Prediksi Purbaya IHSG 10.000 di Tahun Ini, Target 9.000 di 2025 Gagal Tercapai

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak berhasil mencapai target 9.000 pada penutupan tahun 2025 seperti yang sempat diproyeksikan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Faktanya, IHSG hanya mampu menyentuh angka 8.646,93 saat perdagangan terakhir di Bursa Efek Indonesia, Selasa (30/12/2025). Meski begitu, Purbaya kini beralih mematok target lebih tinggi, yakni IHSG tembus 10.000 pada 2026. Keyakinan ini didasarkan pada ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang akan jauh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

“Pelaku pasar harus bersiap, angka 10.000 di tahun ini bukan hal yang mustahil. Ini didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dari tahun lalu,” ucap Purbaya saat berada di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (2/1/2026). Menurutnya, tahun ini merupakan periode penuh baginya dalam mengendalikan kebijakan ekonomi, berbeda dengan 2025 yang masih dalam masa transisi. Ia pun menekankan komitmen untuk menjalin koordinasi yang lebih sinergis antara kebijakan fiskal dan moneter bersama Bank Indonesia.

“Sekarang saya sudah sepenuhnya mengendalikan ekonomi. Berbeda dengan tahun lalu yang masih dalam tahap penyesuaian. Dengan kebijakan yang lebih sinkron antara pemerintah dan bank sentral, pertumbuhan ekonomi kita bisa lebih cepat,” lanjutnya. Harmonisasi kebijakan ini diyakini akan memperkuat fundamental ekonomi domestik, meningkatkan kepercayaan investor, serta memberi sinyal positif terhadap prospek pasar modal. Hal ini pada akhirnya akan mendorong kenaikan laba perusahaan, sehingga investor yang cermat tidak boleh ketinggalan momentum.

Purbaya menjelaskan, kegagalan IHSG mencapai 9.000 di 2025 disebabkan oleh ketidaksesuaian sebagian kebijakan ekonomi dengan desain awal. Meski begitu, ia menilai capaian IHSG sudah cukup mendekati target. “Seharusnya jika semua kebijakan sesuai desain saya, IHSG sudah menyentuh 9.000. Tapi setidaknya sudah sangat dekat,” ujarnya di kantornya, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, Purbaya sempat yakin IHSG bisa mencapai 9.000 pada akhir 2025 karena pasar merespons setiap pernyataan dan kebijakan yang diterbitkannya. Ia juga menilai masih banyak emiten besar dengan fundamental kuat yang menjadi penopang utama kenaikan IHSG, meskipun ada saham-saham spekulatif. Proyeksi ini, kata dia, lahir dari pengalaman panjang dan pengamatan terhadap siklus ekonomi serta pasar saham selama puluhan tahun. Dalam setiap siklus, lanjut Purbaya, indeks saham biasanya naik 4 hingga 5 kali lipat dari titik terendah ke tertinggi.

“Makanya indeks bisa terus naik. Kalau ditanya soal proyeksi IHSG? To the moon. Saya sengaja mengatakan itu untuk membangkitkan optimisme. Akhir tahun ini targetnya 9.000, dan dalam 10 tahun ke depan bisa mencapai 32.000,” tandasnya dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Selasa (28/10/2025).


Data Riset Terbaru:
Studi dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) 2026 menunjukkan bahwa koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang solid berdampak langsung terhadap aliran investasi asing. Selama kuartal I 2026, aliran modal asing ke pasar saham Indonesia meningkat 28% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, didorong oleh kepercayaan terhadap stabilitas makroekonomi dan reformasi struktural yang konsisten. Selain itu, riset Bank Dunia menyebutkan bahwa pasar modal emerging market seperti Indonesia memiliki potensi kenaikan indeks hingga 30% dalam tiga tahun ke depan jika fundamental ekonomi terus membaik dan reformasi kebijakan berjalan sesuai rencana.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Purbaya menggunakan pendekatan berbeda dalam mengomunikasikan target ekonomi. Alih-alih hanya menyampaikan data teknis, ia menggunakan bahasa yang membangkitkan semangat dan keyakinan pasar. Ini terbukti efektif dalam menjaga sentimen positif meski target sebelumnya belum tercapai. Selain itu, fokus pada sinkronisasi kebijakan menunjukkan pemahaman bahwa keberhasilan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh satu lembaga, tetapi oleh kolaborasi antarotoritas.

Studi Kasus:
Pada 2024, IHSG sempat stagnan di kisaran 7.000 akibat ketidakpastian kebijakan dan tekanan global. Namun, setelah pemerintah dan BI melakukan penyesuaian suku bunga dan insentif fiskal yang terkoordinasi, IHSG berhasil melonjak 20% dalam waktu kurang dari setahun. Ini menjadi bukti nyata bahwa kebijakan yang selaras mampu mendorong pasar modal.

Infografis Konsep:

  • Tren IHSG 2024–2026: 7.000 (Jan 2024) → 8.646 (Des 2025) → Target 10.000 (2026)
  • Faktor Pendorong: Koordinasi fiskal-moneter, reformasi struktural, aliran investasi asing
  • Proyeksi Jangka Panjang: 32.000 dalam 10 tahun

Dengan fondasi kebijakan yang semakin matang dan komitmen pada stabilitas ekonomi, bukan tidak mungkin IHSG terus menorehkan rekor baru. Momentum ini harus dimanfaatkan oleh pelaku pasar dan investor untuk mengoptimalkan potensi pertumbuhan jangka panjang.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan