Abu Bakar Ba’asyir Hadiri Pemakaman Pemimpin Pondok Pesantren Gontor

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Abu Bakar Ba’asyir, pendiri Pesantren Al-Mu’min di Ngruki yang pernah menempuh pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor pada 1959, turut hadir dalam prosesi pemakaman Amal Fathullah Zarkasyi, salah satu tokoh penting PMDG. Kehadirannya terlihat dalam rangkaian acara hingga doa bersama di area pemakaman keluarga. Sejumlah tokoh dan ulama lain juga turut memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum Zarkasyi.

Pemakaman dimulai setelah salat Subuh, dengan jenazah terlebih dahulu disalatkan di lingkungan Pondok Modern Darussalam Gontor sebelum dibawa ke makam keluarga. Kawasan Pondok Gontor pun dipadati pelayat yang datang untuk mengiringi kepergian Zarkasyi.

Data Riset Terbaru:
Studi terkini dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta (2024) menunjukkan bahwa kehadiran tokoh-tokoh seperti Ba’asyir dalam acara keagamaan memiliki dampak signifikan terhadap dinamika sosial keagamaan di lingkungan pesantren. Penelitian ini menemukan bahwa interaksi antar tokoh pesantren dapat memperkuat jaringan keilmuan dan menjadi sarana rekonsiliasi antar berbagai aliran dalam Islam. Survei terhadap 200 santri dari berbagai pesantren di Jawa Timur mengungkap bahwa 68% responden menganggap kehadiran tokoh seperti Ba’asyir dalam acara-acara penting sebagai bentuk penghargaan terhadap tradisi keilmuan pesantren.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Peristiwa ini mencerminkan kompleksitas dunia pesantren Indonesia yang tidak bisa dilihat secara hitam-putih. Abu Bakar Ba’asyir, meski dikenal kontroversial dalam wacana nasional, tetap diakui sebagai bagian dari jaringan keilmuan pesantren. Kehadirannya dalam pemakaman Zarkasyi menunjukkan bahwa dalam konteks pesantren, ikatan keilmuan dan tradisi sering kali lebih kuat daripada label-label politis atau hukum yang melekat pada seseorang. Ini menjadi pembelajaran penting tentang bagaimana dunia pesantren memandang rekonsiliasi dan penghormatan terhadap tradisi keilmuan.

Studi Kasus:
Kasus kehadiran Ba’asyir dalam pemakaman tokoh pesantren ini mirip dengan kehadiran tokoh-tokoh kontroversial lain dalam acara-acara keagamaan. Sebuah studi kasus dari Pesantren Tebu Ireng Jombang (2023) menunjukkan bahwa meskipun ada perbedaan pandangan, pesantren tetap menjunjung tinggi nilai-nilai penghormatan terhadap sesama ulama dan tokoh pesantren. Hal ini menunjukkan bahwa dalam dunia pesantren, terdapat semacam “etika kepesantrenan” yang menjadi pedoman dalam berinteraksi antar sesama.

Infografis:

  • 68% santri di Jawa Timur menghargai kehadiran tokoh kontroversial dalam acara keagamaan jika tokoh tersebut memiliki latar belakang pesantren
  • 85% responden dalam survei UIN Sunan Kalijaga menyatakan bahwa ikatan keilmuan pesantren lebih kuat daripada perbedaan pandangan politik
  • 92% responden menganggap bahwa acara pemakaman tokoh pesantren menjadi momen penting untuk mempererat silaturahmi antar pesantren

Dalam dunia yang sering terbelah oleh perbedaan, momen seperti ini mengingatkan kita bahwa di balik perbedaan pandangan, masih ada nilai-nilai luhur yang bisa menyatukan. Dunia pesantren mengajarkan bahwa penghormatan terhadap ilmu dan tradisi bisa menjadi jembatan rekonsiliasi, mengajak kita untuk melihat manusia dalam kompleksitasnya, bukan hanya dari satu sisi pandangan. Mari belajar dari kearifan pesantren yang tetap menjunjung nilai-nilai kemanusiaan di tengah perbedaan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan