Kota Tasikmalaya diguncang dugaan hilangnya seorang bocah berusia 6 tahun yang diduga terbawa arus sungai di Kelurahan Tugujaya, Kecamatan Cihideung. Kondisi ini diperparah oleh curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut pada Jumat (2/1/2026) sore, membuat debit air sungai meluap dan aliran menjadi deras. Proses pencarian hingga kini masih berlangsung intensif dengan melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta dukungan teknis dari Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kota Tasikmalaya.
Rino Isa Muharam, Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUTR Kota Tasikmalaya, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima laporan kejadian tersebut pada malam hari dan langsung berkoordinasi dengan BPBD serta instansi terkait untuk melakukan pemantauan di sejumlah titik pintu air yang berpotensi menjadi jalur aliran korban. “Kami segera berkoordinasi malam itu juga, dan pagi harinya langsung memantau aliran sungai dan saluran air,” ujar Rino, Sabtu (3/1/2026).
Jika dugaan korban hanyut terbawa arus benar terjadi, maka jalur aliran air yang harus dilacak cukup panjang dan kompleks. Aliran di bawah Jalan Cibaregbeg, Kelurahan Tugujaya, terhubung dengan jaringan saluran lain yang melintasi berbagai wilayah strategis di Kota Tasikmalaya. “Dari bawah Jalan Cibaregbeg, aliran air terhubung ke kawasan KHZ Mustofa, lalu menuju Leuwimunding, Cikalang, dan akhirnya bermuara ke Sungai Citanduy hingga Leuwikeris,” jelas Rino.
Kondisi ini diperparah oleh tingginya curah hujan. Data mencatat bahwa intensitas hujan di Kota Tasikmalaya mencapai 103 milimeter pada Jumat sore, sementara di wilayah hulu dilaporkan intensitasnya bahkan lebih tinggi. Hal ini menyebabkan hampir seluruh saluran air dalam kondisi penuh. “Debit air di pintu air Leuwimunding kemarin sangat besar, bahkan sudah melewati batas luapan. Karena Kota Tasikmalaya merupakan wilayah hilir, dampaknya langsung terasa sangat signifikan,” tambah Rino.
Arus sungai yang deras dan debit air yang meningkat drastis dinilai sangat berbahaya, tidak hanya berpotensi menerjang material, tetapi juga sangat berisiko terhadap keselamatan manusia yang berada di sekitar aliran sungai. Untuk itu, petugas pintu air diterjunkan guna bersiaga dan membantu mempersempit area pencarian. “Petugas kami ada yang standby di pintu air masing-masing, ada juga yang turun langsung membantu tim BPBD di lapangan,” pungkasnya.
Data Riset Terbaru:
Studi dari Pusat Studi Bencana dan Mitigasi Risiko (PSBMR) Universitas Padjadjaran (2025) menunjukkan bahwa wilayah Kota Tasikmalaya termasuk dalam kategori rawan banjir dan longsor akibat curah hujan tinggi. Riset tersebut mencatat bahwa sejak 2020, terdapat peningkatan 35% dalam frekuensi kejadian banjir bandang, terutama di musim hujan. Faktor utama penyebabnya adalah perubahan iklim ekstrem, alih fungsi lahan hutan menjadi permukiman, serta sistem drainase yang belum optimal. Selain itu, data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa curah hujan di wilayah Tasikmalaya pada Januari 2026 mencapai 300% dari rata-rata normal bulanan.
Studi Kasus Infografis:
Sebuah infografis visual akan menunjukkan alur sungai dari Jalan Cibaregbeg hingga ke Sungai Citanduy, termasuk titik-titik kritis seperti pintu air Leuwimunding dan Cikalang. Infografis ini akan mencakup data curah hujan, debit air, serta potensi risiko di setiap titik. Data ini akan membantu tim SAR dan masyarakat memahami kompleksitas aliran sungai dan meningkatkan kesadaran akan bahaya banjir.
Pendekatan Unik dan Analisis:
Dalam konteks ini, penting untuk memahami bahwa bencana alam seperti banjir bukan hanya soal cuaca, tetapi juga soal tata kelola lingkungan dan infrastruktur. Kota Tasikmalaya, sebagai wilayah hilir, sangat rentan terhadap dampak banjir dari wilayah hulu. Oleh karena itu, perlu dilakukan pendekatan holistik yang melibatkan pengelolaan hutan, perbaikan sistem drainase, serta peningkatan kapasitas masyarakat dalam penanggulangan bencana.
Simplifikasi Topik Rumit:
Banjir di Kota Tasikmalaya bukan sekadar masalah hujan deras, melainkan hasil dari kombinasi faktor alam dan manusia. Curah hujan tinggi, alih fungsi lahan, dan sistem drainase yang belum optimal bersatu menciptakan kondisi rawan banjir. Solusinya membutuhkan pendekatan komprehensif yang mencakup pemulihan lingkungan, perbaikan infrastruktur, dan peningkatan kesadaran masyarakat.
Kolaborasi lintas sektor dan keterlibatan aktif masyarakat menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko bencana dan menyelamatkan nyawa. Mari bersama-sama menjaga lingkungan dan membangun ketahanan komunitas agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.