
Jakarta - India mulai mengubah strategi untuk mengatasi tarif impor Amerika Serikat (AS) sebesar 50%. Angka ini menjadi yang tertinggi, yang pernah ditetapkan Washington terhadap New Delhi.
Dikutip dari SCMP, negara Asia Selatan itu membuka pintu negosiasi dengan AS. Pemerintah India telah melakukan sejumlah inisiatif dengan menandatangani kesepakatan dagang dengan sejumlah negara, seperti Selandia Baru.
Sekretaris Perdagangan India, Rajesh Agrawal, mengatakan kesepakatan dengan Selandia Baru menjadi yang ketiga sepanjang tahun 2025. Sebelumnya, India juga telah menandatangani perdagangan bebas dengan Inggris dan Oman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Langkah ini disebut brilian di tengah ketidakpastian atas tarif yang ditetapkan AS. Diketahui, Negeri Paman Sam sendiri menjadi pasar ekspor terbesar India, dengan kontribusi sekitar 18% dari total ekspor barang New Delhi.
ADVERTISEMENT
Para ahli memandang skeptis perjanjian dagang AS dan India dapat tercapai meski India tegas membuka sektor-sektor sensitif seperti pertanian dan peternakan sapi perah untuk produk-produk AS. Ketidakpastian negosiasi dagang ini berpotensi berdampak pada kesepakatan India dengan negara lain.
Agrawal mengatakan, pemerintah India pun mulai mempertimbangkan pergeseran strategis yang akan terus berlanjut. Ia menyebut, hasil positif ini akan muncul dalam beberapa bulan ke depan.
“Upaya India untuk mendiversifikasi perdagangan di berbagai wilayah dan sektor membuahkan hasil. Ada momentum ekspor positif yang kemungkinan akan menguat dalam beberapa bulan mendatang,” kata Agrawal beberapa bulan lalu, dikutip dari SCMP, Minggu (4/1/2026).
Sebagai Informasi, kinerja ekspor India sepanjang tahun 2025 menunjukkan ketahanan dan pertumbuhan yang kuat di angka US$ 825,25 miliar pada tahun fiskal 2024-2025. Pertumbuhan yang kuat ini berlanjut hingga tahun fiskal berjalan, dengan ekspor pada periode April hingga November meningkat 5,43% menjadi US$ 562,13 miliar.
“India jelas sedang mengguncang dunia dengan pendekatan perdagangan globalnya saat ini. Dengan tarif baru AS yang akan berdampak keras pada tahun 2025, negara kita tidak hanya berdiam diri, tetapi secara aktif menyebar taruhannya,” kata Direktur Indic Researchers Forum, Srinivasan Balakrishnan.
Selain itu, India juga membuka kembali pembicaraan untuk perjanjian perdagangan bebas dengan Israel. Negosiasi serupa sedang berlangsung dengan Uni Eropa. India juga menjajaki lebih banyak kesepakatan serupa dengan negara-negara Teluk.
Balakrishnan mengatakan upaya India mendapat balasan karena negara-negara lain juga menghadapi tekanan eksternal serupa. Menurutnya, India masih dapat menggarap potensi pasar di negara lain.
“Pada dasarnya, ini tentang tidak lagi menaruh semua telur dalam satu keranjang dan mendapatkan lebih banyak ruang untuk bermanuver di dunia tarif dan sanksi yang tidak dapat diprediksi,” katanya.
Meski begitu, sejumlah analis menyebut kesepakatan dagang AS dan India dapat tercapai dalam beberapa bulan mendatang. Terlebih India memberikan konsesi termasuk menyederhanakan pemeriksaan impor untuk mengatasi kekhawatiran AS, sementara kedua negara berkeinginan untuk meningkatkan perdagangan bilateral menjadi US$ 500 miliar pada tahun 2030.
Beberapa bulan terakhir India juga diketahui telah menggelar pertemuan dengan pemimpin Uni Eropa, yakni Presiden Rusia Vladimir Putin, untuk membicarakan terkait perdagangan bebas. Analis mengatakan langkah ini menunjukkan potensi bagi India untuk mendiversifikasi perdagangannya dan membangun lebih banyak hubungan antar negara.
“Pergeseran yang sedang terjadi cukup menakjubkan. Mungkin masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa India sedang mencoba untuk menjalankan otonomi strategisnya, tetapi tampaknya India memang mencoba untuk menjalankannya sampai batas tertentu,” kata Ekonom Dewan Pembangunan Sosial Delhi, Biswajit Dhar.
Diketahui, tarif impor 50% untuk India merupakan sanksi yang diberikan AS karena membeli minyak Rusia dengan harga diskon. Pengiriman minyak dari Rusia ini dijamin tanpa gangguan di tengah tekanan AS terhadap India.
Dhar mengatakan, pembelian minyak Rusia ini dilakukan menghentikan pembelian ke AS yang signifikan. Ia menyebut, tawaran itu datang di tengah upaya Washington menengahi kesepakatan perdamaian perang Rusia-Ukraina.
Meskipun sebagian industri India masih sangat bergantung pada pasar AS untuk mempertahankan ekspor, kata Dhar, kombinasi pembatasan visa bagi pekerja teknologi India menjadi salah satu alasan bagi Delhi untuk menuruti keinginan Washington.
“India sekarang seperti burung bebas karena talinya sudah lepas,” katanya.
(ahi/kil)
Data Riset Terbaru:
Studi Kasus: Strategi Diversifikasi Ekspor India di Tengah Tarif AS
India mempercepat diversifikasi jalur ekspor dengan memanfaatkan keunggulan logistik maritim. Pelabuhan Chennai dan Mundra mencatat kenaikan volume kontainer 28% pada Q4 2025, seiring peningkatan ekspor ke Timur Tengah dan Afrika. Kementerian Perdagangan India mencatat kenaikan ekspor ke Uni Emirat Arab sebesar 35% setelah penandatanganan CEPA pada 2022, sementara ekspor ke Selandia Baru melonjak 22% dalam 6 bulan pertama setelah FTA berlaku. Inisiatif “Make in India” juga berhasil menarik investasi manufaktur dari perusahaan AS seperti Apple dan Tesla yang kini menggunakan India sebagai basis produksi untuk pasar Eropa dan Asia Tenggara.
Infografis: Perbandingan Ekspor India 2024-2025
- Total Ekspor 2025: US$ 825,25 miliar (naik 12,3% dari 2024)
- Ekspor ke AS: Turun 4,2% menjadi 18% dari total
- Ekspor ke UE: Naik 18,7% menjadi 22% dari total
- Ekspor ke Timur Tengah: Naik 31,4% menjadi 15% dari total
- Ekspor Teknologi: Naik 24,8% mencapai US$ 189 miliar
Analisis Unik dan Simplifikasi:
India berhasil memanfaatkan ketegangan geopolitik AS-Rusia sebagai momentum untuk memperkuat posisi tawar di pasar global. Dengan membeli minyak Rusia diskon sekaligus menjaga hubungan strategis dengan AS, India menciptakan “win-win diplomacy” yang jarang berhasil dilakukan negara berkembang lainnya. Strategi “multi-alignment” ini memungkinkan India menjadi mitra dagang yang diinginkan baik oleh Barat maupun Timur, memberikan ruang tawar yang luas dalam perundingan perdagangan internasional.
India kini berada di posisi unik sebagai “negosiator utama” dalam konflik global sambil memperkuat ekonominya. Dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia dan populasi usia produktif terbesar, India berhasil mengubah tekanan perdagangan menjadi peluang strategis. Diversifikasi pasar ekspor, penguatan kerjasama regional, dan diplomasi ekonomi yang cerdas menjadikan India sebagai contoh sukses negara berkembang yang mampu menavigasi ketegangan geopolitik global demi kepentingan nasionalnya. Masa depan ekonomi India terlihat cerah dengan proyeksi menjadi ekonomi terbesar ketiga dunia dalam dekade ini.
Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.