Chromebook dan Tablet 2026: Akselerasi Baru dari Awal Lambat yang Mulai Berjalan

Saskia Puti

By Saskia Puti

Pasar Chromebook dan tablet mengalami perubahan signifikan pada tahun 2025. Kedua segmen perangkat ini mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah mengalami penurunan sebelumnya, didorong oleh inovasi perangkat keras, integrasi kecerdasan buatan (AI) yang lebih dalam, serta strategi baru dari perusahaan teknologi besar seperti Google dan Samsung. Meskipun pertumbuhannya belum mencapai level eksplosif, dasar untuk lonjakan yang lebih besar di masa depan mulai terbentuk.

Laporan dari berbagai analis menunjukkan bahwa penjualan Chromebook dan tablet mengalami pemulihan bertahap sepanjang tahun 2025. Pemulihan ini terjadi karena siklus pembaruan perangkat di sektor pendidikan dan korporat, serta matangnya ekosistem aplikasi yang mendukung produktivitas. Google terus memperluas definisi “Chromebook Plus” dengan menetapkan standar spesifikasi minimum yang lebih tinggi, memastikan pengalaman pengguna yang lebih lancar dan tangguh untuk multitasking.

Di sisi tablet, Android dan sistem operasi kustom dari berbagai vendor semakin fokus pada pengalaman hibrida antara konsumsi konten dan pekerjaan. Samsung, misalnya, semakin mengintegrasikan Galaxy Tab dengan ekosistem Galaxy-nya, menawarkan fitur seperti Second Screen dan Samsung DeX yang mengubah tablet menjadi workstation portabel. Inovasi ini mencoba menjawab kebutuhan pasar yang menginginkan satu perangkat untuk berbagai keperluan, meskipun tantangan optimasi software untuk layar besar tetap ada.

Integrasi AI menjadi faktor pendorong utama lainnya. Chromebook dan tablet kelas menengah ke atas mulai mengadopsi chipset dengan Neural Processing Unit (NPU) yang lebih kuat. Kemampuan ini tidak hanya untuk pengolah foto atau terjemahan real-time, tetapi juga untuk fitur produktivitas seperti merangkum dokumen, membantu menulis kode, atau mengoptimalkan manajemen baterai secara cerdas. AI menjadi nilai tambah yang membedakan perangkat sekaligus mendorong kenaikan harga perangkat flagship, sebuah tren yang juga terlihat di segmen ponsel.

Namun, jalan menuju pertumbuhan yang solid tidak mulus. Pasar masih dihadapkan pada persaingan ketat dari laptop Windows berbasis ARM yang semakin efisien, serta dari iPad yang telah lama mendominasi segmen tablet premium. Chromebook harus terus membuktikan bahwa mereka bukan sekadar perangkat browser yang murah, tetapi alternatif komputasi yang sah. Sementara itu, tablet Android perlu menciptakan lebih banyak aplikasi yang benar-benar dioptimalkan untuk produktivitas, bukan sekadar versi blown-up dari aplikasi ponsel.

Segmentasi pasar juga menjadi kunci dalam kebangkitan ini. Untuk tablet, pasar gaming menjadi salah satu motor penggerak. Hadirnya tablet dengan refresh rate layar tinggi, sistem pendingin yang baik, dan chipset gaming khusus menarik perhatian gamer mobile yang menginginkan pengalaman lebih imersif dibandingkan ponsel. Perangkat seperti ini menawarkan ruang bermain yang lebih luas dan kontrol yang lebih nyaman, meskipun untuk pengalaman gaming terbaik, pilihan perangkat keras yang tepat tetap menjadi faktor penentu.

Di sisi Chromebook, konektivitas dan dukungan aplikasi Android serta Linux membuka pintu bagi pengembang dan pengguna casual. Kemampuan menjalankan aplikasi Android berarti akses ke jutaan aplikasi di Play Store, sementara dukungan Linux (melalui Crostini) membuka kemungkinan untuk pengembangan perangkat lunak, editing konten sederhana, dan lainnya. Kombinasi ini membuat Chromebook menjadi perangkat yang fleksibel, cocok untuk pelajar, pengembang pemula, atau pekerja yang mengandalkan aplikasi web dan mobile.

Faktor eksternal seperti pemulihan kondisi ekonomi global dan stabilisasi rantai pasokan semikonduktor juga berperan dalam memulihkan kepercayaan produsen untuk meluncurkan model baru. Setelah periode kelangkaan chip, tahun 2025 mencatat lebih banyak variasi model Chromebook dan tablet dengan waktu tunggu yang lebih normal. Hal ini turut mendukung upaya pemulihan jaringan dan distribusi oleh operator, sebagaimana terlihat dalam target pemulihan jaringan Indosat Ooredoo Hutchison yang berdampak pada kelancaran distribusi perangkat elektronik.

Ke depan, batas antara Chromebook, tablet, dan bahkan perangkat lain seperti smart glasses diperkirakan akan semakin kabur. Konsep perangkat foldable dan rollable yang dapat berubah fungsi dari ponsel ke tablet kecil, atau dari tablet ke laptop, mulai mendapatkan traksi. Prototipe perangkat dengan bentuk faktor baru terus diuji, menantang definisi tradisional dari setiap kategori. Selain itu, teknologi realitas campuran (XR) dan augmented reality (AR) mulai merambah ke dalam roadmap produk. Meskipun masih dalam tahap awal, integrasi pengalaman AR melalui kamera perangkat atau aksesori seperti kacamata pintar dapat menjadi diferensiasi berikutnya untuk Chromebook dan tablet, terutama dalam bidang edukasi, desain, dan kolaborasi remote.

Dengan kata lain, tahun 2025 mungkin bukan tahun di mana Chromebook dan tablet mendominasi headline dengan pertumbuhan spektakuler. Namun, tahun ini adalah tahun di mana fondasi dibangun ulang. Inovasi di bidang AI, peningkatan kualitas perangkat keras, dan ekosistem perangkat lunak yang semakin terkoneksi menciptakan momentum untuk pertumbuhan yang lebih berkelanjutan. Bagi konsumen, ini berarti akan ada lebih banyak pilihan perangkat yang powerful, versatile, dan mampu mendukung baik kerja maupun gaya hidup digital di tahun-tahun mendatang.

Data Riset Terbaru: Studi IDC tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan pasar Chromebook sebesar 12% secara global, dengan permintaan tertinggi dari sektor pendidikan di Asia Pasifik. Sementara itu, laporan Strategy Analytics mencatat peningkatan penjualan tablet Android sebesar 8% di kawasan EMEA, didorong oleh permintaan perangkat hybrid untuk kerja remote.

Analisis Unik dan Simplifikasi: Tren saat ini menunjukkan pergeseran dari perangkat single-purpose ke perangkat multi-fungsi. Konsumen modern menginginkan perangkat yang dapat digunakan untuk bekerja, belajar, dan hiburan tanpa perlu membeli beberapa perangkat terpisah. Ini menjelaskan mengapa integrasi AI dan kemampuan hybrid menjadi fokus utama produsen.

Studi Kasus: Di Indonesia, sekolah-sekolah swasta di Jakarta mulai beralih ke Chromebook sebagai perangkat utama untuk pembelajaran digital. Mereka memilih Chromebook karena kemudahan manajemen, keamanan yang baik, dan kemampuan menjalankan aplikasi Android untuk pembelajaran interaktif.

Infografis Konvergensi Perangkat: Tren perangkat 2025 menunjukkan konvergensi antara laptop, tablet, dan smartphone. Perangkat dengan layar fleksibel dan kemampuan docking menjadi pilihan utama konsumen yang menginginkan portabilitas tanpa mengorbankan produktivitas.

Dunia teknologi terus bergerak cepat, dan tahun 2025 menjadi bukti nyata bahwa inovasi tidak pernah berhenti. Bagi Anda yang ingin tetap kompetitif, pertimbangkan untuk mengadopsi perangkat hybrid yang mendukung gaya hidup digital modern. Masa depan bukan tentang memilih antara laptop atau tablet, tapi tentang memiliki satu perangkat yang bisa melakukan keduanya dengan sempurna.

Baca juga Info Gadget lainnya di Info Gadget terbaru

Tinggalkan Balasan