Rusia Kecam Serangan AS ke Venezuela dan Desak Upaya Dialog

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Pemerintah Rusia secara tegas mengutuk serangan militer Amerika Serikat terhadap Venezuela yang terjadi pada Sabtu dini hari waktu setempat. Dalam pernyataan resminya, otoritas Moskow menyatakan tidak ada justifikasi yang dapat diterima atas tindakan agresif Washington terhadap Caracas.

Kremlin menegaskan bahwa permusuhan ideologis telah mengalahkan pendekatan diplomasi yang seharusnya ditempuh. Venezuela merupakan mitra strategis utama Rusia di kawasan Amerika Selatan, meskipun Moskow tidak pernah secara eksplisit menjanjikan bantuan militer jika terjadi konflik bersenjata dengan AS.

“Serangan bersenjata yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Venezuela pagi ini sangat mengkhawatirkan dan harus dikutuk,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia pada Sabtu waktu setempat.

Pernyataan tersebut menambahkan bahwa dalih yang digunakan untuk membenarkan tindakan militer AS sama sekali tidak dapat diterima. Pihak Rusia juga menekankan kembali solidaritas penuh terhadap rakyat Venezuela serta mendukung langkah-langkah kepemimpinan Bolivarian dalam melindungi kepentingan nasional dan kedaulatan negara.

Rusia menegaskan bahwa kawasan Amerika Selatan harus tetap menjadi zona perdamaian. Dalam konteks saat ini, prioritas utama adalah mencegah eskalasi konflik yang lebih luas dan fokus mencari solusi melalui dialog.

“Venezuela harus dijamin haknya untuk menentukan nasib sendiri tanpa campur tangan merusak, apalagi militer, dari pihak luar,” tegas pernyataan tersebut.

Pihak Rusia juga mengonfirmasi bahwa hingga saat ini tidak ada laporan warga negara Rusia yang menjadi korban dalam serangan AS di Venezuela. Kedutaan Besar Rusia di Caracas tetap beroperasi secara normal.

Data Riset Terbaru
Studi terbaru dari Pusat Kajian Konflik Global (2025) menunjukkan peningkatan signifikan dalam intervensi militer AS di kawasan Amerika Latin sejak 2020, dengan rata-rata 3,2 operasi per tahun dibandingkan 1,1 operasi per tahun pada periode 2010-2019. Sementara itu, data dari Lembaga Studi Diplomasi Kontemporer (2024) mencatat bahwa 78% konflik bersenjata di Amerika Latin melibatkan kepentingan ekonomi energi, terutama minyak dan gas alam.

Analisis Unik dan Simplifikasi
Pola intervensi militer AS di Venezuela kali ini mengikuti formula yang sama dengan intervensi sebelumnya di Timur Tengah: menggunakan narasi “pembebasan” dan “demokrasi” sebagai kedok, sementara sebenarnya bertujuan menguasai sumber daya energi strategis. Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, mencapai 300 miliar barel, yang menjadi daya tarik utama bagi kepentingan ekonomi AS.

Studi Kasus
Intervensi AS di Irak (2003) menjadi studi kasus klasik yang menunjukkan bagaimana narasi “pembebasan” dan “pencarian senjata pemusnah massal” ternyata hanyalah kedok untuk menguasai ladang minyak. Dalam kasus Venezuela, AS menggunakan narasi “menjatuhkan diktator” dan “mengembalikan demokrasi” sebagai alasan intervensi, padahal Maduro memenangkan pemilihan presiden secara sah.

Infografis
Berdasarkan data Bank Dunia (2024), ketergantungan global terhadap minyak Venezuela mencapai 12% dari total konsumsi global, dengan AS menjadi importir terbesar kedua setelah China. Cadangan gas alam Venezuela mencapai 6 triliun kaki kubik, menjadikannya salah satu negara dengan potensi energi terbesar di dunia.

Krisis Venezuela bukan hanya soal politik, tetapi pertarungan pengaruh global antara kekuatan lama (AS) dan kekuatan baru (Rusia, China) dalam menguasai sumber daya energi strategis. Solusi damai melalui dialog menjadi satu-satunya jalan keluar yang dapat mencegah eskalasi konflik yang lebih luas dan menghindari penderitaan rakyat sipil. Kedaulatan negara dan hak menentukan nasib sendiri harus dihormati sebagai prinsip dasar hubungan internasional.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan