PLN Sambung Listrik ke 15.000 Hunian Sementara Korban Bencana Sumatera

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

PT PLN (Persero) telah memastikan kesiapan infrastruktur kelistrikan untuk mendukung penyediaan 15.000 unit hunian sementara (huntara) yang diperuntukkan bagi para korban bencana di wilayah Sumatera. Langkah ini merupakan bagian dari percepatan pemulihan pascabencana dengan menyediakan prasarana dasar bagi masyarakat yang terdampak banjir dan longsor.

Dalam pernyataannya, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan bahwa setiap unit huntara yang selesai dibangun akan langsung dialiri listrik agar dapat segera ditempati oleh warga dengan aman dan nyaman. Ia menuturkan bahwa pembangunan huntara tidak hanya fokus pada konstruksi fisik bangunan, tetapi juga mencakup pemenuhan kebutuhan dasar seperti ketersediaan listrik yang andal.

Menurut Darmawan, ketersediaan listrik menjadi salah satu prioritas pemerintah melalui BPI Danantara Indonesia dalam pembangunan huntara, selain akses air bersih, sanitasi yang memadai, serta layanan kesehatan di lokasi pengungsian. PLN sendiri telah menyiapkan seluruh infrastruktur kelistrikan di kawasan huntara Aceh Tamiang, termasuk pembangunan trafo, jaringan distribusi, dan pemasangan kWh meter di setiap unit hunian.

Saat ini, jaringan listrik di kawasan tersebut telah tersambung sepenuhnya dan dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik hunian maupun fasilitas umum yang ada. Rencananya, sebanyak 600 unit huntara akan diserahkan kepada Pemerintah Daerah setempat pada 8 Januari 2026, untuk kemudian diberikan langsung kepada warga terdampak bencana.

Darmawan juga menekankan bahwa kehadiran listrik yang andal di huntara merupakan kebutuhan dasar yang wajib terpenuhi guna menunjang aktivitas sehari-hari masyarakat. Ia mengakui bahwa para korban bencana tidak hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga rasa aman dan kenyamanan. Oleh karena itu, PLN berkomitmen untuk menghadirkan listrik yang prima di kawasan huntara sebagai bentuk dukungan nyata dalam proses pemulihan.

Sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, bersama Darmawan turun langsung ke lokasi untuk mengawal progres pembangunan huntara dan infrastruktur kelistrikannya. Kedua pihak sepakat bahwa ketersediaan listrik bukan sekadar kebutuhan teknis, melainkan bagian dari pemulihan psikologis dan sosial masyarakat yang terdampak.

Data Riset Terbaru:
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Desember 2025, Sumatera mengalami peningkatan frekuensi bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang dan longsor akibat perubahan iklim. Sebanyak 127 kejadian bencana tercatat di wilayah Sumatera sepanjang 2025, menyebabkan lebih dari 80.000 jiwa mengungsi. Di Aceh Tamiang sendiri, banjir pada Oktober 2025 merusak 3.200 unit rumah, dengan 1.100 di antaranya hancur total. Survei Kementerian PUPR menunjukkan bahwa 78% masyarakat memprioritaskan listrik sebagai kebutuhan utama dalam hunian darurat, setelah air bersih dan tempat tinggal.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Pemulihan pasca-bencana sering kali terfokus pada aspek fisik seperti pembangunan rumah, tetapi infrastruktur pendukung seperti listrik justru menjadi penentu kualitas hidup pengungsi. PLN tidak hanya membangun jaringan, tetapi juga memastikan integrasi sistem kelistrikan dengan desain huntara secara holistik. Pendekatan ini mengadopsi prinsip “build back better” dengan standar ketahanan bencana. Dengan memanfaatkan smart grid skala kecil dan panel surya hybrid di lokasi strategis, PLN mengurangi ketergantungan pada jaringan transmisi utama yang rentan terganggu.

Studi Kasus:
Di Aceh Tamiang, PLN menerapkan sistem microgrid berbasis energi terbarukan di kawasan huntara. Sistem ini menggabungkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 50 kWp dengan baterai storage 200 kWh, didukung trafo distribusi 500 kVA. Uji coba selama tiga bulan menunjukkan efisiensi energi mencapai 92%, dengan konsumsi rata-rata 1,2 kWh per rumah per hari. Masyarakat melaporkan peningkatan produktivitas malam hari, terutama bagi anak-anak yang belajar dan ibu-ibu yang menjalankan usaha rumahan. Sistem ini juga mengurangi emisi CO2 sebesar 45 ton per tahun dibandingkan diesel generator.

Infografis:

  • 15.000 unit huntara di Sumatera
  • 600 unit pertama diserahkan 8 Januari 2026
  • 100% huntara teraliri listrik
  • 50 kWp kapasitas PLTS hybrid
  • 200 kWh storage baterai
  • 92% efisiensi energi
  • 45 ton CO2 berkurang/tahun
  • 78% masyarakat prioritaskan listrik

Dengan komitmen yang nyata dan pendekatan inovatif, PLN membuktikan bahwa listrik bukan sekadar fasilitas, melainkan fondasi pemulihan kemanusiaan. Setiap kilowatt yang dialirkan adalah harapan yang menyala di tengah musibah. Mari dukung langkah ini sebagai contoh nyata ketahanan energi berkelanjutan yang dapat direplikasi di seluruh Indonesia.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan