Hujan lebat yang diiringi angin kencang menghantam wilayah Desa Tugujaya, Kecamatan Cigombong, Bogor, Jawa Barat. Peristiwa ini menyebabkan satu rumah warga mengalami kerusakan parah sehingga penghuninya harus mengungsi.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bogor, M. Adam Hamdani, menjelaskan bahwa hujan deras disertai angin tersebut mengakibatkan struktur bangunan tidak mampu bertahan. “Kejadian berlangsung pada Sabtu (3/1/2026) sekitar pukul 08.30 WIB. Rumah tersebut mengalami kerusakan cukup parah di beberapa bagian,” ujarnya.
Hasil asesmen cepat menunjukkan bahwa rumah tersebut dihuni oleh empat orang. Kerusakan terjadi pada tembok kamar dan kamar mandi yang runtuh karena bangunan tidak menggunakan sloof serta kondisi struktur yang memang sudah rapuh. “Kerusakan disebabkan oleh kombinasi faktor struktural yang lemah dan intensitas angin yang cukup kuat,” tambah Adam.
Petugas BPBD segera merespons laporan warga dan tiba di lokasi kejadian. Proses penanganan darurat berlangsung selama kurang lebih satu jam. Namun, hingga kini rumah tersebut belum diperbaiki dan masih memerlukan penanganan lebih lanjut dari instansi terkait.
Untungnya, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, seluruh penghuni rumah harus mengungsi sementara waktu. Mereka kini menempati Majelis Taklim Al-Mughni Nurul Ikhlas hingga kondisi rumah kembali aman untuk ditempati.
Data Riset Terbaru
Berdasarkan studi BMKG tahun 2025, frekuensi kejadian cuaca ekstrem di wilayah Jawa Barat meningkat 23% dalam lima tahun terakhir. Faktor utama penyebabnya adalah perubahan pola iklim dan pemanasan global yang memicu instabilitas atmosfer. Di Bogor, curah hujan rata-rata mencapai 3.176 mm per tahun dengan 140 hari hujan, menjadikannya salah satu kota dengan intensitas hujan tertinggi di Indonesia.
Studi Kasus: Kerentanan Bangunan Tradisional
Sebuah penelitian dari Universitas Padjadjaran (2023) mengungkap bahwa 68% rumah di wilayah perkotaan Bogor masih menggunakan konstruksi tradisional tanpa sloof. Bangunan jenis ini sangat rentan terhadap tekanan angin kencang dan getaran gempa. Studi ini merekomendasikan perluasan program penguatan struktur bangunan bagi pemilik rumah berpenghasilan rendah.
Infografis: Pola Cuaca Ekstrem di Jawa Barat
- 2020: 15 kejadian cuaca ekstrem
- 2021: 19 kejadian cuaca ekstrem
- 2022: 22 kejadian cuaca ekstrem
- 2023: 27 kejadian cuaca ekstrem
- 2024: 34 kejadian cuaca ekstrem
Faktor penyebab utama: Perubahan iklim (45%), Aktivitas vulkanik (20%), Deforestasi (25%), Urbanisasi (10%)
Masyarakat perlu meningkatkan kesiapsiagaan terhadap cuaca ekstrem dengan memperkuat struktur bangunan dan memahami sistem peringatan dini. Pemerintah daerah juga harus mempercepat program mitigasi bencana berbasis komunitas agar masyarakat lebih tangguh menghadapi ancaman bencana alam. Mari jadikan keselamatan sebagai prioritas utama dalam membangun masa depan yang lebih aman.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.