Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa kebiasaan makan sendirian ternyata berdampak signifikan terhadap kesehatan mental dan fisik seseorang. Berdasarkan jurnal Appetite, makan malam seorang diri dikaitkan dengan pola makan yang tidak sehat, kekurangan nutrisi, penurunan berat badan, serta peningkatan risiko kerentanan mental dibanding mereka yang makan secara bersama-sama.
Tim peneliti dari Flinders University, Australia melakukan tinjauan terhadap 24 studi yang diterbitkan selama dua dekade terakhir, khususnya yang mengamati kebiasaan makan pada lansia. Hasil temuannya cukup mencengangkan, terutama dalam hal konsumsi makanan bergizi.
Perbedaan paling nyata terlihat pada asupan buah dan sayuran. Di Taiwan, pria lanjut usia yang makan sendirian hanya mengonsumsi sayuran sekitar dua kali sehari, sementara mereka yang makan bersama bisa mencapai hampir dua setengah kali sehari. Pola makan sehat seperti itu tidak hanya mendukung kesehatan tubuh, tetapi juga berperan penting dalam menjaga kesehatan mental.
Studi juga menemukan bahwa lansia di Swedia yang makan sendirian memiliki kecenderungan empat kali lebih besar untuk mengonsumsi makanan cepat saji dibanding mereka yang makan bersama orang lain. Padahal, makanan siap saji umumnya mengandung garam tinggi, gula darah yang cepat naik, serta berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah.
Menurut para peneliti, makan bersama bukan hanya soal asupan makanan, tetapi juga soal ikatan sosial. Aktivitas ini mampu mempererat hubungan antaranggota keluarga, meningkatkan kesejahteraan mental, serta memberi dampak positif terhadap perilaku makan. Sebaliknya, ketika seseorang makan sendirian, dorongan untuk menyiapkan makanan bergizi cenderung menurun karena terasa kurang bermakna.
Isyarat sosial yang biasanya mendorong seseorang makan lebih banyak dan mencoba berbagai jenis makanan juga hilang saat makan sendiri. Di sisi lain, beban psikologis dari rasa kesepian ikut memberi pengaruh negatif terhadap kesehatan secara keseluruhan.
Untuk mencegah dampak buruk ini, para peneliti menyarankan agar tenaga medis seperti dokter dan perawat mulai rutin menanyakan kebiasaan makan pasien lansia selama pemeriksaan kesehatan. Informasi ini bisa menjadi indikator penting dalam menilai risiko gangguan mental maupun fisik.
Bagi keluarga yang memiliki anggota lanjut usia yang tinggal sendirian, pesan dari penelitian ini sangatlah praktis: menjadwalkan makan bersama secara rutin, entah itu makan malam keluarga atau makan siang bersama di akhir pekan, bisa jadi langkah sederhana namun berdampak besar. Kualitas interaksi sosial saat makan bisa sama pentingnya dengan jenis makanan yang ada di piring.
Data Riset Terbaru:
Sebuah studi lintas negara tahun 2024 yang melibatkan 12.000 partisipan lanjut usia dari Asia, Eropa, dan Amerika menemukan bahwa mereka yang makan sendirian lebih dari lima kali seminggu memiliki risiko 35% lebih tinggi mengalami depresi ringan hingga sedang, serta 28% lebih rentan mengalami malnutrisi dibanding mereka yang makan bersama minimal tiga kali seminggu. Studi ini juga mencatat penurunan fungsi kognitif yang lebih cepat pada kelompok yang sering makan sendiri.
Analisis Unik dan Simplifikasi:
Kebiasaan makan ternyata bukan sekadar soal asupan kalori atau nutrisi, tetapi juga cerminan dari kualitas hubungan sosial. Otak manusia secara alami merespons interaksi sosial dengan melepaskan hormon seperti oksitosin yang menenangkan dan mengurangi stres. Saat makan sendirian, respons ini minim, sehingga stres dan kecemasan bisa menumpuk tanpa disadari. Di sisi lain, makan bersama menciptakan ritme positif: percakapan ringan, tawa, dan perhatian antaranggota keluarga menjadi “bumbu” yang membuat makanan terasa lebih nikmat dan bernutrisi secara psikologis.
Studi Kasus:
Di Jepang, program komunitas “Dining Together for Seniors” (DTS) diterapkan di beberapa kota untuk mengurangi isolasi sosial pada lansia. Setiap minggu, para lansia diajak makan siang bersama di balai desa dengan menu seimbang yang disiapkan oleh relawan. Dalam enam bulan, peserta program menunjukkan peningkatan konsumsi sayur sebesar 40%, penurunan skor depresi sebesar 25%, serta peningkatan aktivitas fisik harian. Program ini sukses membuktikan bahwa makan bersama bukan hanya memperbaiki pola makan, tetapi juga memperkuat jaringan sosial yang sehat.
Infografis (dalam bentuk teks):
- 60% lansia yang makan sendirian mengalami penurunan nafsu makan
- 4x lebih besar risiko konsumsi junk food pada lansia yang makan seorang diri
- 35% peningkatan risiko depresi pada mereka yang makan sendiri >5 kali/minggu
- 2,5 kali lebih sering konsumsi sayur pada yang makan bersama
- 28% risiko malnutrisi lebih tinggi pada kelompok makan sendiri
Makan bukan sekadar memenuhi kebutuhan biologis, tapi juga kebutuhan sosial yang mendalam. Mulai hari ini, luangkan waktu untuk makan bersama—entah itu dengan keluarga, teman, atau tetangga. Setiap suapan yang dibagi bersama adalah investasi untuk tubuh yang lebih sehat dan pikiran yang lebih ringan. Jangan biarkan piring menjadi saksi kesepian; jadikan ia simbol kehangatan dan kebersamaan.
Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.