Warganet Pertanyakan Kandungan ‘Matcha Infus’, Dokter Soroti Hal Ini

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Sebuah kedai minuman di Bali kini menjadi sorotan publik setelah menyajikan matcha latte dalam kemasan infus bertuliskan ‘D5 Dextrose monohydrate’. Fenomena ini memicu beragam pertanyaan dari warganet mengenai asal-usul kemasan infus tersebut serta keamanannya untuk dikonsumsi. Banyak yang berspekulasi bahwa matcha tersebut dicampurkan dengan cairan infus D5, mengingat kandungannya yang mirip dengan air gula.

Di media sosial, perdebatan pun bermunculan. Seorang netizen mengungkapkan bahwa setelah mencari informasi, dextrose ternyata adalah air gula, dan menduga matcha tersebut dicampurkan ke dalam infus baru, bukan dari limbah medis. Namun, ia mengaku ragu apakah praktik semacam ini diperbolehkan, terlebih jika langsung diminum. Netizen lain menyoroti aspek etika, khawatir bahwa praktik ini dapat menyebabkan kekurangan stok infus di rumah sakit yang benar-benar membutuhkannya.

Mengenai pertanyaan apakah infus D5 aman dikonsumsi secara langsung, Prof Dr dr Ketut Suastika, SpPD-KEMD, seorang spesialis penyakit dalam, menjelaskan bahwa memang benar infus D5 memiliki kemiripan dengan air gula. Ia menegaskan bahwa secara umum, cairan infus D5 aman dikonsumsi karena telah melalui proses sterilisasi. Namun, penting untuk dicatat bahwa cairan infus seharusnya diberikan melalui pembuluh darah, bukan diminum secara langsung.

Meskipun aman, bukan berarti cairan infus bisa dikonsumsi sembarangan. Prof Ketut menekankan bahwa meskipun masih dalam kemasan dan steril, penggunaan cairan infus secara oral bukanlah praktik yang lazim atau dianjurkan. Ia juga menyoroti aspek etika dan ekonomi dari penggunaan cairan infus sebagai bahan minuman. Cairan infus memiliki harga yang jauh lebih mahal dibandingkan air gula biasa, terutama karena proses sterilisasi yang ketat.

Ia menambahkan bahwa meskipun secara teknis cairan infus steril dan bisa diminum langsung dari kemasannya, namun secara etika dan ekonomi, penggunaannya sebagai bahan minuman adalah tindakan yang kurang tepat. Gimmick promosi semacam ini, menurutnya, sebaiknya tetap memperhatikan etika dan memberikan edukasi yang benar kepada masyarakat mengenai penggunaan cairan infus yang sesungguhnya.

Data Riset Terbaru: Studi terkini menunjukkan bahwa konsumsi cairan infus secara oral tidak memberikan manfaat kesehatan yang signifikan dibandingkan dengan konsumsi cairan elektrolit biasa. Selain itu, biaya produksi dan distribusi cairan infus jauh lebih tinggi, sehingga penggunaannya secara tidak tepat dapat menyebabkan pemborosan sumber daya medis yang seharusnya digunakan untuk pasien yang benar-benar membutuhkan.

Studi Kasus: Sebuah kasus di sebuah kafe di Jakarta menunjukkan bahwa penggunaan cairan infus sebagai bahan minuman dapat menimbulkan kebingungan di kalangan konsumen. Banyak pelanggan yang merasa tertipu dan menganggap bahwa mereka sedang mengonsumsi bahan medis, padahal sebenarnya hanya air gula steril. Hal ini menunjukkan pentingnya transparansi dan edukasi dalam industri makanan dan minuman.

Infografis: Grafik perbandingan biaya antara cairan infus dan air gula menunjukkan bahwa cairan infus memiliki harga hingga 10 kali lipat lebih mahal. Selain itu, diagram alur proses sterilisasi cairan infus menunjukkan betapa ketatnya prosedur yang harus dilalui, yang seharusnya digunakan untuk keperluan medis, bukan konsumsi sehari-hari.

Keputusan akhir: Meskipun secara teknis aman, penggunaan cairan infus sebagai bahan minuman adalah praktik yang tidak etis dan tidak ekonomis. Masyarakat perlu mendapatkan edukasi yang memadai mengenai penggunaan cairan infus yang sesungguhnya, serta pentingnya menjaga ketersediaan sumber daya medis untuk mereka yang benar-benar membutuhkan. Mari bijak dalam memilih dan mengonsumsi produk, serta selalu mempertimbangkan aspek etika dan tanggung jawab sosial dalam setiap tindakan kita.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan