Eropa Dilanda Suhu Beku, Perjalanan Antar Negara Kacau

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Salah satu momen paling menegangkan tahun 2025 terjadi di Eropa ketika suhu ekstrem turun drastis, menciptakan kondisi seperti zaman es yang melumpuhkan aktivitas di sejumlah negara. Pada awal Januari, suhu di berbagai kota Eropa jatuh ke angka minus belasan derajat Celsius dalam waktu singkat. Fenomena ini bukan sekadar cuaca dingin biasa—ini adalah badai salju dan es hitam yang menyebabkan kekacauan transportasi, memicu kecelakaan mematikan, dan mengganggu kehidupan sehari-hari jutaan orang.

Di Prancis, es hitam atau black ice menjadi ancaman tak terlihat di jalan-jalan kota. Lapisan tipis es transparan ini membuat permukaan jalan sangat licin dan hampir tak terdeteksi oleh pengemudi. Akibatnya, terjadi rangkaian kecelakaan lalu lintas yang memakan korban jiwa. Seorang sopir taksi tewas setelah kendaraannya tergelincir dan jatuh ke Sungai Marne. Penumpangnya selamat tetapi harus dirawat karena hipotermia. Di wilayah timur Paris, satu orang lainnya tewas dalam kecelakaan tabrakan antara mobil pribadi dan truk besar. Total korban meninggal akibat kondisi jalan yang membeku mencapai lima orang dalam dua hari pertama gelombang dingin.

Sementara itu, Inggris mencatat suhu terendah musim dingin 2025 di Norfolk, mencapai minus 12,5 derajat Celsius. Angka ini menjadi yang terdingin sejak musim dingin dimulai, dan membuat otoritas kesehatan khawatir akan risiko hipotermia dan masalah kardiovaskular pada lansia dan anak-anak. Meskipun bandara Liverpool dan Aberdeen kembali dibuka setelah ditutup sementara, dampak cuaca ekstrem masih terasa luas. Lebih dari 300 sekolah di Skotlandia terpaksa ditutup, dan jaringan kereta api mengalami penundaan massal. Pemerintah setempat mengimbau warga untuk bekerja dari rumah jika memungkinkan dan menghindari perjalanan tidak penting.

Di Belanda, suhu di bawah minus 10 derajat Celsius membuat sistem transportasi lumpuh. Jaringan kereta nasional sempat berhenti total karena rel membeku dan sistem perpindahan sinyal mengalami gangguan teknis, terutama di sekitar Amsterdam. Bandara Schiphol, salah satu hub penerbangan tersibuk di Eropa, mengalami hari kedua pembatalan penerbangan massal. Lebih dari 400 penerbangan dibatalkan atau terlambat, memengaruhi ratusan ribu penumpang yang sedang dalam perjalanan bisnis atau liburan musim dingin. Maskapai KLM mengakui kewalahan menangani lonjakan permintaan penjadwalan ulang, menyebut cuaca saat itu sebagai yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Jerman juga merasakan dampak serupa. Di bagian selatan dan timur negara, suhu jatuh jauh di bawah titik beku, sementara salju turun tebal dan menutupi jalan raya, jalur kereta, dan area perkotaan. Di Hungaria, salju lebat terus mengguyur selama dua hari, membuat sebagian besar jalan dan rel di wilayah timur laut tidak bisa dilalui. Otoritas Hungaria mengeluarkan peringatan agar warga hanya bepergian jika benar-benar mendesak.

Di Paris, salju yang turun pada Senin malam membeku sepanjang malam, menciptakan lapisan es tipis di trotoar dan jalan berbatu. Kawasan wisata seperti Montmartre, yang dikenal dengan tangga dan tanjakan curam, menjadi sangat berbahaya. Meskipun bandara utama Paris tetap beroperasi, beberapa bandara kecil di sekitar kota terpaksa ditutup sementara.

Peringatan cuaca ekstrem terus diperbarui oleh Badan Meteorologi Eropa. Diprediksi, badai pembawa salju akan kembali melanda Inggris, Prancis, dan Jerman pada akhir pekan. Di kawasan Balkan Barat, hujan dan salju lebat menyebabkan banjir bandang, pemadaman listrik, dan pohon tumbang. Di Sarajevo, seorang perempuan tewas tertimpa pohon yang roboh akibat beban salju basah yang menumpuk.

Dampak dari peristiwa ini tidak hanya terbatas pada sektor transportasi. Sektor kesehatan, pendidikan, dan ekonomi juga terganggu. Banyak pekerja tidak bisa masuk kantor, siswa belajar dari rumah, dan aktivitas bisnis mengalami penundaan. Namun, yang paling penting adalah kesadaran kolektif akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem. Pemerintah di berbagai negara kini memperkuat sistem peringatan dini, meningkatkan penyebaran informasi cuaca secara real-time, dan memperbaiki infrastruktur transportasi agar lebih tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem.

Peristiwa suhu beku di Eropa awal 2025 menjadi pengingat bahwa perubahan iklim tidak hanya soal pemanasan global, tetapi juga bisa memicu cuaca ekstrem dalam bentuk gelombang dingin yang mematikan. Dengan teknologi dan kerja sama internasional, dunia perlu terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi fenomena cuaca yang semakin tak menentu.

Data riset terbaru dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) menunjukkan bahwa frekuensi gelombang dingin ekstrem di Eropa bagian barat meningkat 40% dalam dekade terakhir. Studi ini mengaitkan peningkatan tersebut dengan perubahan pola sirkulasi atmosfer Arktik yang dipicu oleh pemanasan global. Peneliti dari Universitas Oxford juga menemukan bahwa black ice menjadi penyebab utama kecelakaan lalu lintas di musim dingin, terutama di kota-kota dengan infrastruktur jalan tua seperti Paris dan Budapest.

Studi kasus di Amsterdam menunjukkan bahwa sistem peringatan dini berbasis AI berhasil mengurangi kecelakaan lalu lintas selama musim dingin sebesar 25% pada 2024. Sementara itu, infografis dari Badan Meteorologi Eropa memperlihatkan bahwa suhu di bawah minus 10 derajat Celsius kini terjadi rata-rata 15 hari per musim dingin, naik dari 8 hari pada dekade sebelumnya. Ini menandakan bahwa Eropa perlu memperbarui strategi penanganan cuaca ekstrem secara menyeluruh.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan