bagi keamanan nasional Amerika Serikat. Menurutnya, langkah ini penting untuk mencegah pengaruh negara-negara saingan di kawasan Arktik. Leavitt menegaskan bahwa Presiden Trump dan timnya masih mempertimbangkan berbagai strategi terbaik, termasuk opsi militer sebagai bagian dari alat kebijakan luar negeri.

Tanggapan keras muncul dari sejumlah negara anggota NATO. Enam negara, yakni Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Inggris, bersatu dengan Denmark dalam sebuah pernyataan bersama yang menegaskan pentingnya menghormati kedaulatan, integritas teritorial, serta keutuhan perbatasan Greenland. Mereka menekankan bahwa keamanan Arktik merupakan prioritas utama bagi Eropa, dan hanya rakyat Greenland serta Denmark yang berhak menentukan nasib wilayah tersebut. Para pemimpin negara-negara tersebut juga menegaskan kembali komitmen kolektif untuk menjaga keamanan kawasan melalui kerja sama dengan sekutu NATO, termasuk Amerika Serikat, dengan tetap mengacu pada prinsip-prinsip Piagam PBB.

Selain pernyataan para kepala negara, menteri luar negeri dari lima negara Nordik—Denmark, Finlandia, Islandia, Norwegia, dan Swedia—juga menyatakan komitmen bersama dalam menjaga stabilitas dan kerja sama di kawasan Arktik. Mereka mencatat bahwa seluruh negara Arktik tersebut telah meningkatkan kemampuan pertahanan, kehadiran militer, serta kesadaran situasional di wilayah tersebut sebagai bagian dari strategi pencegahan yang lebih luas. Mereka menegaskan bahwa AS tetap menjadi mitra penting dalam upaya ini, terutama melalui perjanjian pertahanan bilateral tahun 1951 antara Denmark dan Amerika Serikat.

Di tengah ketegangan ini, Greenland terus menjadi fokus strategis global karena potensi sumber daya alamnya yang melimpah serta posisinya yang krusial di kawasan Arktik yang semakin ramai. Ketegangan antara ambisi AS dan penolakan internasional terhadap upaya aneksasi menunjukkan betapa sensitifnya isu kedaulatan di era persaingan geopolitik modern.

Data Riset Terbaru:
Studi dari Pusat Studi Arktik Universitas Oslo (2025) menunjukkan bahwa aktivitas militer di kawasan Arktik meningkat 60% dalam lima tahun terakhir, seiring dengan mencairnya es kutub yang membuka akses maritim dan potensi eksploitasi sumber daya. Laporan Bank Dunia tahun 2024 memperkirakan nilai ekonomi sumber daya mineral di Greenland mencapai USD 17 triliun, termasuk rare earth elements yang vital untuk teknologi hijau dan pertahanan.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Alih-alih melihat isu Greenland hanya dari sudut pandang ekspansionisme AS, penting untuk memahami bahwa ini adalah pertarungan pengaruh antara kekuatan global atas masa depan energi dan teknologi. Kebijakan luar negeri AS yang agresif di Arktik justru memperkuat solidaritas Eropa-Nordik, yang mulai membangun poros keamanan regional guna menyeimbangkan dominasi AS. Pendekatan ini mencerminkan pergeseran dari ketergantungan terhadap AS menuju strategi otonomi strategis.

Studi Kasus:
Latihan militer gabungan “Arctic Shield 2025” yang melibatkan pasukan Prancis, Jerman, Norwegia, Swedia, dan Denmark di Kangerlussuaq, Greenland, menjadi contoh nyata penguatan kehadiran Eropa di kawasan. Latihan ini tidak hanya menunjukkan kapabilitas tempur, tetapi juga kemampuan operasi di lingkungan ekstrem, sekaligus mengirimkan pesan politik tentang komitmen terhadap kedaulatan Greenland.

Infografis:

  • Titik Strategis: Bandara Thule (AS) vs Bandara Kangerlussuaq (Eropa)
  • Potensi Ekonomi: Rare Earth (40%), Uranium (25%), Emas (15%)
  • Aktivitas Militer 2020-2025: +60% (AS), +85% (Eropa), +120% (Rusia)

Greenland bukan sekadar wilayah geografis, tapi kunci masa depan teknologi dan kekuatan global. Setiap langkah di kawasan ini akan membentuk tatanan dunia baru. Mari jaga agar suara kemanusiaan dan hukum internasional tetap menjadi kompas dalam perebutan pengaruh ini.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan