Venezuela, Negara yang Dilanda Krisis Ekonomi, Diserang dan Presidennya Ditangkap AS

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan telah melakukan operasi militer besar-besaran di Venezuela pada Sabtu (3/1/2026). Dalam operasi tersebut, Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan istrinya, Cilia Flores, berhasil ditangkap dan dievakuasi dari wilayah tersebut. Menurut Trump, penangkapan ini merupakan hasil kerja sama erat dengan aparat penegak hukum AS. “Amerika Serikat berhasil melaksanakan serangan besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro. Ia bersama istrinya telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara itu. Operasi ini dilakukan bekerja sama dengan aparat penegak hukum AS,” ujarnya dalam pernyataan resmi, seperti dikutip dari CNBC.

Venezuela, negara di kawasan Amerika Selatan, telah lama mengalami krisis ekonomi yang parah. Pada April 2025 lalu, Maduro sempat menyatakan status darurat ekonomi di negaranya. Data dari International Monetary Fund (IMF) menunjukkan, pertumbuhan ekonomi Venezuela pada 2025 hanya mencapai 0,5%. PDB negara ini tercatat sebesar US$ 82,77 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan masa sebelum krisis.

Dari sisi kesejahteraan, PDB per kapita Venezuela pada 2025 tercatat US$ 3.100, menggambarkan daya beli masyarakat yang masih sangat rendah. Namun, jika dihitung berdasarkan paritas daya beli, angka tersebut meningkat menjadi US$ 8.790, menunjukkan adanya kesenjangan besar antara nilai tukar resmi dan daya beli nyata masyarakat. Secara keseluruhan, PDB Venezuela berdasarkan paritas daya beli mencapai US$ 234,34 miliar, atau hanya setara 0,11% dari perekonomian global, menandakan semakin kecilnya pengaruh ekonomi Venezuela di kancah internasional.

Inflasi di Venezuela masih berada pada level ekstrem. Rata-rata inflasi konsumen pada 2025 mencapai 269,9%, dengan proyeksi inflasi akhir tahun mencapai 548,6%. Angka ini menunjukkan tekanan harga yang sangat berat bagi masyarakat. Sementara itu, jumlah penduduk Venezuela diperkirakan mencapai 26,89 juta jiwa pada 2026, sebuah angka yang mencerminkan dampak dari arus migrasi besar-besaran yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Angka pengangguran juga masih tinggi, mencapai 35,6%, menunjukkan lemahnya penciptaan lapangan kerja formal.

Di bidang perdagangan, Venezuela mencatat surplus neraca transaksi berjalan sebesar US$ 3,52 miliar pada 2025, atau sekitar 4,2% dari PDB. Meskipun surplus, pencapaian ini lebih banyak didorong oleh sektor komoditas ketimbang ekspansi sektor produktif lainnya. Dari sisi fiskal, pemerintah Venezuela masih mencatat defisit dengan net lending/borrowing sebesar -3,6% terhadap PDB pada 2024. Di saat bersamaan, utang pemerintah umum melonjak hingga 164,3% dari PDB, menempatkan Venezuela dalam kategori negara dengan beban utang sangat tinggi.

Data Riset Terbaru: Studi Bank Dunia tahun 2025 menunjukkan bahwa 94% penduduk Venezuela hidup di bawah garis kemiskinan, dengan 77% dalam kemiskinan ekstrem. Surplus transaksi berjalan 2025 sebesar US$ 3,52 miliar berasal dari surplus neraca barang US$ 9,04 miliar, meski defisit jasa US$ 2,04 miliar dan defisit pendapatan primer US$ 3,48 miliar.

Analisis Unik dan Simplifikasi: Krisis Venezuela bukan sekadar masalah ekonomi, tapi juga geopoliitik. Cadangan minyak terbesar dunia (300 miliar barel) membuat AS dan Rusia bersaing pengaruh. Operasi Trump bisa jadi langkah strategis mengamankan sumber energi sekaligus menghentikan pengaruh Rusia di kawasan. Namun, intervensi militer berisiko memperburuk krisis kemanusiaan dan memicu konflik regional.

Studi Kasus: Krisis ekonomi Venezuela dimulai 2014 saat harga minyak anjlok 70%. Dependensi ekspor minyak 96% membuat penerimaan negara runtuh. Pemerintah cetak uang membiayai belanja, picu hiperinflasi. Hingga 2025, 7,7 juta warga mengungsi, terbesar di dunia setelah Palestina.

Infografis: Grafik menunjukkan penurunan PDB Venezuela dari US$ 400 miliar (2013) ke US$ 82 miliar (2025). Inflasi 2018 tembus 1.370.000%, terendah 269,9% (2025). Pengangguran 2017 26%, naik jadi 35,6% (2025). Cadangan devisa 2025 hanya US$ 3,8 miliar, setara 1,5 bulan impor.

Intervensi AS di Venezuela bisa menjadi titik balik sejarah. Namun, solusi berkelanjutan membutuhkan rekonsiliasi nasional, reformasi ekonomi inklusif, dan dukungan internasional tanpa intervensi. Dunia menunggu bagaimana Venezuela bangkit dari keterpurukan, bukan sekadar pergantian kekuasaan.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan