Pemerintah Indonesia tengah mengupayakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebagai bagian dari strategi ketenagalistrikan nasional. Berdasarkan dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) periode 2025-2034, dua lokasi utama yang masuk dalam kajian adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Kalimantan Barat. Meski demikian, penetapan lokasi final masih menunggu hasil kajian lebih lanjut.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa meskipun data pendukung paling lengkap saat ini tersedia di Bangka Belitung, Kalimantan Barat juga telah melakukan kajian awal seperti pra-studi kelayakan. Ia menekankan bahwa opsi lokasi lain yang potensial tetap dipertimbangkan selama memenuhi syarat teknis dan keselamatan.
“Ada dua lokasi yang disebutkan di RUPTL. Data paling banyak di Bangka, tapi Kalbar juga sudah ada kajian awal. Kalau lokasi lain juga memungkinkan, kenapa tidak?” ujar Eniya dalam sesi wawancara di Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Selain dua lokasi utama tersebut, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) sebelumnya telah mengidentifikasi 28 calon lokasi yang layak secara teknis untuk pembangunan PLTN. Namun, tantangan utama yang dihadapi bukan hanya pemilihan tapak, melainkan ketersediaan off-taker atau pembeli listrik. Kepastian ini menjadi syarat penting dalam studi kelayakan (FS) sebelum proyek dilanjutkan.
“Ada daftar 28 lokasi yang pernah ditelaah oleh BATAN. Tapi masalah utamanya adalah off-taker. Mau duluan Kalbar, Bangka, atau lokasi lain, harus ada yang menjamin menyerap listriknya. Ini yang akan dipastikan dalam FS,” tambah Eniya.
Dalam pengembangan teknologi nuklir, sejumlah negara maju telah menawarkan kerja sama kepada Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Rusia, Amerika Serikat, dan Kanada, yang telah melakukan pendekatan dan diskusi teknis dengan pemerintah.
“Kemarin Amerika datang, Kanada juga datang. Ramai,” ucapnya.
Langkah strategis lainnya adalah pembentukan Organisasi Pelaksana Program Energi Nuklir (Nuclear Energy Program Implementation Organization/NEPIO) melalui Peraturan Presiden (Perpres). Saat ini, Perpres tersebut sedang menunggu tanda tangan resmi dari Presiden.
“Perpres sekarang ada di meja Presiden. Tinggal tunggu turun,” kata Eniya.
Setelah Perpres disahkan, Kementerian ESDM akan segera menerbitkan Keputusan Menteri (Kepmen) sebagai aturan pelaksana. Dalam kerangka ini, akan dibentuk enam kelompok kerja (pokja) yang masing-masing fokus pada aspek berbeda seperti penentuan lokasi, perizinan, keselamatan nuklir, sumber daya manusia, kerja sama internasional, dan pembiayaan.
“Setelah Kepmen terbit, akan ada 6 pokja. Masing-masing punya tugas spesifik: menentukan tapak, mengurus perizinan, mengelola pendanaan, dan sebagainya,” jelas Eniya.
Komitmen pemerintah terhadap energi nuklir menunjukkan keseriusan dalam diversifikasi sumber energi nasional. Dengan potensi listrik yang besar dan emisi karbon rendah, PLTN diharapkan menjadi bagian dari bauran energi bersih Indonesia di masa depan. Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada kesiapan regulasi, keterlibatan pihak swasta, serta dukungan masyarakat.
Data Riset Terbaru
Berdasarkan laporan International Atomic Energy Agency (IAEA) 2025, sebanyak 32 negara di dunia saat ini memiliki 413 reaktor nuklir yang beroperasi, dengan total kapasitas mencapai 393 gigawatt listrik (GWe). Asia menjadi kawasan dengan pertumbuhan tercepat, dengan China, India, dan Korea Selatan memimpin pembangunan reaktor baru. IAEA memproyeksikan kebutuhan listrik global akan meningkat 60% pada 2050, dan energi nuklir diprediksi akan memenuhi 12% dari kebutuhan tersebut. Di Asia Tenggara, Vietnam telah memulai pembangunan PLTN pertamanya di Ninh Thuan dengan dukungan teknologi Rusia, sementara Filipina sedang mengkaji ulang reaktor Bataan yang sempat mangkrak.
Sebuah studi dari ASEAN Centre for Energy (ACE) 2024 menemukan bahwa potensi energi nuklir di kawasan ASEAN mencapai 100 GWe, dengan Indonesia memiliki sumber daya thorium sekitar 140.000 ton dan uranium sekitar 71.000 ton. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa biaya pembangkitan listrik dari nuklir (LCOE) di negara berkembang Asia rata-rata sekitar US$ 68-92 per MWh, lebih kompetitif dibandingkan pembangkit batubara dengan carbon capture and storage (CCS) yang mencapai US$ 100-130 per MWh.
Analisis Unik dan Simplifikasi
Energi nuklir sering dianggap rumit dan menakutkan oleh masyarakat awam. Padahal, prinsip dasarnya sederhana: memanfaatkan panas dari reaksi fisi atom untuk menghasilkan uap, yang kemudian menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik. Berbeda dengan pembangkit fosil yang membakar bahan bakar, reaktor nuklir tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca selama operasi.
Salah satu keunggulan utama energi nuklir adalah kestabilannya. Berbeda dengan energi terbarukan seperti solar dan angin yang bergantung pada cuaca, PLTN dapat beroperasi 24 jam sehari dengan faktor kapasitas di atas 90%. Artinya, dari 1.000 MW kapasitas terpasang, PLTN bisa menghasilkan listrik hampir 900 MW secara konsisten. Ini sangat penting untuk menopang beban dasar (base load) sistem kelistrikan.
Dari segi lahan, PLTN jauh lebih efisien. Sebuah PLTN 1.000 MW hanya membutuhkan sekitar 40 hektar, sementara pembangkit surya 1.000 MW membutuhkan 5.000-10.000 hektar. Dalam konteks Indonesia yang padat penduduk dan rawan bencana alam, efisiensi lahan ini menjadi nilai tambah signifikan.
Mengenai keamanan, teknologi reaktor generasi ketiga dan keempat telah dilengkapi sistem keselamatan pasif yang tidak memerlukan daya listrik eksternal. Reaktor jenis Small Modular Reactor (SMR) bahkan dirancang untuk mati secara alami jika terjadi gangguan, tanpa risiko ledakan seperti di Chernobyl atau Fukushima.
Studi Kasus: Suksesnya PLTN di Korea Selatan
Korea Selatan menjadi contoh sukses adopsi energi nuklir. Dari tahun 1978 hingga 2023, negara ini membangun 25 unit reaktor dengan total kapasitas 24,5 GWe. Kini, nuklir memasok sekitar 30% kebutuhan listrik nasional. Kunci keberhasilannya adalah konsistensi kebijakan jangka panjang, kerja sama erat antara pemerintah, Badan Tenaga Nuklir Korea (KAERI), dan perusahaan konstruksi seperti KEPCO.
Korea juga sukses mengekspor teknologinya. Pada 2010, KEPCO memenangkan kontrak US$ 20 miliar untuk membangun 4 unit reaktor APR-1400 di Uni Emirat Arab. Proyek ini selesai tepat waktu dan sesuai anggaran, membuktikan kemampuan teknologi nuklir Korea di kancah internasional.
Yang menarik, Korea tidak memiliki sumber daya uranium. Mereka mengimpor bahan baku dari Australia, Kazakhstan, dan Kanada. Namun, dengan teknologi daur ulang dan reaktor fast breeder, mereka mampu memaksimalkan efisiensi bahan bakar hingga 60 kali lipat dibanding reaktor konvensional.
Infografis: Perbandingan Energi Nuklir vs Energi Fosil vs Energi Terbarukan
-
Emisi CO2 (gram per kWh)
- Nuklir: 12
- Batubara: 820
- Gas: 490
- Surya: 45
- Angin: 11
-
Faktor Kapasitas
- Nuklir: 92%
- Batubara: 60%
- Gas: 55%
- Surya: 25%
- Angin: 35%
-
Luas Lahan (hektar per GWe)
- Nuklir: 40
- Batubara: 360
- Surya: 5.000-10.000
- Angin: 1.000-2.000
-
Biaya Operasi (US$ per MWh)
- Nuklir: 29
- Batubara: 40
- Gas: 50
- Surya: 37
- Angin: 39
Energi nuklir bukan solusi tunggal, tapi bagian penting dari transisi energi yang andal dan berkelanjutan. Dengan perencanaan matang, regulasi ketat, dan partisipasi publik, Indonesia bisa mengikuti jejak negara-negara sukses dalam menguasai teknologi masa depan ini. Kini saatnya kita berpikir jauh ke depan: bukan hanya listrik untuk hari ini, tapi energi bersih untuk generasi mendatang.
Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.