Pemerintah Kota Tasikmalaya mengungkapkan bahwa sampah mikro berupa styrofoam atau polystyrene menjadi penyebab utama genangan air di beberapa wilayah kota. Hasil pengecekan di berbagai drainase menunjukkan pola yang hampir sama setiap kali dilakukan penyisiran. Fenomena ini bukan kejadian tiba-tiba, melainkan akibat yang nyata dari kebiasaan konsumsi sehari-hari masyarakat perkotaan. Styrofoam yang digunakan untuk kemasan makanan, wadah minuman, dan pelindung makanan di tingkat rumah tangga serta usaha kecil, lama-kelamaan hancur menjadi partikel kecil yang mudah terbawa air hujan. Partikel ini bergerak dari halaman rumah, selokan kecil, hingga akhirnya mengumpul di saluran drainase dan sungai.
Rino Isa Muharam, Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kota Tasikmalaya, mengatakan bahwa setiap penyisiran saluran selalu menemukan styrofoam mikro yang menghambat aliran air. Baik di pintu-pintu air maupun di jalur utama drainase, jenis sampah ini paling sering menjadi penyumbat. Pada Sabtu (3/1/2026), tim PUTR melakukan penyisiran sungai untuk memetakan titik luapan dan mencari akar penyebab genangan yang terus berulang saat hujan deras. Dari kegiatan tersebut, terungkap bahwa hujan bukan satu-satunya pemicu. Penumpukan sampah dan sedimentasi justru menjadi faktor yang konsisten memperparah situasi.
Ironisnya, meski saluran air baru saja dibersihkan, dalam waktu singkat kembali dipenuhi sampah. Rino mengatakan pembersihan terakhir dilakukan pada 1 Januari 2026, namun hanya dua hari setelahnya, saluran kembali tersumbat. Sampah rumah tangga yang seharusnya ditempatkan di tempat pembuangan, terus saja mencari jalannya menuju saluran air. Hal ini didukung oleh data komposisi sampah di Kota Tasikmalaya. Feri Arif Maulana, Kepala Bidang Pengelola Sampah Dinas Lingkungan Hidup, mengatakan dalam operasi pembersihan di Sungai Cibadodon Jalan HZ Mustofa dan saluran Ciromban Jalan Sutisna Senjaya, tim mengangkut dua kontainer atau sekitar 12 meter kubik sampah. “Plastik, terutama kemasan styrofoam sekali pakai, mendominasi,” ujar Feri.
Menurut data yang dihimpun, komposisi sampah terdiri dari: sampah makanan sebesar 34,93 persen, dan sisanya didominasi oleh limbah plastik, termasuk styrofoam yang sulit terurai.
Data Riset Terbaru:
Studi terbaru dari Institut Teknologi Bandung (ITB) 2025 menunjukkan bahwa mikroplastik dari styrofoam dapat bertahan di lingkungan air hingga 450 tahun tanpa terurai sempurna. Partikel kecil ini tidak hanya menghambat aliran air, tetapi juga berpotensi masuk ke ekosistem perairan dan mengancam kehidupan ikan serta kesehatan manusia melalui rantai makanan. Penelitian juga menemukan bahwa 70 persen sampah di sungai-sungai perkotaan berasal dari limbah rumah tangga, terutama kemasan sekali pakai.
Analisis Unik dan Simplifikasi:
Masalah genangan di Tasikmalaya bukan hanya soal infrastruktur, tetapi lebih kepada kebiasaan masyarakat. Styrofoam yang dianggap praktis justru menjadi biang kerok. Solusinya bukan hanya pembersihan berkala, tetapi perlu adopsi gaya hidup ramah lingkungan, seperti penggunaan wadah daur ulang, edukasi masyarakat tentang bahaya mikroplastik, dan regulasi ketat terhadap penggunaan kemasan sekali pakai. Dengan pendekatan holistik, Kota Tasikmalaya bisa mengurangi dampak sampah plastik terhadap sistem drainase.
Studi Kasus:
Di Kota Bandung, program “Bandung Bebas Styrofoam” yang dilaunching 2023 berhasil mengurangi penggunaan kemasan styrofoam sebesar 60 persen dalam dua tahun. Kebijakan ini didukung oleh pelatihan UMKM untuk beralih ke kemasan ramah lingkungan, serta kampanye sosial media yang mengedukasi masyarakat. Hasilnya, penurunan signifikan pada penumpukan sampah di saluran air, terutama saat musim hujan.
Infografis (Dalam Format Teks):
- 34,93% sampah = limbah organik
- 65,07% sisanya = plastik, termasuk styrofoam
- 1 kontainer = 6 meter kubik
- 2 kontainer = 12 meter kubik (volume sampah dalam sekali pembersihan)
Kota Tasikmalaya berada di persimpangan antara pertumbuhan ekonomi dan tekanan lingkungan. Tanpa perubahan kecil dari setiap individu, masalah banjir dan genangan akan terus berulang. Mari mulai dari diri sendiri: kurangi penggunaan styrofoam, gunakan wadah daur ulang, dan buang sampah pada tempatnya. Setiap tindakan kecil berkontribusi untuk sistem drainase yang lebih sehat dan lingkungan yang lebih hijau. Jadilah bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.