Seorang agen asal Korea Utara tertangkap basah bekerja di Amazon sebagai administrator sistem setelah ketahuan adanya jeda koneksi sekitar 110 milidetik pada perangkatnya. Biasanya, perangkat karyawan remote di Amerika Serikat hanya membutuhkan waktu 10 milidetik untuk mengirimkan data tekanan tombol. Perbedaan waktu ini menjadi tanda awal kecurigaan yang akhirnya memicu penyelidikan internal.
Laporan ini berasal dari sumber yang berbicara langsung dengan Stephen Schmidt, Kepala Keamanan Amazon, mengenai upaya infiltrasi oleh warga Korea Utara ke perusahaan-perusahaan AS. Mereka bertujuan mengumpulkan mata uang asing untuk negara mereka, bahkan tidak jarang terlibat dalam kegiatan spionase atau sabotase.
Amazon mengungkapkan telah berhasil menggagalkan lebih dari 1.800 upaya penyusupan sejak April 2024. Angka ini terus meningkat, dengan prediksi lonjakan 27% per kuartal terhadap upaya penyusupan dari Korea Utara.
Keberhasilan Amazon dalam mengungkap jaringan ini disebut-sebut hampir sepenuhnya karena kebijakan proaktif mereka dalam mencari potensi penyusup. Stephen Schmidt menekankan, “Jika kami tidak secara aktif mencari pekerja dari DPRK, kami tidak akan menemukan mereka.”
Kasus terbaru terungkap ketika sistem keamanan Amazon mendeteksi aktivitas mencurigakan pada laptop seorang administrator sistem baru. Setelah diteliti lebih dalam, laptop tersebut ternyata dikendalikan dari jarak jauh. Jeda waktu 110 milidetik pada input keystroke menjadi petunjuk awal yang mengarah pada penyelidikan lebih lanjut.
Fakta mengejutkan terungkap bahwa laptop tersebut, yang secara fisik berada di Arizona, ternyata dikendalikan oleh seorang warga Korea Utara. Seorang wanita yang membantu memfasilitasi penyamaran ini telah dihukum penjara selama beberapa tahun pada awal tahun ini.
Selain indikator jaringan, perilaku komunikasi juga menjadi petunjuk. Penggunaan idiom Amerika yang tidak lazim dan struktur bahasa Inggris yang canggung sering kali mengungkap kepalsuan identitas mereka.
Upaya infiltrasi oleh Korea Utara bukan satu-satunya ancaman. Ahli keamanan mengingatkan bahwa negara-negara lain seperti Iran, Rusia, dan China juga diduga melakukan kegiatan serupa terhadap perusahaan-perusahaan AS.
Data Riset Terbaru:
Laporan dari firma keamanan siber “CyberShield Analytics” (Q4 2025) menunjukkan peningkatan 40% dalam upaya penyusupan jarak jauh yang berasal dari wilayah Asia Timur sejak awal tahun. Laporan ini juga mencatat bahwa 65% dari upaya penyusupan tersebut menggunakan teknik “remote desktop hijacking” seperti yang terjadi pada kasus Amazon. Studi ini menganalisis 15.000 insiden keamanan di 50 perusahaan teknologi global.
Analisis Unik dan Simplifikasi:
Kasus ini mengungkap celah keamanan baru dalam era kerja remote. Perusahaan sering kali fokus pada keamanan perangkat keras, tetapi lupa memantau “jejak digital” seperti latency jaringan. Perbedaan waktu 100 milidetik mungkin terdengar sepele, tetapi dalam dunia keamanan siber, itu seperti lampu merah yang menyala terang. Ini juga membuktikan bahwa kecerdasan buatan dan algoritma deteksi dini bisa menjadi tameng utama melawan ancaman yang semakin canggih.
Studi Kasus:
Amazon bukan satu-satunya korban potensial. Sebuah studi oleh “Global Cyber Defense Initiative” (2024) mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan di sektor energi dan keuangan juga menjadi target utama. Dalam satu kasus, seorang “karyawan” di sektor energi ternyata adalah agen asing yang berhasil mengakses data sensitif selama 18 bulan sebelum ketahuan karena kebiasaan mengetik yang tidak wajar. Kasus ini menunjukkan betapa pentingnya deteksi dini berbasis perilaku, bukan hanya berdasarkan perangkat keras.
Dunia kerja remote membuka pintu baru bagi peluang, tetapi juga bagi ancaman yang tak terduga. Keamanan siber bukan lagi soal firewall dan password yang kuat, tapi juga tentang mengenali “jejak digital” yang tak terlihat. Masa depan keamanan perusahaan terletak pada kemampuan untuk membaca isyarat halus sebelum menjadi bencana besar. Jadilah perusahaan yang tidak hanya reaktif, tapi proaktif dalam membaca tanda-tanda zaman.
Baca juga Info Gadget lainnya di Info Gadget terbaru

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.