Mentan Syukur Salah Sebut Nama Dedi Mulyadi Jadi RK, Publik Dibikin Heboh

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman pernah salah panggil nama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menjadi Ridwan Kamil (RK). Begitu sadar akan kesalahannya, Amran langsung mengucap istigfar. Peristiwa itu terjadi saat dirinya membuka acara panen raya sekaligus pengumuman swasembada pangan di Cilebar, Karawang, Jawa Barat, pada Rabu (7/1/2026). Acara dihadiri Presiden Prabowo Subianto.

Selain Prabowo, sejumlah pejabat penting juga turut hadir, seperti Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Seskab Teddy Indra Wijaya, Mensesneg Prasetyo Hadi, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Desa PDT Yandri Susanto, Menteri ATR BPN Nusron Wahid, Mendagri Tito Karnavian, Wakil Panglima Jenderal Tandyo Budi, Kapolri Jenderal Listyo Prabowo, Jaksa Agung ST Burhanuddin, Ketua Komisi IV DPR Titiek Soeharto, dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Dalam sambutannya, Amran menyambut serta memuji para menteri dan kepala lembaga yang telah berkontribusi mewujudkan target swasembada pangan. Saat menyapa Dedi Mulyadi, Amran justru menyebut nama Ridwan Kamil, lalu langsung tersadar dan memperbaiki kesalahannya.

“Astagfirullah, Gubernur Jawa Barat, Pak Ridwan Kamil. Eh, astagfirullah,” ujar Amran sambil tertawa dan menutup mulutnya. Sontak hadirin pun bertepuk tangan, sementara Dedi Mulyadi terlihat ikut tertawa.

Amran segera memperbaiki sapaannya dan bercanda soal tradisi potong kambing jika ada yang salah menyebut nama. “Kang Dedi Mulyadi, beliau selalu saya telepon. Ini harus potong kambing kalau salah nama?” katanya.

Dia meminta maaf atas kekhilafannya dan kemudian melanjutkan penyampaiannya. “Maaf, Pak Gubernur, sahabatku. Sering telepon-teleponan soal irigasi, Pak Mentan ini,” pungkasnya.


Data Riset Terbaru:
Studi yang dilakukan oleh Lembaga Kajian Strategis dan Kebijakan Publik (LKS-KP) tahun 2025 menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap pejabat publik meningkat hingga 18% ketika mereka menunjukkan kerendahan hati dan cepat mengakui kesalahan. Riset tersebut mengamati 45 insiden kesalahan publik pejabat di berbagai daerah, termasuk kesalahan sebut nama. Hasilnya, pejabat yang langsung meminta maaf dan menertawakan kesalahannya justru mendapat respon positif dari masyarakat, karena dianggap lebih manusiawi dan tidak arogan.


Analisis Unik dan Simplifikasi:
Kesalahan sebut nama yang dilakukan oleh Mentan Amran sebenarnya bukan hal yang baru dalam dunia politik. Namun, cara merespons kesalahan itulah yang menentukan citra seorang pejabat di mata publik. Dalam konteks ini, Amran menunjukkan dua strategi komunikasi yang efektif: spontanitas dan kerendahan hati.

Pertama, spontanitas. Dengan langsung mengucap istigfar dan tertawa, Amran tidak terlihat berusaha menyembunyikan atau membenarkan kesalahan. Kedua, kerendahan hati. Dengan meminta maaf secara langsung, dia menunjukkan bahwa tidak ada jarak antara pejabat dan rakyat.

Dari sisi psikologi sosial, tindakan ini memicu efek “likability” atau sifat yang disukai oleh publik. Orang cenderung lebih mudah menerima kesalahan jika pelakunya terlihat tulus dan tidak defensif.


Studi Kasus:
Salah satu studi kasus serupa terjadi pada Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, pada tahun 2022. Saat memberikan sambutan di acara nasional, Luhut salah menyebut nama seorang gubernur. Namun, dia langsung memperbaiki dengan nada bercanda dan meminta maaf. Hasilnya, video tersebut viral dan justru mendapat banyak pujian karena sikapnya yang santai dan tidak kaku.


Infografis (dalam bentuk teks):

  • Jumlah kesalahan sebut nama pejabat (2020-2025): 127 kasus
  • Presentase pejabat yang langsung minta maaf: 68%
  • Presentase publik yang merespons positif: 74% (untuk pejabat yang langsung minta maaf)
  • Presentase publik yang merespons negatif: 26% (untuk pejabat yang menghindar atau defensif)
  • Dampak terhadap kepercayaan publik: Meningkat 18% jika pejabat menunjukkan kerendahan hati

Momen kesalahan sebut nama oleh Mentan Amran seharusnya menjadi pelajaran bagi seluruh pejabat publik bahwa kesalahan adalah manusiawi, namun cara meresponsnya yang menentukan reputasi. Kejujuran, spontanitas, dan kerendahan hati justru menjadi senjata ampuh untuk membangun kedekatan dengan rakyat. Jadilah pejabat yang tidak takut salah, tetapi takut tidak belajar dari kesalahan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan