Jumlah Korban Meninggal Akibat Bencana di Sumatera Hari Ini Mencapai 1.177 Orang

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kenaikan jumlah korban meninggal akibat bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat. Terdapat penambahan 10 jenazah yang ditemukan.

Menurut informasi dari situs resmi BNPB yang diperbarui pada Minggu (4/1/2026), total korban jiwa di tiga wilayah tersebut telah mencapai 1.177 orang. Selain itu, masih ada 148 orang yang belum ditemukan dan dinyatakan hilang.

Sementara itu, jumlah warga yang terpaksa mengungsi tetap mencapai 242 ribu jiwa. Dari segi kerusakan infrastruktur, tercatat 178.479 unit rumah mengalami kerusakan akibat bencana.

Berikut rincian korban jiwa di masing-masing provinsi:

Aceh: korban meninggal 543 orang, masih hilang 31 orang, dan warga yang mengungsi mencapai 217.800 jiwa.

Sumatera Utara: korban meninggal 370 orang, masih hilang 43 orang, dengan jumlah pengungsi sebanyak 13.900 jiwa.

Sumatera Barat: korban meninggal 262 orang, masih hilang 74 orang, dan pengungsi tercatat 10.851 jiwa.

Data riset terbaru menunjukkan bahwa musim hujan ekstrem di kawasan Sumatera semakin meningkat frekuensinya akibat perubahan iklim. Laporan dari BMKG menunjukkan curah hujan rata-rata harian mencapai 200 mm di wilayah pesisir barat Sumatra pada Desember 2025, naik 30% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini memperkuat potensi bencana hidrometeorologi di kawasan tersebut.

Studi kasus terkini berasal dari Desa Meurah Dua, Aceh Besar, yang dilanda banjir bandang pada 28 Desember 2025. Dalam insiden tersebut, 47 rumah hanyut dan 13 warga meninggal akibat arus sungai yang meluap. Infografis terkait menunjukkan bahwa 60% korban meninggal terjadi karena faktor kesadaran masyarakat yang rendah terhadap risiko bencana dan kurangnya sistem peringatan dini.

Analisis menunjukkan perlu adanya peningkatan koordinasi antarinstansi dalam penanganan darurat bencana. Sistem peringatan dini berbasis teknologi seperti penggunaan sensor hujan otomatis dan aplikasi mobile harus diperluas ke daerah-daerah rawan. Selain itu, pelatihan dasar pertolongan pertama kepada masyarakat diharapkan dapat menurunkan angka korban jiwa.

Penting bagi masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Dengan meningkatkan kesadaran, memperhatikan informasi cuaca, dan memahami tanda-tanda bahaya, kita bisa mengurangi risiko kehilangan nyawa saat musim hujan. Bersiaplah sebelum bencana datang, karena antisipasi adalah kunci terbaik dalam menghadapi ancaman alam.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan