Relasi Kereta Api Garut–Jawa Tengah Masih Tanda Tanya, Meski Minat Warga Tinggi Kajian Ekonomi Tetap Jadi Penentu

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Stasiun Kereta Api Garut menjadi sorotan setelah wacana penambahan relasi menuju Jawa Tengah kembali mencuat. Antusiasme masyarakat pun meningkat seiring tren penggunaan transportasi rel yang terus naik dalam beberapa tahun belakangan. Namun, wacana tersebut masih menunggu kajian ekonomi dari pihak operator sebelum benar-benar direalisasikan.

Pemerintah Kabupaten Garut telah mengirimkan usulan pembukaan rute baru kepada PT Kereta Api Indonesia (KAI). Rute tersebut diharapkan dapat memperluas aksesibilitas Garut ke sejumlah kota di Jawa Tengah, termasuk destinasi wisata populer seperti Yogyakarta. Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Garut, Satria Budi, menegaskan bahwa pihaknya hanya berperan sebagai pengusul. Keputusan akhir berada di tangan PT KAI yang harus mempertimbangkan kelayakan operasional dan aspek keuntungan.

Hingga kini, belum ada kejelasan lebih lanjut terkait kapan rencana tersebut akan terealisasi. “Mungkin ada perhitungan ekonomis oleh Daop 2 Bandung,” ujarnya pada Kamis, 8 Januari 2026. Sebagai bagian dari proses penjajakan, PT KAI juga telah menyebarkan kuesioner kepada masyarakat untuk mengukur minat terhadap rute baru ini. Langkah tersebut menjadi indikator awal dalam menilai potensi pasar.

Stasiun Garut bukan pemain baru dalam layanan kereta api. Jalur Cibatu–Garut kembali diaktifkan pada Maret 2022, menghidupkan kembali transportasi rel di wilayah ini. Sejak saat itu, layanan terus berkembang, dari KA lokal hingga jarak jauh. Saat ini, terdapat empat keberangkatan rutin setiap hari dari Stasiun Garut. Dua di antaranya adalah KA lokal Cibatuan dengan tujuan akhir Purwakarta. Sementara dua lainnya merupakan KA jarak jauh, yakni KA Cikuray yang menuju Pasar Senen dan KA Papandayan yang melayani rute hingga Stasiun Gambir. Perkembangan layanan ini mencerminkan bahwa permintaan perjalanan kereta dari dan menuju Garut terus meningkat.

Data Riset Terbaru:
Riset tahun 2025 dari Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan mencatat pertumbuhan penumpang kereta api di wilayah Jawa Barat mencapai 12% per tahun. Stasiun Garut menjadi salah satu stasiun dengan pertumbuhan penumpang tertinggi, terutama pada akhir pekan dan musim liburan. Survei kepuasan penumpang di Stasiun Garut juga menunjukkan angka 87%, dengan alasan utama adalah kenyamanan dan ketepatan waktu.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Konektivitas Garut ke Jawa Tengah bukan hanya soal transportasi, tetapi juga ekonomi. Jawa Tengah, khususnya Yogyakarta, menjadi destinasi wisata dan pendidikan favorit. Dengan rute kereta api, mobilitas masyarakat akan lebih efisien, biaya transportasi lebih terjangkau, dan dampaknya pada sektor pariwisata dan UMKM di Garut akan signifikan. Selain itu, integrasi transportasi antar wilayah dapat mengurangi kemacetan jalan raya dan emisi karbon.

Studi Kasus:
Kota Bandung menjadi contoh sukses konektivitas kereta api. Sejak diaktifkannya KA Bandung Raya (KAI Commuter), mobilitas antar kota di Jawa Barat meningkat drastis. Pertumbuhan ekonomi di sektor kuliner, fashion, dan pariwisata pun melonjak. Hal serupa berpotensi terjadi di Garut jika rute ke Jawa Tengah terealisasi.

Infografis:

  • Jumlah penumpang KA di Stasiun Garut (2023): 1,2 juta orang
  • Jumlah penumpang KA di Stasiun Garut (2024): 1,35 juta orang
  • Pertumbuhan penumpang: 12% per tahun
  • Rute yang diusulkan: Garut–Yogyakarta
  • Estimasi waktu tempuh: 6–7 jam
  • Potensi penumpang tahunan: 500 ribu orang

Konektivitas bukan hanya soal sampai ke tujuan, tetapi juga membuka peluang. Rute kereta api Garut–Jawa Tengah bisa menjadi kunci pertumbuhan ekonomi, pariwisata, dan pendidikan. Mari dukung inisiatif ini dengan partisipasi aktif, memberikan masukan, dan memanfaatkan transportasi massal secara optimal. Masa depan Garut cerah, dimulai dari satu rel yang menghubungkan mimpi.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan