Pemerintah bertekad menghentikan impor solar pada tahun 2026. Namun, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, menekankan bahwa penghentian impor ini sangat bergantung pada kemampuan optimalisasi kilang minyak dalam negeri. Salah satu proyek strategis yang menjadi kunci utama adalah proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan.
Yuliot menjelaskan bahwa keberhasilan program swasembada solar dan avtur akan sangat ditentukan oleh seberapa besar kapasitas produksi kilang dalam negeri, terutama setelah proyek RDMP Balikpapan beroperasi secara penuh. “Kita akan melihat dulu seberapa besar kapasitas produksi RDMP dan kilang-kilang lainnya. Dari situ kita bisa menilai apakah produksi dalam negeri mencukupi kebutuhan nasional atau masih membutuhkan pasokan dari luar,” ujar Yuliot dalam keterangan pers di Kantor Kementerian ESDM.
Ia menambahkan, jika produksi dalam negeri mampu memenuhi permintaan domestik, maka ketergantungan terhadap impor BBM, termasuk solar, bisa benar-benar dihentikan. Hal ini juga berlaku bagi SPBU swasta yang selama ini masih bergantung pada pasokan impor. “Dengan produksi dalam negeri yang mencukupi, tidak hanya SPBU milik BUMN, tapi juga SPBU swasta harus beralih menggunakan produk kilang dalam negeri,” tegasnya.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Syarifuddin, juga menegaskan bahwa penghentian impor solar mencakup seluruh pelaku usaha, termasuk swasta. “Stop impor bukan berarti hanya berlaku untuk BUMN, tapi juga untuk seluruh pihak. Swasta boleh memasok solar, tapi harus dari produk kilang dalam negeri, bukan dari impor,” jelas Laode.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri dan meningkatkan nilai tambah dari sumber daya energi nasional. Dengan optimalisasi kilang dalam negeri, diharapkan Indonesia mampu mencapai swasembada energi, khususnya solar dan avtur, serta menghemat devisa negara dari pembayaran impor BBM.
Data Riset Terbaru:
Berdasarkan data Kementerian ESDM, konsumsi solar nasional mencapai sekitar 32 juta kiloliter per tahun, dengan sekitar 30% masih dipenuhi melalui impor. Proyek RDMP Balikpapan, yang ditargetkan selesai pada akhir 2026, akan meningkatkan kapasitas kilang dalam negeri hingga 360.000 barel per hari, atau naik sekitar 120.000 barel per hari dari kapasitas saat ini. Dengan peningkatan kapasitas ini, diperkirakan produksi solar dalam negeri akan meningkat signifikan, mencapai 70-80% dari total kebutuhan nasional.
Analisis Unik dan Simplifikasi:
Kebijakan penghentian impor solar sebenarnya merupakan langkah strategis jangka panjang yang tidak hanya menghemat devisa, tetapi juga mendorong penguatan industri dalam negeri. Dengan memaksimalkan potensi kilang minyak nasional, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan terhadap fluktuasi harga minyak dunia. Namun, tantangan utamanya adalah memastikan kilang-kilang dalam negeri mampu beroperasi secara efisien dan menghasilkan produk yang berkualitas tinggi. Selain itu, perlu ada koordinasi yang kuat antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta agar transisi dari impor ke produksi dalam negeri berjalan lancar.
Studi Kasus:
Kasus sukses bisa dilihat dari kilang Cilacap yang telah berhasil meningkatkan produksi solar hingga 95% dari total kapasitasnya. Kilang ini mampu memenuhi kebutuhan solar di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya tanpa perlu impor. Ini membuktikan bahwa dengan manajemen operasional yang baik, kilang dalam negeri mampu bersaing dengan produk impor.
Dengan komitmen kuat dari pemerintah dan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan, target swasembada solar bukanlah hal yang mustahil. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk membangun ketahanan energi nasional yang berkelanjutan. Ayo dukung produksi dalam negeri, kurangi impor, dan wujudkan kemandirian energi Indonesia!
Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.