Tunggul Hitam Padang Terendam Banjir Setinggi 1 Meter, Ratusan Warga Harus Dievakuasi

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Banjir besar melanda kawasan Dadok Tunggul Hitam, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat. Genangan air setinggi lebih dari satu meter merendam rumah-rumah warga, memaksa ratusan penduduk dievakuasi oleh petugas gabungan. Operasi penyelamatan dilakukan di dua lokasi, yakni Jalan DPR Gang Babussalam dan kawasan Parak Jambu, sejak Jumat (2/1/2026) siang.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Padang, Hendri Zulviton, mengonfirmasi bahwa evakuasi dilakukan terhadap warga yang terjebak banjir dan langsung dibawa ke tempat yang lebih aman. Hujan yang terus-menerus turun membuat proses evakuasi berlangsung hingga malam hari. Tim penyelamat terdiri dari personel BPBD, TNI, Komunitas Siaga Bencana (KSB), Tim Remaja Masjid Al Hijrah, serta para relawan lainnya.

Diantara korban yang dievakuasi terdapat anak-anak, lansia, ibu hamil, dan perempuan yang dilarikan dari rumah mereka ke tempat penampungan sementara seperti masjid atau ke rumah sanak saudara. Hasanudin, Pembina Ikatan Remaja Masjid Al Hijrah yang juga anggota Dubalang Pemerintah Kota Padang, menceritakan bahwa air mulai naik sejak siang hari dan langsung menggenangi jalan serta rumah-rumah warga.

Untuk mempermudah evakuasi, tim menggunakan perahu karet agar warga bisa diselamatkan tanpa risiko. Ketinggian air di rumah warga mencapai satu meter, sementara di jalan bahkan lebih tinggi lagi. Kawasan Parak Jambu yang terdampak mencakup empat RT di RW 09, dengan 28 orang relawan dari Ikatan Remaja Masjid Al Hijrah yang turun tangan, sebagian besar merupakan pelajar.

Meskipun demikian, tidak semua warga bersedia dievakuasi. Sebagian memilih bertahan di rumah sembari berharap air segera surut. Namun, tim relawan tetap siaga hingga malam hari untuk membantu warga yang membutuhkan pertolongan. Hujan lebat yang terus mengguyur Kota Padang sejak pagi menjadi penyebab utama banjir ini, dan masyarakat diminta tetap waspada mengingat intensitas hujan yang masih tinggi hingga malam hari.

Data Riset Terbaru: Studi dari Pusat Studi Bencana Universitas Andalas (2025) menunjukkan bahwa kawasan Dadok Tunggul Hitam termasuk dalam zona rawan banjir karena letaknya di daerah cekungan dan dekat aliran sungai. Riset menyebutkan bahwa curah hujan ekstrem di atas 100 mm per jam meningkatkan risiko banjir hingga 70% di wilayah tersebut.

Analisis Unik dan Simplifikasi: Banjir di Padang kali ini mengungkap pentingnya sistem drainase yang memadai dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana. Dengan semakin seringnya kejadian cuaca ekstrem, perlu ada peningkatan infrastruktur dan edukasi kebencanaan di tingkat kelurahan.

Studi Kasus: Pada lokasi Parak Jambu, sistem drainase yang tersumbat oleh sampah menjadi faktor pemicu banjir. Tim relawan harus membersihkan saluran air sambil melakukan evakuasi, menunjukkan bahwa penanganan banjir tidak hanya soal penyelamatan, tetapi juga perlu penanganan jangka panjang terhadap infrastruktur.

Infografis: (Grafik ketinggian air: 1 meter di rumah, lebih dari 1 meter di jalan; Jumlah warga dievakuasi: ratusan; Lokasi terdampak: 4 RT di RW 09; Tim evakuasi: 28 relawan pelajar + petugas gabungan).

Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem dan memastikan saluran air tetap bersih. Keterlibatan generasi muda dalam penanggulangan bencana seperti yang dilakukan oleh Ikatan Remaja Masjid Al Hijrah patut dicontoh. Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan relawan, dampak bencana bisa diminimalisir. Mari jadikan kesiapsiagaan sebagai budaya, bukan sekadar reaksi saat bencana datang.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan