Tambang Batu Bara cs Sumbang PNBP Rp 138 T di 2025

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Daftar Isi

Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membukukan kontribusi sektor pertambangan terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai ratusan triliun rupiah pada tahun 2025. Angka ini dilaporkan melebihi target yang telah ditetapkan oleh pemerintah, meskipun disebutkan terjadi dalam kondisi volatilitas harga komoditas global yang tidak stabil.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa PNBP dari sektor mineral dan batu bara (minerba) berhasil mencapai Rp 138,37 triliun. Angka ini setara dengan 108,56% dari target tahun 2025, menunjukkan kinerja yang melampaui harapan. Menurut Bahlil, pencapaian ini merupakan hasil kerja keras jajaran Kementerian ESDM, khususnya Direktorat Jenderal Minerba, di tengah tantangan harga batu bara yang kurang menggembirakan dan fluktuasi harga komoditas lainnya.

“Di saat harga komoditas lagi jatuh, batu bara harganya tidak terlalu mengembirakan, beberapa komoditas yang lain, tapi alhamdulillah, kerja dari Kementerian ESDM, saya ucapkan terima kasih kepada Dirjen yang telah bekerja luar biasa. Pencapaian target dari PNBP di sektor Minerba, itu mencapai 108,56%, melampaui target,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (8/1/2025).

Namun, Bahlil juga mengakui bahwa sektor minyak dan gas (migas) belum berhasil mencapai target PNBP. Pada tahun 2025, sektor ini hanya menyumbang PNBP sebesar Rp 105,04 triliun atau 83,7% dari target yang ditetapkan sebesar Rp 125,46 triliun. Menurutnya, penyebab utama ketidaksesuaian ini adalah perbedaan antara asumsi harga minyak dalam APBN dan realitas harga pasar dunia. Asumsi harga minyak dalam APBN ditetapkan pada level US$ 82 per barel, sementara harga rata-rata realisasi hanya mencapai US$ 68 per barel.

Meski demikian, kinerja lifting minyak nasional tahun ini berhasil mencapai target, yaitu sebesar 605,3 ribu barel per hari. “Untuk di sektor migas mencapai Rp 105,4 triliun dari target Rp 125 triliun. Jadi totalnya kurang lebih sekitar 83%. Ini untuk sektor migas. Alasannya apa? Karena sekali lagi, asumsi di APBN ICP itu US$ 82, tapi real-nya US$ 68. Lifting kita tercapai, tapi harganya memang lagi turun. Memang harga komunitas sekarang lagi turun semua,” jelasnya.

Secara keseluruhan, Bahlil mengungkapkan bahwa sektor energi, yang terdiri dari minerba dan migas, memberikan kontribusi sekitar Rp 240 triliun terhadap penerimaan negara. Ia juga menekankan bahwa kontribusi sektor energi terhadap APBN mencapai sekitar 16%, bahkan sebelum memasukkan komponen lain seperti PPh 21 dan berbagai pajak tambahan.

“Belum pada sektor PPh 21, pajak-pajak yang lain, itu belum masuk. Jadi kurang lebih kontribusi di sektor ESDM terhadap APBN itu 15% sampai 16%,” pungkasnya.

Data Riset Terbaru:
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor komoditas pertambangan Indonesia pada tahun 2025 mencatatkan pertumbuhan sebesar 12,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh permintaan global yang stabil terhadap batu bara dan nikel, meskipun harga komoditas mengalami fluktuasi. Selain itu, studi dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) menunjukkan bahwa transisi energi global masih memberikan ruang bagi batu bara dalam jangka pendek, terutama di kawasan Asia Tenggara yang masih bergantung pada pembangkit listrik berbasis batu bara.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Kinerja sektor energi dan pertambangan Indonesia tahun 2025 mencerminkan ketahanan di tengah tekanan global. Kenaikan PNBP minerba menunjukkan efektivitas kebijakan pemerintah dalam mengoptimalkan penerimaan negara, meskipun dihadapkan pada volatilitas harga. Namun, tantangan di sektor migas mengingatkan pentingnya diversifikasi pendapatan negara dan percepatan transisi energi untuk mengurangi ketergantungan pada harga minyak dunia yang tidak stabil.

Studi Kasus:
Sebagai contoh, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) berhasil meningkatkan produksi batu bara sebesar 8% pada tahun 2025 meskipun harga batu bara global turun. Perusahaan ini mampu mempertahankan profitabilitas melalui efisiensi operasional dan diversifikasi pasar ekspor ke negara-negara di Asia Selatan dan Tenggara.

Infografis:

  • PNBP Minerba 2025: Rp 138,37 triliun (108,56% dari target)
  • PNBP Migas 2025: Rp 105,04 triliun (83,7% dari target)
  • Target PNBP Migas 2025: Rp 125,46 triliun
  • Kontribusi sektor ESDM terhadap APBN: 15-16%
  • Asumsi harga minyak dalam APBN: US$ 82 per barel
  • Realisasi harga minyak rata-rata: US$ 68 per barel

Capaian luar biasa ini membuktikan bahwa sektor energi dan pertambangan tetap menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Dengan strategi yang tepat, kolaborasi yang kuat, dan inovasi yang berkelanjutan, Indonesia mampu menghadapi tantangan global sekaligus memanfaatkan peluang untuk memperkuat ketahanan energi dan kemandirian ekonomi. Mari terus dukung upaya pemerintah dalam mengoptimalkan potensi sumber daya alam untuk kemakmuran rakyat.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan