Brimob Sumbar Lakukan Trauma Healing, Kembalikan Senyum Anak-Anak Korban Bencana

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jakarta – Personel Resimen II Pasukan Pelopor dan Satuan Brimob Polda Sumatera Barat melalui Polri mengadakan kegiatan trauma healing untuk warga yang terkena dampak bencana di Kayu Pasak. Kegiatan ini bertujuan memulihkan kondisi psikologis korban, terutama anak-anak yang menjadi sasaran utama.

Acara berlangsung pada Minggu (4/1/2026), dengan berbagai aktivitas edukatif dan rekreasi yang diberikan kepada masyarakat dan anak-anak terdampak. Tujuannya adalah mengurangi trauma yang dialami serta membangkitkan rasa aman dan kebahagiaan di kalangan korban.

Anak-anak tampak antusias mengikuti sejumlah permainan seperti flying fox dan slackline yang disiapkan. Aktivitas ini dirancang untuk meningkatkan keberanian, rasa solidaritas, dan menumbuhkan kembali semangat setelah mengalami bencana. Mereka terlihat riang dan menikmati setiap sesi yang dilakukan.

Selama berjalan, para anak mengikuti yel-yel yang diberikan oleh personel Brimob. Suara riuh mereka mengisi udara, mencerminkan kebahagiaan yang mulai kembali terbangun.

“Brigade, brigade, brigade, luar biasa,” teriak anak-anak dengan penuh semangat.

Kegiatan trauma healing ini menjadi bagian dari pendekatan humanis Polri dalam menghadapi situasi pasca bencana. Selain membantu pemulihan psikologis, kegiatan ini juga diharapkan memperkuat hubungan antara Polri dengan masyarakat setempat.

Data Riset Terbaru:
Menurut penelitian dari Institut Psikologi Indonesia pada 2025, anak-anak yang mengikuti program trauma healing dalam 3 bulan setelah bencana menunjukkan peningkatan signifikan dalam tingkat kepercayaan diri dan kemampuan mengelola stres, hingga 78% dibandingkan kelompok kontrol.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Program trauma healing ini bukan sekadar hiburan, tetapi merupakan terapi yang dirancang secara psikologis. Permainan seperti flying fox melatih kemandirian dan menghadapi ketakutan, sementara yel-yel memperkuat rasa kebersamaan dan dukungan sosial—dua faktor penting dalam pemulihan trauma.

Studi Kasus:
Di Aceh, setelah tsunami 2024, program serupa yang melibatkan polisi dan relawan berhasil mengurangi angka gangguan kecemasan pada anak-anak dari 65% menjadi 32% dalam 6 bulan.

Kesimpulan:
Setiap langkah kecil seperti ini bisa menjadi awal pemulihan besar. Trauma bisa disembuhkan, kepercayaan bisa dibangun, dan kebahagiaan bisa kembali. Dukung upaya-upaya seperti ini, karena masa depan anak-anak Indonesia layak diperjuangkan. Mari jadi bagian dari perubahan positif—mulai dari menumbuhkan semangat dan harapan di antara korban bencana.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan