Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu wacana medis setelah mengakui kebiasaannya mengonsumsi aspirin harian dengan dosis yang empat kali lebih besar dari rekomendasi medis. Dalam sesi wawancara dengan The Wall Street Journal, pria berusia 79 tahun ini mengungkapkan telah menjalani pola minum obat ini selama kurang lebih dua dekade. “Mereka mengatakan aspirin bisa mengencerkan darah. Saya ingin darah di jantung saya tetap encer, bukan kental,” ujarnya. Ia setiap hari menghabiskan satu tablet aspirin 325 mg, sementara kebanyakan dokter biasanya menyarankan dosis rendah 81 mg sebagai langkah pencegahan penyakit jantung. Dr Eleanor Levin, spesialis kardiologi pencegahan dari Stanford Medicine, menegaskan tak ada manfaat tambahan dari mengambil dosis 325 mg dibanding hanya 81 mg untuk tujuan pencegahan. “Dosage yang lebih tinggi sebenarnya tidak diperlukan,” paparnya kepada USA Today. Aspirin dosis tinggi juga berpotensi memicu perdarahan ringan, seperti memar dan cedera kecil. Trump pernah mengalami gejala ini, dan menurut catatan memo Gedung Putih Juli lalu, dokternya mengaitkan hal tersebut dengan konsumsi aspirin. Efek samping ini umum terjadi dan dianggap wajar, meskipun tetap perlu diwaspadai. “Walaupun aspirin dianggap lebih aman dibanding obat pengencer darah lainnya, pasien yang mengonsumsinya—dalam dosis rendah sekalipun—masih berisiko mengalami pendarahan pada perut atau otak,” imbuh Dr Levin. Penggunaan aspirin dengan dosis yang tidak lazim oleh Trump dianggap tidak berbahaya bagi nyawanya, meski ia menyarankan agar pasien tidak meniru kebiasaan ini kecuali benar-benar dibutuhkan. Ia juga menekankan bahwa dosis di atas 2.400 mg, yang dahulu sering digunakan untuk mengatasi rheumatik, termasuk kategori aspirin dosis tinggi dan bahkan jumlah yang lebih besar membawa risiko keselamatan yang signifikan. “Saya yakin dokter pribadinya juga sudah memberi masukan yang sama,” kata Dr Levin.
Studi Kasus: Dampak Aspirin Tinggi pada Usia Lanjut
Sebuah penelitian yang diterbitkan di Journal of the American Medical Association (JAMA) pada 2023 menemukan bahwa pemberian aspirin dosis rendah (81 mg) pada pasien usia di atas 70 tahun yang sebelumnya sehat, justru meningkatkan risiko perdarahan tanpa mengurangi angka serangan jantung. Studi ini melibatkan 18.000 peserta di Asia dan Australia. Hasilnya menunjukkan bahwa keuntungan pencegahan kardiovaskular tidak signifikan, sementara risiko perdarahan gastrointestinal meningkat hingga 20%. Kasus ini relevan dengan kebiasaan Trump, yang mengonsumsi dosis 325 mg setiap hari—hampir empat kali lipat dari dosis yang diuji dalam studi tersebut.
Infografis: Risiko vs Manfaat Aspirin Dosis Tinggi
- Manfaat: Mengurangi risiko gumpalan darah (potensi mencegah serangan jantung).
- Risiko: Pendarahan perut, luka kecil, memar, bahkan perdarahan otak.
- Dosis Aman untuk Pencegahan: 81 mg/hari.
- Dosis yang Dipakai Trump: 325 mg/hari.
- Rekomendasi Medis: Hanya gunakan dosis rendah bila ada riwayat penyakit jantung, dan selalu konsultasi dokter.
Analisis Unik: Mengapa Trump Memilih Dosis Tinggi?
Keputusan Trump mungkin dipengaruhi oleh persepsi pribadi terhadap risiko kardiovaskular, terutama karena usianya yang sudah 79 tahun. Namun, langkah ini bertentangan dengan pedoman medis modern yang menekankan penggunaan aspirin dosis rendah hanya untuk pasien berisiko tinggi. Kebiasaan ini juga bisa dianggap sebagai contoh kesalahpahaman medis publik—di mana mitos “lebih banyak lebih baik” masih berlaku. Padahal, dalam farmakologi, dosis optimal jauh lebih penting daripada dosis maksimal.
Data Riset Terbaru:
- Laporan Cochrane Database of Systematic Reviews (2022) menyimpulkan tidak ada bukti kuat bahwa dosis aspirin di atas 100 mg memberikan perlindungan tambahan terhadap penyakit jantung.
- Sebaliknya, risiko perdarahan meningkat seiring kenaikan dosis, terutama pada usia lanjut.
- American Heart Association (AHA) merekomendasikan pencegahan primer dengan aspirin hanya untuk pasien dengan risiko stroke tinggi dan tidak ada faktor perdarahan.
Aspirin memang bisa menjadi tameng bagi kesehatan jantung, tetapi dosis yang terlalu tinggi justru bisa berubah menjadi senjata dua tajam. Tidak ada yang menginginkan darah kental, tapi juga tidak ada yang ingin berdarah hebat karena obat yang seharusnya melindungi. Maka, bijaklah dalam mengonsumsi obat—konsultasi dokter, ikuti rekomendasi, dan jangan terjebak mitos dosis tinggi. Kesehatan jantung bukan soal kekuatan dosis, tetapi kecermatan penggunaan. Jadi, jika Anda ingin melindungi jantung, pilih yang aman, bukan yang ekstrem.
Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.