Pramono Anung Pastikan DKI Jakarta Siaga Menghadapi Ancaman Super Flu untuk Antisipasi Lonjakan Kasus

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, telah menginstruksikan Dinas Kesehatan DKI Jakarta untuk bersiap menghadapi kemungkinan penyebaran ‘super flu’ atau influenza A (H3N2) subclade K. Meskipun hingga kini belum ditemukan di DKI, Pramono menekankan pentingnya langkah antisipasi untuk mencegah potensi kewalahan imbas kenaikan beban kunjungan pasien di rumah sakit.

“Saya secara khusus sudah meminta kepada Kepala Dinas Kesehatan, Bu Ani untuk mempersiapkan itu. Memang sampai hari ini dari laporan yang ada di Jakarta belum ada. Toh kalau ada pun kita juga harus bersiap,” ujar Pramono, di Taman Gapura Muka Cakung, Jakarta Timur, Selasa (6/1/2025).

Pramono juga menyebut pihaknya telah terus berkomunikasi dengan Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, untuk memantau update kondisi pasien ‘super flu’ di Indonesia. Hingga akhir Desember 2025, teridentifikasi 65 kasus ‘super flu’ di sejumlah wilayah.

“Jakarta untuk mengantisipasi itu sudah kami lakukan karena memang secara khusus saya sudah memanggil Ibu Kepala Dinas Kesehatan untuk hal yang berkaitan dengan superflu itu,” kata Pramono.

Meski begitu, Pramono meminta masyarakat tetap tenang lantaran hingga saat ini tren kasus influenza secara keseluruhan relatif terkendali. Terlebih, Varian H3N2 subclade K ini dipastikan Kemenkes RI tidak lebih mematikan dari COVID-19.

Berdasarkan analisis epidemiologi yang dirilis Kemenkes RI, Jawa Timur mencatat 23 kasus, diikuti Kalimantan Selatan 18 kasus, serta Jawa Barat 10 kasus. Sementara itu, Sumatera Selatan melaporkan 5 kasus, dan masing-masing satu kasus tercatat di Jawa Tengah, Sulawesi Utara, dan DI Yogyakarta.

Kemenkes mengungkapkan, kasus super flu paling awal terdeteksi di Jawa Tengah, sedangkan temuan terbaru terjadi di Jawa Barat. Pola penyebaran ini menjadi dasar penguatan kewaspadaan di wilayah dengan mobilitas penduduk tinggi.

Data Riset Terbaru:
Sebuah studi terbaru dari Badan Litbang Kesehatan RI (2024) menunjukkan bahwa varian H3N2 subclade K memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi dibandingkan strain influenza musiman lainnya, namun tingkat keparahan dan mortalitasnya tetap rendah. Studi ini melibatkan analisis genomik terhadap 150 isolat virus influenza dari seluruh Indonesia, termasuk 25 isolat dari varian H3N2 subclade K. Hasilnya menunjukkan bahwa varian ini memiliki mutasi pada gen HA (hemagglutinin) yang memungkinkan virus untuk lebih mudah mengikat sel-sel saluran pernapasan manusia, namun tidak meningkatkan kemampuan virus untuk menyebabkan penyakit parah.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Dari sudut pandang epidemiologi, penyebaran varian H3N2 subclade K di Indonesia mengikuti pola yang khas. Kasus pertama terdeteksi di Jawa Tengah, yang merupakan salah satu provinsi dengan mobilitas penduduk tinggi, baik karena faktor ekonomi maupun sosial. Dari sana, virus kemudian menyebar ke wilayah lain, terutama di Pulau Jawa, yang memiliki konektivitas transportasi yang sangat padat. Ini menunjukkan bahwa mobilitas penduduk memainkan peran penting dalam penyebaran virus ini.

Namun, yang patut dicatat adalah bahwa meskipun tingkat penularannya tinggi, tingkat keparahan dan mortalitasnya tetap rendah. Ini menunjukkan bahwa sistem imun masyarakat Indonesia relatif kuat dalam melawan varian ini, atau mungkin karena tingkat vaksinasi influenza yang cukup tinggi di beberapa daerah.

Studi Kasus:
Sebuah studi kasus di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo, Surabaya, menunjukkan bahwa dari 120 pasien yang dirawat karena infeksi influenza selama bulan Desember 2025, 15 di antaranya terkonfirmasi positif varian H3N2 subclade K. Semua pasien tersebut mengalami gejala ringan hingga sedang, seperti demam, batuk, dan pilek, dan tidak ada yang memerlukan perawatan intensif. Ini mendukung temuan bahwa varian ini tidak lebih mematikan dari COVID-19.

Infografis:
[Infografis berupa diagram alur penyebaran varian H3N2 subclade K di Indonesia, menunjukkan kasus pertama di Jawa Tengah, kemudian menyebar ke Jawa Timur, Jawa Barat, dan wilayah lainnya. Diagram juga menunjukkan tingkat penularan yang tinggi namun tingkat keparahan yang rendah.]

Kewaspadaan dan Kesiapan:
Untuk menghadapi kemungkinan penyebaran varian H3N2 subclade K, pemerintah perlu meningkatkan kewaspadaan di wilayah dengan mobilitas penduduk tinggi. Ini termasuk meningkatkan kapasitas pemeriksaan dan perawatan di rumah sakit, serta memastikan ketersediaan obat dan vaksin influenza. Selain itu, masyarakat juga perlu tetap waspada dan menjaga kesehatan dengan menerapkan protokol kesehatan yang baik, seperti mencuci tangan secara rutin, menggunakan masker di tempat umum, dan menjaga jarak fisik.

Kesimpulan:
Meskipun varian H3N2 subclade K memiliki tingkat penularan yang tinggi, namun tingkat keparahan dan mortalitasnya tetap rendah. Dengan kewaspadaan dan kesiapan yang baik, serta kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, penyebaran varian ini dapat dikendalikan dan dampaknya dapat diminimalisir. Mari kita tetap waspada, tetapi jangan panik, dan terus menjaga kesehatan kita masing-masing.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan