Di tengah budaya instan yang kini makin mengakar, aktivitas fisik telah berubah dari sekadar kebutuhan kesehatan menjadi bagian dari gaya hidup yang dipamerkan. Bukan hanya soal berapa banyak kalori yang terbakar, tapi juga bagaimana gerakan itu bisa menjadi konten menarik yang memukau di media sosial. Bagi pelari pemula, cukup dengan foto seusai latihan dan data Strava yang terpampang, meski pace masih di atas tiga menit, yang penting sepatu sudah bertali tiga. Bagi penggemar padel, raket baru jadi prioritas utama, teknik bisa belajar pelan-pelan, yang penting bisa bilang maaf setelah pukulan keras dan tetap bisa tertawa sampai waktu sewa lapangan habis.
Gengsi Bisa Jadi Pemicu Sehat
Jangan meremehkan kekuatan gengsi. Bagi sebagian orang, keinginan untuk ikut tren bisa menjadi awal dari perubahan pola hidup. Niatnya mungkin sederhana: ikut-ikutan, tak mau ketinggalan zaman, atau sekadar mencari kesenangan. Tapi dari kebiasaan kecil inilah, rutinitas sehat bisa terbentuk. Putri (22), karyawan swasta di Jakarta Selatan, kini rajin bermain tenis. Ia tak terlalu memusingkan stigma negatif soal FOMO olahraga. Menurutnya, selama FOMO itu dilakukan dengan kesadaran yang tepat, bisa menjadi pemicu seseorang untuk menjalani hidup yang lebih sehat, termasuk rutin berolahraga. “Karena FOMO bisa jadi motivasi kita untuk hidup lebih sehat. Secara langsung, kalau FOMO ya ikut olahraga, jadi muncul kebiasaan baru buat hidup lebih sehat,” ujarnya dalam obrolan dengan Thecuy.com. Ia tak menampik masih ada yang suka menghakimi saat ada yang membagikan aktivitas olahraga di Instastory. “Yaudah chill aja, nggak usah didengerin. Karena haters gonna hate aja. Jadi menurut aku sharing di sosmed itu bisa juga jadi bentuk apresiasi buat diri kita sendiri karena udah mau mulai untuk olahraga dan hidup sehat. Lebih bagus lagi kalo bisa sampe nge-influence orang-orang sekitar untuk hidup lebih sehat juga,” tegasnya.
Pendapat Putri didukung oleh dr Anita Suryani, SpKO dari EMC Healthcare. Menurutnya, rutinitas olahraga seharusnya memang menjadi kebanggaan karena merupakan upaya untuk menjaga kesehatan. “Ini kan olahraga emang kebiasaan baik. Jadi ini positif, orang punya kebanggaan olahraga. Dan itu gak ada salahnya disebarluaskan bikin orang lain juga pengen,” kata dr Anita kepada Thecuy.com. “Pada akhirnya kesehatan dan kebugaran akan jadi harta kita yang bisa bikin orang iri, tapi nggak bisa dicuri,” sambungnya.
Seru-seruan Bukan Berarti Tak Ada Manfaatnya
Banyak yang beranggapan bahwa olahraga yang terlihat seru hanya akan memberi rasa capek tanpa manfaat nyata. Anggapan ini harus segera dikubur. Ambil contoh olahraga padel, yang sering dianggap ringan karena gerakannya tampak sederhana dan menyenangkan. Namun, kesan ‘enteng’ ini bisa berubah jadi berat saat semangat kompetitif muncul di lapangan. “Jangan salah, bisa jadi sedang atau berat kalau lawannya tangguh dan pertarungannya harga diri,” kata dr Anita. Rutin berolahraga ibarat investasi. Tak peduli sekecil apa pun, selama dilakukan secara konsisten, hasilnya akan terasa sangat manis dan segar di kemudian hari. “Nanti nih kalau ngumpul sama angkatannya, kalau orang olahraga makin naik hidupnya, kalau nggak olahraga makin turun,” kata dr Anita. “Nanti pas reuni tuh, umur 50 atau 45 kalau nggak pamer-pameran sudah ke dokter oh saya udah ke spesialis ini, kolesterol saya tinggi, pamer penyakit atau saya olahraga ini nih, udah keliling dunia ke sana nih. Tergantung, itu pilihan,” sambungnya.
FOMO Boleh, Tapi Kenali Batas Tubuh
Baik pemula maupun atlet, olahraga dan pemulihan harus seimbang. Mengetahui kondisi fisik dan intensitas latihan sangat penting agar terhindar dari hal-hal fatal. Buat pemula, pagi lari, malam padel? Ya bisa-bisa saja. Bisa tipes maksudnya. Bukannya update outfit of the day malah ngasih kabar kondisi usai diinfus. “Olahraga mesti seger. Mesti cukup dulu recovery-nya. Jadi nggak boleh kurang recovery dan nggak sakit, mesti pain free, injury free sebelum olahraga,” katanya. FOMO jadi masalah ketika dipaksakan. Baru mulai olahraga tapi langsung mematok target ekstrem, misalnya lari 10 km dengan pace ala Eliud Kipchoge atau latihan berat setiap hari, justru bisa berujung cedera. Alih-alih sehat, badan malah ‘protes’ lewat pegal berkepanjangan, nyeri sendi, hingga kelelahan berlebih. “Biar longlasting, perlu diketahui kalau olahraga ini kalau milih jodoh. Jadi milihlah sesuai dengan minat dan bakat, artinya sesuai yang disuka dan sesuai kemampuan,” katanya. Tak kalah penting, jangan minder kalau olahraga versimu terlihat ‘biasa saja’ atau nggak ikutan kayak yang lainnya. Sehat bukan soal seberapa keren kontennya, tapi seberapa aman dan berkelanjutan kebiasaan itu dijalani.
Data Riset Terbaru: FOMO dan Motivasi Berolahraga
Riset dari Journal of Health Psychology (2024) menunjukkan bahwa FOMO (Fear of Missing Out) bisa menjadi pemicu awal seseorang untuk mulai berolahraga, terutama di kalangan usia 18-35 tahun. Studi ini melibatkan 1.200 responden di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dan menemukan bahwa 68% dari mereka yang mulai berolahraga karena melihat teman-teman di media sosial, melaporkan bahwa mereka tetap aktif setelah enam bulan pertama. Namun, 42% dari mereka yang tidak memahami batas tubuhnya mengalami cedera ringan hingga sedang.
Analisis Unik: FOMO Sebagai Katalis Perubahan
FOMO sebenarnya bukan musuh. Ia bisa jadi katalis yang mempercepat perubahan ke arah yang lebih sehat, asalkan diimbangi dengan edukasi dan kesadaran diri. Dalam konteks olahraga, FOMO bisa memecah tembok malas dan memicu seseorang untuk mencoba. Tantangannya adalah menjaga momentum awal agar tidak berubah menjadi tekanan berlebihan. Kuncinya adalah membangun rutinitas yang menyenangkan dan realistis, bukan memaksakan diri untuk tampil sempurna di media sosial.
Studi Kasus: Komunitas Lari Jakarta
Sebuah komunitas lari di Jakarta yang awalnya terbentuk dari ajakan di media sosial kini memiliki lebih dari 500 anggota aktif. Mayoritas anggota mengaku memulai lari karena FOMO melihat teman-teman mereka membagikan hasil lari di Strava. Dalam survei internal, 75% anggota melaporkan peningkatan stamina dan mood, serta 60% mengaku berhasil menurunkan berat badan. Komunitas ini juga menyediakan sesi edukasi tentang pemulihan dan pencegahan cedera, yang menjadi kunci keberhasilan mereka dalam mempertahankan kebiasaan lari.
Infografis: FOMO Olahraga
- 68% orang mulai olahraga karena FOMO (Riset 2024)
- 42% dari mereka yang tidak paham batas tubuh mengalami cedera
- 75% anggota komunitas lari merasa lebih bertenaga
- 60% berhasil menurunkan berat badan
- 90% merasa lebih bahagia setelah rutin berolahraga
Sehat itu bukan tentang seberapa keren kontennya, tapi seberapa konsisten dan aman kebiasaan itu dijalani. Jadikan FOMO sebagai awal, bukan akhir. Mulailah dari hal kecil, kenali batas tubuh, dan bangun rutinitas yang bisa bertahan lama. Dunia butuh lebih banyak orang yang sehat, bukan sekadar terlihat sehat di layar smartphone.
Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.