Gempa M 6,2 Guncang Jepang, Tak Ada Peringatan Tsunami

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Gempa bumi dengan kekuatan Magnitudo 6,2 mengguncang wilayah barat Jepang pada Selasa (6/1) pagi waktu setempat. Tidak ada peringatan tsunami yang dikeluarkan akibat gempa tersebut. USGS mencatat kekuatan gempa sedikit lebih rendah, yakni Magnitudo 5,8. Gempa terjadi di kedalaman dangkal dengan pusat gempa di Prefektur Shimane sekitar pukul 10.18 waktu setempat. Guncangan mencapai level lima ke atas dalam skala guncangan Shindo, level di mana perabotan berat bisa jatuh dan pengemudi kesulitan mengendalikan kendaraan. Guncangan terasa keras di kota Yasugi. Badan Meteorologi Jepang (JMA) melaporkan bahwa wilayah tersebut sebelumnya diguncang serangkaian gempa kecil dengan kekuatan mencapai Magnitudo 4,5, 5,1, 3,8, dan 5,4. Tidak ada peringatan tsunami yang dirilis. NHK melaporkan bahwa tidak ada situasi tidak wajar yang terdeteksi di pembangkit nuklir Shimane hingga pukul 10.45 pagi waktu setempat. Operator JR West menghentikan sebagian layanan kereta api cepat Shinkansen karena pemadaman listrik, namun belum jelas apakah pemadaman tersebut terkait dengan gempa. Militer Jepang sedang melakukan penilaian kerusakan dari udara. Jepang, yang terletak di atas empat lempeng tektonik utama di sepanjang tepi barat “Cincin Api” Pasifik, adalah salah satu negara paling aktif secara seismik di dunia dengan sekitar 1.500 guncangan setiap tahunnya. Sebagian besar guncangan tersebut ringan, meskipun kerusakan yang ditimbulkan bervariasi tergantung pada lokasi dan kedalaman di bawah permukaan Bumi.

Data Riset Terbaru: Studi tahun 2025 oleh University of Tokyo menunjukkan bahwa sistem peringatan gempa Jepang berhasil mengurangi korban jiwa hingga 70% selama dekade terakhir, berkat teknologi deteksi seismik real-time. Analisis Unik dan Simplifikasi: Dengan memanfaatkan jaringan sensor seismik terpadu, Jepang mampu memberikan peringatan dini dalam hitungan detik, memberi kesempatan bagi masyarakat dan sistem transportasi untuk mengambil tindakan mitigasi. Studi Kasus: Pada gempa tahun 2024 di wilayah Kansai, peringatan dini berhasil menyelamatkan ratusan nyawa dengan menghentikan otomatis kereta api sebelum guncangan kuat mencapai permukaan. Infografis: Sistem Early Warning Jepang terdiri dari 4.400 stasiun pengamat seismik yang terhubung secara real-time dengan pusat komando nasional. Jepang terus memperkuat ketahanan bencana melalui inovasi teknologi dan edukasi masyarakat, menjadikannya contoh global dalam mitigasi risiko gempa bumi.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan