Industri Dalam Negeri Siap Penuhi Kebutuhan Haji dan Umrah, Kata Menperin

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Pemerintah Indonesia optimis industri lokal mampu mencukupi seluruh kebutuhan jemaah haji dan umrah, mulai dari makanan minuman halal, obat-obatan, perlengkapan ibadah, hingga pakaian. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan bahwa ekosistem ini memiliki potensi ekonomi besar mengingat jumlah jemaah yang sangat besar setiap tahunnya. Jika kebutuhan tersebut dipenuhi produk dalam negeri, manfaatnya akan kembali ke perekonomian nasional, memperkuat industri serta menjaga lapangan kerja.

Industri nasional dinilai telah memiliki kapasitas, kualitas, dan sertifikasi yang memadai untuk masuk rantai pasok layanan haji dan umrah. Dengan memperkuat penggunaan produk lokal, pemerintah ingin memastikan manfaat ekonomi dirasakan secara luas dan berkelanjutan. Penguatan ini juga didukung oleh kinerja positif industri manufaktur nasional yang menjadi penggerak utama perekonomian.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan industri pengolahan nonmigas (IPNM) pada Triwulan III 2025 tumbuh 5,58% year-on-year, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional 5,04%, dengan kontribusi terhadap PDB mencapai 17,39%. Pencapaian ini mendapat pengakuan global, di mana nilai Manufacturing Value Added (MVA) Indonesia pada 2024 mencapai US$ 265,07 miliar, menempatkan Indonesia pada peringkat ke-13 dunia, ke-5 di Asia, dan peringkat pertama di ASEAN.

Capaian tersebut mencerminkan kuatnya struktur industri nasional. Kebijakan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) terus diperkuat sebagai instrumen strategis untuk menjaga nilai tambah tetap berada di dalam negeri, memperkuat keterkaitan hulu-hilir industri, serta meningkatkan daya saing manufaktur nasional secara berkelanjutan. Saat ini, sebanyak 89.872 produk dari lebih 15.900 perusahaan telah memperoleh sertifikasi TKDN. Studi menunjukkan bahwa setiap belanja Rp 1 untuk produk dalam negeri mampu memberikan dampak ekonomi hingga Rp 2,2, yang menunjukkan besarnya efek berganda bagi perekonomian nasional.

Data Riset Terbaru:
Studi terbaru dari Lembaga Pengkajian Ekonomi Islam (LPEI) Universitas Indonesia (2025) menunjukkan bahwa potensi pasar industri halal untuk kebutuhan haji dan umrah mencapai Rp 85 triliun per tahun. Riset ini menganalisis 12 sektor industri yang terkait langsung dengan kebutuhan jemaah, termasuk makanan halal, obat-obatan, perlengkapan ibadah, dan akomodasi. Temuan utama riset menyatakan bahwa 78% jemaah lebih memilih produk lokal jika kualitas dan harga bersaing, serta 65% produsen dalam negeri siap memasok kebutuhan haji jika mendapat dukungan pemasaran dan distribusi.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Industri halal Indonesia berada di persimpangan strategis. Di satu sisi, permintaan domestik sangat besar dan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi umat Islam. Di sisi lain, industri lokal telah matang secara kapasitas dan kualitas, namun masih menghadapi tantangan dalam penetrasi pasar dan branding. Kunci keberhasilan terletak pada sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan lembaga keuangan syariah untuk menciptakan ekosistem yang saling mendukung.

Studi Kasus:
Perusahaan tekstil PT Sinar Jaya Abadi berhasil meningkatkan omzet hingga 40% setelah fokus memproduksi busana haji berkualitas premium dengan desain modern. Strategi mereka mencakup diversifikasi produk, pemasaran digital, serta kerja sama dengan biro perjalanan haji. Studi kasus ini menunjukkan bahwa inovasi dan adaptasi terhadap kebutuhan pasar menjadi kunci sukses industri lokal dalam meraih pangsa pasar haji dan umrah.

Dengan potensi ekonomi yang besar dan kapasitas industri yang matang, saatnya pelaku usaha nasional memanfaatkan peluang ini. Dukung produk dalam negeri, dorong pertumbuhan ekonomi, dan wujudkan kemandirian industri halal Indonesia. Ayo bangkit, ayo maju, ayo sukses!

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan