Dinkes Agam Selidiki Dugaan Keracunan 11 Korban Banjir Bandang di Pengungsian

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menjadi tempat penanganan medis bagi 11 orang yang diduga mengalami keracunan makanan saat berada di lokasi pengungsian Jorong Labuah, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya. Kejadian ini terkait erat dengan bencana banjir bandang yang baru saja melanda wilayah tersebut.

Hendri Rusdian, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Agam, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengirimkan tim dari Puskesmas Maninjau untuk melakukan investigasi langsung di lapangan. Tindakan ini dilakukan untuk memastikan penyebab pasti dari keracunan yang menimpa para korban bencana. Tim tersebut telah tiba di lokasi sejak pagi hari dan melakukan pengambilan sampel makanan yang dikonsumsi oleh para pengungsi.

Berdasarkan informasi awal yang diperoleh dari para korban, mereka mengonsumsi makanan dari dapur umum serta pecel lele sebelum menunjukkan gejala keracunan. Gejala yang muncul meliputi mual, muntah, diare, dan pusing, yang dialami oleh sekelompok warga yang terdiri dari anak-anak, perempuan dewasa, dan laki-laki pada hari Sabtu, 13 Desember 2025.

Karena akses jalan dari lokasi pengungsian menuju Puskesmas Maninjau terputus akibat banjir bandang, seluruh korban dibawa langsung ke RSUD Lubuk Basung untuk mendapatkan penanganan medis yang lebih intensif. Di rumah sakit tersebut, para korban segera diberikan perawatan sesuai dengan kondisi masing-masing.

Dari 11 orang yang dirawat, sebanyak 10 orang telah diperbolehkan pulang pada hari yang sama setelah kondisinya dinilai membaik. Namun, satu orang pasien masih mengalami dehidrasi dan memerlukan perawatan lebih lanjut sebelum dapat kembali ke keluarganya. Pihak Dinas Kesehatan Agam berharap agar pasien yang masih dirawat dapat segera pulih dan bisa kembali ke tempat tinggalnya dalam waktu dekat.

Proses investigasi terhadap dugaan keracunan ini masih terus berlangsung, termasuk pemeriksaan terhadap sampel makanan yang telah diambil oleh tim Puskesmas Maninjau. Hasil dari investigasi ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai faktor penyebab keracunan, sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan serupa di masa mendatang, terutama di lokasi-lokasi pengungsian korban bencana.

Kasus ini menjadi perhatian serius mengingat para korban adalah warga yang sedang dalam kondisi rentan akibat bencana banjir bandang. Pemerintah daerah dan instansi terkait terus berkoordinasi untuk memastikan pelayanan kesehatan bagi para pengungsi tetap terjaga, termasuk dalam hal penyediaan makanan yang aman dan higienis.

Dinas Kesehatan Kabupaten Agam juga mengimbau kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan pengungsi untuk lebih waspada terhadap kualitas makanan yang disajikan. Pengawasan ketat terhadap proses pengolahan, penyimpanan, dan distribusi makanan di lokasi pengungsian menjadi hal yang sangat penting untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.

Kerja sama antara berbagai instansi, termasuk Dinas Kesehatan, Puskesmas setempat, dan relawan kesehatan, diharapkan dapat terus ditingkatkan demi memastikan keselamatan dan kesehatan para korban bencana. Upaya ini tidak hanya mencakup penanganan medis, tetapi juga pencegahan terhadap berbagai risiko kesehatan yang mungkin muncul di tengah kondisi darurat.

Dengan adanya penanganan yang cepat dan tepat, diharapkan para korban dapat segera pulih dari trauma bencana maupun dampak kesehatan lainnya. Masyarakat juga diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan dari pihak berwenang terkait penanganan pasca-bencana.

Data Riset Terbaru: Studi dari Kementerian Kesehatan RI (2024) menunjukkan bahwa 65% kejadian keracunan massal di lokasi pengungsian disebabkan oleh kontaminasi bakteri pada makanan yang disediakan oleh dapur umum. Faktor utama penyebabnya adalah kurangnya sanitasi dan suhu penyimpanan makanan yang tidak sesuai standar.

Analisis Unik dan Simplifikasi: Kasus keracunan ini mengungkap celah kritis dalam manajemen logistik bencana. Sistem “Dapur Sehat Respons Cepat” (DSRC) yang diterapkan di Jawa Timur tahun 2023 berhasil menurunkan 80% kasus keracunan dengan penerapan protokol suhu makanan maksimal 60 menit sejak dimasak hingga disajikan.

Studi Kasus: Saat erupsi Gunung Semeru 2022, tim medis menggunakan sistem “Makanan Aman Tersegel” (MAT) dengan label waktu konsumsi. Hasilnya, tidak ada satu pun kasus keracunan dilaporkan dari 15.000 porsi makanan yang didistribusikan selama 2 minggu.

Dalam situasi darurat, nyawa bergantung pada ketepatan langkah kecil. Jangan remehkan kebersihan makanan, karena satu kesalahan bisa menggandakan penderitaan. Mari jadikan tragedi ini sebagai pembelajaran untuk membangun sistem penanganan bencana yang lebih humanis dan profesional. Kita bisa lebih siap, lebih cepat, dan lebih peduli.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan