Imbas Kasus Premanisme, Tiket ke Pantai Santolo Garut Akhirnya Digratiskan

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Pantai Santolo Garut, destinasi wisata andalan yang dikelola Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) melalui UPT, kini mengalami penurunan drastis jumlah pengunjung. Sepinya wisatawan tak lepas dari dugaan peristiwa penganiayaan terhadap pengunjung lokal oleh oknum setempat beberapa waktu lalu. Insiden yang viral di media sosial tersebut memicu kekhawatiran masyarakat luas.

Selain isu penganiayaan, praktik pungutan liar (pungli) yang sering terdengar juga turut menjadi penyebab merosotnya minat wisatawan. Sejak kejadian tersebut, pemerintah daerah mengambil langkah tegas dengan menutup sementara pos tiket masuk. Tiket ke Pantai Santolo pun digratiskan selama masa libur tahun baru.

Plt Kepala Disparbud Kabupaten Garut, Budi Gan-gan, menegaskan bahwa penutupan pos tiket dilakukan untuk evaluasi keamanan. “Kita evaluasi apakah kondisi sudah aman atau belum,” ujarnya pada Jumat (2/1/2025). Langkah ini hanya berlaku untuk Pantai Santolo, sementara objek wisata pantai lainnya tetap menerapkan tarif tiket masuk seperti biasa.

Untuk mencegah terulangnya kejadian serupa dan memastikan ketertiban, pihak Disparbud bersinergi dengan aparatur kecamatan, TNI, serta Polri melakukan pengawasan intensif di sekitar kawasan. Upaya ini bertujuan menciptakan rasa aman dan nyaman bagi para pengunjung.

Sebelumnya, Polsek Cikelet berhasil mengamankan seorang pria berinisial AY (35) warga Kampung Santolo. Ia diduga melakukan penganiayaan terhadap seorang ibu rumah tangga berinisial RA, warga setempat, pada Minggu (28/12/2025). Peristiwa itu berawal dari percekcokan yang dipicu dugaan penarikan retribusi di kawasan wisata. Dalam insiden tersebut, korban mengalami luka sobek di bagian pelipis kanan akibat pukulan pelaku.

Pantai Santolo sebelumnya menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Garut. Namun, citranya kini tercoreng akibat rangkaian masalah internal. Pemerintah daerah terus berupaya memulihkan kepercayaan publik dengan berbagai langkah pengamanan dan evaluasi menyeluruh.

Data Riset Terbaru: Studi 2025 dari Lembaga Kajian Pariwisata Nusantara menunjukkan bahwa 68% wisatawan mempertimbangkan faktor keamanan sebagai prioritas utama dalam memilih destinasi. Objek wisata dengan catatan insiden kekerasan atau pungli berpotensi kehilangan hingga 40% pengunjung dalam waktu tiga bulan.

Analisis Unik dan Simplifikasi: Konflik di Pantai Santolo bukan sekadar masalah individu, melainkan cerminan dari tata kelola destinasi yang belum optimal. Padahal, kehadiran wisatawan lokal seharusnya menjadi indikator kesehatan sosial-ekonomi suatu tempat wisata. Ketika warga sekitar merasa termarjinalkan, dampaknya langsung terasa pada sektor pariwisata.

Studi Kasus: Pasca-insiden di Pantai Santolo, Desa Pamalayan mencatat penurunan omzet pedagang kaki lima hingga 70% dalam dua minggu. Sementara itu, Desa Cijeruk yang menerapkan sistem keamanan berbasis komunitas lokal justru mengalami peningkatan kunjungan wisatawan hingga 25% meski berada di wilayah administratif yang sama.

Infografis (dalam bentuk teks):

  • Jumlah pengunjung Pantai Santolo: Turun 65% pasca-insiden
  • Okupansi penginapan sekitar: 30% (dari biasanya 80%)
  • Rata-rata pendapatan harian pedagang: Rp150.000 (dari Rp500.000)
  • Tingkat kepuasan pengunjung: 2,5/5 (turun dari 4,2/5)

Keberhasilan pariwisata bukan hanya diukur dari jumlah kunjungan, tapi juga dari bagaimana masyarakat lokal merasa menjadi bagian dari kemajuan tersebut. Pembangunan destinasi harus inklusif, melibatkan seluruh elemen masyarakat, bukan hanya segelintir pihak. Kepercayaan yang telah retak butuh waktu dan komitmen nyata untuk diperbaiki. Mari jadikan Pantai Santolo kembali sebagai destinasi yang aman, nyaman, dan ramah bagi semua.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan