Bayangkan demensia, penyakit yang biasanya menghantui para lansia, tiba-tiba merenggut kehidupan seorang pemuda berusia 24 tahun. Ini bukan kisah fiksi, tapi kenyataan pahit yang dialami oleh Andre Yarham dan keluarganya. Pemuda berusia 24 tahun asal Inggris ini meninggal dunia pada 27 Desember, hanya sekitar setahun setelah menerima diagnosis Frontotemporal Dementia (FTD) atau demensia frontotemporal pada usia 23 tahun. Ini adalah pengingat yang menyedihkan bahwa penyakit ini bisa menyerang siapa saja, bahkan di usia yang sangat produktif.
Dunia Andre mulai runtuh perlahan ketika gejala-gejala awal yang tampak sepele mulai muncul. Ibunya, Sam Fairbairn, mulai merasa ada yang tidak beres ketika putra yang biasanya ceria dan suka bercakap-cakap itu tiba-tiba menjadi pelupa dan pendiam. Andre mulai memberikan jawaban singkat saat diajak bicara, bahkan sering menunjukkan ekspresi wajah yang kosong. Gejala-gejala ini bukan sekadar kelelahan atau stres, melainkan tanda awal dari sebuah kondisi yang jauh lebih serius.
Pemeriksaan MRI pada Oktober 2023 mengungkap kenyataan yang mengejutkan. Otak Andre mengalami atrofi atau penyusutan, khususnya di lobus frontal. Dokter konsultan bahkan menggambarkan bahwa hasil pemindaian otak Andre saat itu sangat mirip dengan otak seseorang yang berusia 70 tahun. Penyakit ini ternyata dipicu oleh sebuah mutasi protein genetik yang sangat langka, sebuah “hadiah” yang tak diinginkan dari alam bawah sadar genetiknya.
Meskipun kondisi fisik Andre semakin melemah, keluarganya tidak menyerah. Mereka berusaha memenuhi beberapa keinginan Andre dalam daftar bucket list-nya, termasuk menonton pertunjukan gulat langsung di Nottingham. Namun, pada September tahun lalu, kondisinya memburuk dengan cepat. Mobilitasnya menurun drastis hingga ia harus menggunakan kursi roda dan akhirnya dipindahkan ke fasilitas perawatan khusus. Sistem imunnya yang lemah pun tak mampu melawan infeksi yang menyerangnya, dan Andre akhirnya harus menjalani perawatan akhir hayat (end-of-life care). Ia meninggal tak lama setelah perayaan natal.
Sam Fairbairn menggambarkan demensia sebagai “penyakit paling kejam” karena tidak ada pengobatan yang mampu menyembuhkannya. Tidak ada obat yang bisa meredakan gejalanya. Yang bisa dilakukan keluarga hanyalah menyaksikan, berduka, dan kehilangan orang tersebut berulang kali, seolah-olah kehilangan mereka dalam tahap-tahap yang perlahan.
Namun, dalam kesedihan yang mendalam, keluarga Andre menemukan sebuah cara untuk memberikan makna pada penderitaan ini. Meskipun Andre kehilangan kemampuan bicaranya di akhir hidupnya, pihak keluarga yakin bahwa pemuda tersebut akan setuju untuk membantu orang lain. Mereka memutuskan untuk mendonasikan otak Andre ke Rumah Sakit Addenbrooke di Cambridge untuk kepentingan penelitian.
Sam berharap langkah ini bisa membantu para peneliti menemukan pengobatan, atau setidaknya cara untuk memperpanjang hidup penderita demensia lainnya di masa depan. Ia berharap bahwa riset ini, meskipun belum tentu menjadi obat penawar, bisa membuahkan pengobatan yang mampu memperpanjang umur seseorang, memberi mereka kesempatan untuk beberapa tahun lagi bersama orang-orang yang mereka cintai. Bagi Sam, itu akan menjadi sesuatu yang “sangat luar biasa”.
Belajar dari kisah tragis Andre, kita diingatkan bahwa demensia bukanlah musuh yang bisa dianggap remeh. Penyakit ini tidak pandang bulu, bisa menyerang siapa saja, kapan saja. Yang bisa kita lakukan adalah meningkatkan kesadaran, mendukung penelitian, dan merawat orang-orang tercinta dengan penuh cinta dan kasih sayang, selama mereka masih ada di samping kita. Jangan anggap remeh perubahan perilaku atau gejala kognitif, sekecil apa pun itu. Karena di balik gejala sepele bisa jadi tersembunyi sebuah kondisi serius yang membutuhkan penanganan medis segera.
Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.