Maduro Klaim Masih Presiden Venezuela: Saya Diculik Sejak 3 Januari!

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Nicolas Maduro bersikeras bahwa dirinya masih menjabat sebagai Presiden Venezuela meskipun kini berada dalam tahanan pemerintah Amerika Serikat. Ia menghadapi dakwaan serius di Pengadilan Federal New York atas tuduhan perdagangan narkoba dan senjata ilegal. Dalam sidang yang digelar pada Selasa (6/1/2026), Maduro mengaku tidak bersalah atas seluruh tuduhan yang dituduhkan kepadanya.

“Saya tidak bersalah. Saya tidak bersalah,” tegasnya dengan suara lembut namun tegas, menggunakan bahasa Spanyol melalui penerjemah. Ia mengenakan kemeja oranye tahanan dan celana panjang krem, tampak tersenyum tipis saat memasuki ruang sidang.

Maduro juga menyatakan dirinya telah diculik oleh pihak berwenang AS sejak Sabtu pekan lalu, tepatnya 3 Januari. “Saya Presiden Republik Venezuela dan saya diculik di sini sejak 3 Januari, Sabtu,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa penangkapan dilakukan secara paksa di kediamannya di Caracas, ibu kota Venezuela, dalam sebuah operasi militer besar-besaran yang melibatkan serangan udara, pesawat tempur, dan pengerahan angkatan laut AS.

Istri Maduro, Cilia Flores, turut hadir dalam sidang dan juga menyatakan tidak bersalah atas dakwaan yang sama. Hakim kemudian memerintahkan agar kedua pasangan tersebut tetap ditahan dan menetapkan tanggal sidang berikutnya pada 17 Maret mendatang.

Di tengah penahanan Maduro, gelombang dukungan muncul di Venezuela. Ribuan warga turun ke jalan di Caracas dalam aksi unjuk rasa mendukung presiden mereka. Sementara itu, Delcy Rodriguez, mantan wakil presiden, telah dilantik sebagai presiden sementara untuk mengisi kekosongan jabatan.

Data Riset Terbaru:
Studi dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) tahun 2025 mengungkapkan bahwa Venezuela masih menjadi salah satu negara dengan tingkat perdagangan narkoba transnasional tertinggi di Amerika Latin, meskipun pemerintah setempat terus membantah keterlibatan pejabat tinggi dalam jaringan tersebut.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Kasus ini mencerminkan ketegangan geopolitik yang panjang antara AS dan Venezuela. AS selama ini menuduh pemerintah Maduro terlibat dalam jaringan obat terlarang dan mendukung kelompok bersenjata. Namun, pihak Venezuela selalu menganggap tuduhan ini sebagai bentuk intervensi politik dan upaya kudeta terhadap kedaulatan negara mereka.

Studi Kasus:
Operasi penculikan Maduro mirip dengan kasus penangkapan mantan Presiden Kuba, Manuel Noriega, pada 1989 oleh militer AS, yang juga dituduh terlibat dalam perdagangan narkoba. Namun, dalam konteks modern, operasi semacam ini menimbulkan debat internasional tentang hukum humaniter dan kedaulatan negara.

Infografis:

  • Tanggal Penangkapan: 3 Januari 2026
  • Tempat: Caracas, Venezuela
  • Dakwaan: Perdagangan narkoba dan senjata ilegal
  • Status: Tahanan di AS, sidang berikutnya 17 Maret 2026
  • Pengganti Sementara: Delcy Rodriguez

Kasus ini bukan sekadar persoalan hukum, melainkan pertarungan narasi antara kedaulatan nasional dan hukum internasional. Di tengah ketegangan yang memanas, dunia menunggu bagaimana proses hukum ini akan berjalan dan apa dampaknya terhadap stabilitas politik di wilayah Amerika Latin. Masyarakat global perlu memperhatikan agar proses ini berjalan adil tanpa intervensi politik yang dapat memperkeruh keadaan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan