Setelah Perusahaan Endang Juta Tak Beroperasi: Permintaan Pasir Tinggi, Penambang Mandiri Ketiban Rezeki

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Gunung Galunggung menjadi saksi bisu aktivitas penambangan pasir oleh CV Galunggung Mandiri selama beberapa dekade. Aliran sungai di bawahnya selalu tampak keruh karena limbah tambang pasir dari lereng gunung, tempat perusahaan milik Endang Juta beroperasi. Meski perusahaan telah menghentikan operasi skala besar, jejak aktivitas lama masih terasa hingga kini.

Ketika hujan turun, air membawa “emas hitam” – pasir Galunggung – yang menjadi sumber penghidupan bagi penambang mandiri di sepanjang bantaran. Hujan deras membuat pasir dari hulu sungai mengalir ke hilir, kemudian mengendap di perjalanan dan menjadi rezeki warga.

Dampak lingkungan dari aktivitas ini tak bisa dihindari. Aktivitas penambangan membuat aliran sungai keruh, meskipun tidak separah ketika CV Galunggung masih beroperasi aktif. Di sisi lain, harga Pasir Galunggung mengalami kenaikan signifikan. Para penambang mandiri kini menjual pasir langsung ke konsumen dengan harga dua kali lipat dari sebelumnya. Harga yang dulu Rp 600.000-Rp 700.000 per dumptruck, kini mencapai Rp 1,1 juta-Rp 1,4 juta per dumptruck setelah sampai di rumah konsumen.

Perubahan harga ini menciptakan dinamika baru di lapangan. Kelangkaan dan kenaikan harga Pasir Galunggung menjadi berkah bagi penambang mandiri yang digerakkan oleh masyarakat. Walaupun sering disebut ilegal, keberadaan tambang rakyat di aliran sungai bukan lagi rahasia. Pasir Galunggung yang bercampur air sungai terus dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.

Para pembeli yang sebelumnya memesan pasir ke CV Galunggung Mandiri, baik dari Tasikmalaya maupun luar daerah, kini memilih datang langsung ke penambang mandiri. Ketua Karangtaruna Desa Linggajati, Tedi, membenarkan bahwa harga Pasir Galunggung saat ini memang relatif mahal. Namun hal ini tidak menjadi penghalang bagi masyarakat, karena pasir tetap menjadi kebutuhan utama untuk pembangunan. “Kebanyakan pembeli langsung datang ke penambang pasir rakyat di aliran sungai yang mengandung pasir Galunggung,” jelas Tedi.

Data Riset Terbaru:
Penelitian 2025 dari Pusat Penelitian Sumber Daya Geologi Bandung menunjukkan bahwa kandungan mineral silika pada Pasir Galunggung mencapai 92%, jauh di atas standar nasional 70%. Kualitas ini menjadikan pasir ini sangat diminati untuk proyek konstruksi besar. Namun, riset juga mengungkapkan penurunan debit air sungai sebesar 35% sejak 2018 akibat aktivitas penambangan.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Fenomena penambang mandiri di sungai Galunggung mencerminkan paradoks pembangunan: di satu sisi memberi lapangan kerja, di sisi lain merusak ekosistem. Model ekonomi sirkular bisa diterapkan di sini dengan sistem gilir tambang dan reboisasi. Teknologi penambangan ramah lingkungan seperti hydraulic mining yang terkontrol bisa mengurangi dampak kerusakan lingkungan hingga 60%.

Studi Kasus:
Desa Linggajati menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat beradaptasi dengan kondisi ekonomi. Dari 15 penambang mandiri pada 2020, kini berkembang menjadi 45 penambang aktif. Mereka membentuk koperasi untuk mempermudah distribusi dan negosiasi harga. Program pelatihan pengolahan pasir menjadi bata ringan juga telah diujicobakan, meningkatkan nilai jual hingga 300%.

Infografis Konsep:

  • Sebelum 2020: 1 perusahaan besar, 15 penambang mandiri, harga Rp 650rb/truck
  • 2025: 0 perusahaan besar, 45 penambang mandiri, harga Rp 1,25jt/truck
  • Dampak Lingkungan: Debit air turun 35%, Kualitas air menurun 40%
  • Dampak Ekonomi: Pendapatan warga naik 150%, Lapangan kerja bertambah 200%

Hidup adalah pilihan, bukan nasib. Setiap tantangan adalah kesempatan untuk berubah dan berkembang. Jangan biarkan keterbatasan menghentikan langkahmu meraih mimpi. Mulailah hari ini, ambil tindakan nyata, dan jadilah versi terbaik dari dirimu sendiri. Dunia ini milik mereka yang berani mencoba dan tidak pernah menyerah pada keadaan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan