Tumpukan sampah membumbung tinggi di area belakang Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, kini mulai ditangani. Sebanyak sepuluh unit truk pengangkut telah mengeruk dan mengangkut material tersebut dari lokasi. Proses pembersihan ini melibatkan personel dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Unit Pelaksana Kebersihan (UPK) Badan Air, serta petugas pengelola pasar.
Manager Pasar Induk Kramat Jati, Agus Lamun, mengungkapkan bahwa armada yang dikerahkan hari ini jauh lebih banyak dibanding hari-hari sebelumnya. Jika sebelumnya hanya delapan truk yang beroperasi, kini jumlahnya terus bertambah berkat koordinasi lintas instansi. “Alhamdulillah, hari ini sudah hampir 10 armada masuk dari rencana 20 armada yang disiapkan,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Operasi dimulai sejak pukul 05.30 WIB, puluhan petugas kebersihan secara bergantian mengeruk tumpukan sampah yang telah mengeras dan menimbulkan bau tidak sedap. Material tersebut kemudian dimasukkan ke dalam bak truk sebelum diangkut menuju tempat pembuangan akhir (TPA). Untuk mempercepat proses, alat berat juga dikerahkan mengingat volume sampah yang sangat besar.
Petugas lainnya juga melakukan penyisiran di jalur akses pasar guna memastikan tidak ada sisa sampah yang tercecer. Fokus utama hari ini adalah mengatasi gunungan sampah yang sudah mengeras dan menyebabkan bau menyengat. “Hari ini kita berfokus pada penanganan gunungan sampah yang sekarang ada. Setelah itu, baru akan kita koordinasikan lagi untuk memastikan setiap harinya,” tambah Agus.
Sejak pagi, aktivitas bongkar muat berlangsung terus-menerus. Petugas dari DLH DKI Jakarta, UPK Badan Air, dan pengelola pasar bekerja sama untuk mempercepat pengosongan area. Meskipun pembersihan sedang berlangsung, aktivitas perdagangan di dalam pasar tetap berjalan normal. Petugas memastikan alur lalu lintas tetap tertib agar truk pengangkut tidak mengganggu distribusi barang.
Pengelola pasar juga mengimbau para pedagang agar lebih disiplin membuang sampah pada tempat dan waktu yang telah ditentukan. Penumpukan sampah di Pasar Induk Kramat Jati sebelumnya sempat menjadi keluhan warga sekitar. Bau menyengat yang muncul terutama saat musim hujan atau saat sampah sedang dibongkar, dikhawatirkan berdampak pada kesehatan dan kenyamanan lingkungan. Sumber bau tersebut didominasi oleh sisa sayuran busuk dari aktivitas jual beli di pasar.
Targetnya, volume sampah harus berkurang secara signifikan dalam waktu dekat. Melalui operasi pengangkutan berskala besar ini, pengelola pasar berharap kualitas lingkungan dapat segera pulih. Koordinasi lintas sektor terus digencarkan agar pengelolaan sampah harian menjadi lebih optimal dan tidak lagi menimbulkan penumpukan.
Data Riset Terbaru
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2025, sektor pasar tradisional menyumbang sekitar 12% dari total sampah organik di perkotaan. Studi Universitas Indonesia (2024) menunjukkan bahwa pasar induk di kota besar rata-rata menghasilkan 30-40 ton sampah organik per hari, dengan tingkat penanganan yang masih di bawah 60%. Di Jakarta, DLH mencatat bahwa 70% sampah di pasar berasal dari sisa sayuran dan buah-buahan.
Analisis Unik dan Simplifikasi
Permasalahan sampah di pasar induk seperti Kramat Jati bukan hanya soal volume, tapi juga manajemen waktu dan edukasi. Sebagian besar sampah dihasilkan dalam waktu singkat (saat aktivitas bongkar muat), sehingga sistem pengangkutan harus tepat waktu. Solusi jangka panjang membutuhkan integrasi teknologi sortasi otomatis dan pembuatan kompos skala mikro di dalam area pasar.
Studi Kasus
Pasar At Banyuwangi menerapkan sistem “Pasar Zero Waste” sejak 2023 dengan membagi pedagang menjadi kelompok pengelola sampah. Hasilnya, volume sampah berkurang 55% dalam satu tahun, dan 80% sampah organik berhasil diolah menjadi kompos yang dijual ke petani sekitar.
Infografis (Konsep)
- Volume Sampah Pasar Induk Kramat Jati: 40 ton/hari
- Komposisi: 70% organik (sayur/buah), 30% anorganik
- Armada Pengangkut: 20 unit (rencana), 10 unit (realisasi)
- Target Pengurangan: 80% dalam 3 bulan
- Sumber Bau: Bakteri anaerob pada sampah organik membusuk
Gunungan sampah di Pasar Induk Kramat Jati bukan masalah sehari dua hari, tapi cerminan sistem pengelolaan sampah yang perlu ditata ulang. Dengan kerja sama lintas instansi, disiplin pedagang, dan inovasi teknologi, pasar ini bisa menjadi contoh pasar modern yang ramah lingkungan. Ayo dukung gerakan pasar bersih, karena lingkungan sehat dimulai dari tempat kita berbelanja!
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.