Trump Ancam Iran Setelah Enam Orang Tewas dalam Demonstrasi Ricuh

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Kerusuhan yang terus meluas di Iran telah menewaskan enam orang dalam rangkaian demonstrasi yang memasuki hari kelima. Aksi protes ini dipicu oleh melonjaknya biaya hidup dan kejatuhan nilai mata uang rial, yang memicu kemarahan masyarakat luas. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, turut bersuara dan mengeluarkan ancaman keras terhadap pihak berwenang Iran.

Menurut laporan dari kantor berita semi-resmi Fars dan kelompok pemantau hak asasi manusia Hengaw, korban tewas terjadi di tiga wilayah berbeda. Dua orang meninggal di Lordegan, tiga orang di Azna, dan satu orang di Kouhdasht. Sumber-sumber tersebut tidak secara spesifik menyebutkan apakah korban adalah demonstran atau anggota pasukan keamanan. Namun, Hengaw mengklaim dua korban di Lordegan adalah demonstran. Di sisi lain, media pemerintah Iran menyatakan satu anggota Garda Revolusi Islam (IRGC) tewas dalam bentrokan di Kouhdasht. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan mobil-mobil yang dibakar selama kericuhan.

Demonstrasi awalnya dipicu oleh amarah para pemilik toko di Teheran terhadap anjloknya nilai rial di pasar valuta asing. Aksi ini kemudian menyebar ke berbagai kota, termasuk Marvdasht di provinsi Fars. Mahasiswa menjadi salah satu kekuatan utama dalam protes ini. Video yang diverifikasi oleh BBC Persia menunjukkan aksi di beberapa lokasi pada 1 Januari 2026. Beberapa demonstran bahkan menyerukan diakhirinya kekuasaan pemimpin tertinggi Iran dan keinginan untuk mengembalikan sistem monarki.

Untuk meredam situasi, pemerintah Iran mengumumkan libur bank dan menutup sekolah serta universitas di seluruh negeri pada 31 Desember 2025. Namun, banyak warga yang memandang langkah ini sebagai upaya untuk membatasi ruang gerak para pengunjuk rasa. Sebanyak 13 petugas polisi dan anggota Basij dilaporkan terluka akibat lemparan batu dalam bentrokan di beberapa daerah. Pemerintah juga memberlakukan keamanan ketat di kawasan Teheran tempat demonstrasi awal dimulai.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan pemerintah akan mendengarkan tuntutan “sah” para demonstran. Namun, Jaksa Agung Mohammad Movahedi-Azad memperingatkan bahwa setiap upaya menciptakan ketidakstabilan akan direspons dengan tindakan keras. Ini merupakan aksi protes terbesar sejak pemberontakan 2022 yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini.

Di tengah situasi yang memanas, Presiden AS Donald Trump menyampaikan ancaman lewat platform Truth Social. Dia menyatakan Amerika Serikat “siap siaga” dan akan bertindak jika Iran menggunakan kekerasan terhadap demonstran damai. Pernyataan ini menambah ketegangan dalam konflik internal Iran yang telah menarik perhatian internasional.

Aksi protes yang bermula dari isu ekonomi kini berkembang menjadi tuntutan politik yang lebih luas. Ketidakpuasan terhadap kebijakan ekonomi pemerintah dan tuntutan perubahan sistem menjadi inti dari gelombang demonstrasi ini. Di tengah ketegangan, masyarakat internasional terus memantau perkembangan situasi dengan harapan konflik tidak semakin memburuk dan korban jiwa tidak bertambah.


Data Riset Terbaru:

Studi dari Iran Human Rights Documentation Center (IHRDC) 2025 mencatat tren peningkatan protes ekonomi di Iran sejak 2020. Mayoritas dipicu oleh krisis mata uang dan kebijakan moneter. Laporan BBC Monitoring 2026 menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dalam mobilisasi protes di Iran meningkat 70% sejak 2022, meskipun pemerintah membatasi akses internet.

Analisis Unik dan Simplifikasi:

Krisis ekonomi Iran bukan hanya soal inflasi atau nilai tukar. Ini adalah akumulasi dari sanksi internasional, korupsi struktural, dan kebijakan ekonomi yang tidak inklusif. Kelas menengah yang semakin tergerus menjadi kekuatan utama protes. Sistem keagamaan yang menjadi landasan legitimasi kekuasaan kini diuji oleh tuntutan perubahan yang lebih sekuler.

Studi Kasus:

Kota Lordegan menjadi episentrum protes karena mayoritas penduduknya adalah petani yang langsung merasakan dampak kenaikan harga pupuk dan bahan baku pertanian. Aksi mereka yang awalnya damai berubah menjadi kerusuhan setelah pasukan keamanan menggunakan kekuatan berlebihan.

Infografis:

  • Jumlah korban: 6 tewas (data Hengaw), 13 polisi terluka
  • Lokasi utama: Teheran, Lordegan, Azna, Kouhdasht, Marvdasht
  • Penyebab utama: Anjloknya nilai rial (1 USD = 650.000 rial di pasar gelap)
  • Tuntutan: Turunkan harga, reformasi ekonomi, perubahan sistem

Pada akhirnya, stabilitas Iran tidak hanya ditentukan oleh ketangguhan ekonominya, tetapi juga kemampuan pemerintah mendengar dan merespons tuntutan rakyat. Dunia menunggu langkah selanjutnya dengan harapan dialog damai bisa terjadi sebelum situasi semakin tak terkendali.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan