Pemotor di Sulawesi Selatan Tewas Dililit Ular Piton Usai Terjatuh dari Kendaraan

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Seorang petani berusia 57 tahun, Nurdin, menjadi korban serangan ular piton saat mengendarai sepeda motor di wilayah Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Peristiwa tragis tersebut terjadi ketika korban bersama sang istri dalam perjalanan pulang dari kebun merica miliknya. Motor yang mereka tumpangi melewati jalur yang dipenuhi semak belukar dan pepohonan rimbun, menjadi lokasi kejadian mengerikan tersebut.

Menurut keterangan resmi dari Bripka Andi Muh Taufik, Kasi Humas Polres Luwu Timur, korban tidak menyadari keberadaan reptil besar tersebut di sekitar lokasi. Ular piton tiba-tiba muncul dan langsung menggigit kaki korban, menyebabkan keseimbangan motor hilang. Keduanya terjatuh ke tanah, dengan nasib tragis menimpa Nurdin yang kemudian tertindih oleh kendaraannya sendiri.

Kejadian semakin memilukan ketika ular piton tersebut melilit tubuh korban di bagian perut. Sang istri sempat berusaha mencari pertolongan kepada warga sekitar, namun nyawa Nurdin tidak dapat diselamatkan. Warga yang datang terpaksa membunuh ular tersebut dengan cara menebasnya untuk melepaskan lilitan di tubuh korban yang sudah tidak bernyawa.

Insiden ini menjadi peringatan penting bagi masyarakat yang sering melewati area hutan atau semak belukar yang menjadi habitat alami ular-ular besar seperti piton. Kejadian tragis ini mengingatkan kita akan pentingnya kewaspadaan ekstra saat melintasi wilayah-wilayah yang berpotensi menjadi tempat tinggal hewan-hewan liar.

Kasus serupa sebelumnya pernah terjadi di berbagai daerah di Indonesia, namun insiden yang mengakibatkan kematian seperti ini tergolong langka. Piton biasanya akan menghindari kontak langsung dengan manusia, namun dalam kondisi tertentu seperti merasa terganggu atau terancam, reptil ini dapat menyerang secara tiba-tiba.

Data riset terbaru dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Selatan menunjukkan peningkatan populasi ular piton di kawasan hutan sekitar permukiman penduduk. Faktor utamanya adalah perubahan habitat akibat aktivitas penebangan liar dan perluasan lahan pertanian yang memaksa hewan-hewan ini mencari wilayah baru.

Studi kasus terkini dari Universitas Hasanuddin Makassar mengungkapkan bahwa serangan ular piton terhadap manusia di Sulawesi Selatan mengalami peningkatan 40% selama lima tahun terakhir. Penelitian ini melibatkan survei di 15 kabupaten/kota dan menemukan bahwa area dengan kerusakan hutan lebih dari 60% memiliki risiko tertinggi terjadi konflik manusia-ular.

Infografis terbaru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa Sulawesi Selatan berada di peringkat ketiga nasional dalam kasus konflik manusia-ular piton. Data menunjukkan 127 kasus serangan piton tercatat sepanjang 2024, dengan 15 kasus berakhir fatal. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan tahun 2020 yang hanya mencatat 73 kasus secara nasional.

Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi kita semua tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan menghormati habitat alami makhluk hidup lain. Saat kita memasuki wilayah alam, kita harus tetap waspada dan menghargai keberadaan penghuni aslinya. Mari tingkatkan kesadaran akan pentingnya konservasi alam dan kehati-hatian saat beraktivitas di area yang berpotensi menjadi habitat hewan liar. Kejadian seperti ini bisa menjadi pelajaran berharga untuk kita semua agar selalu waspada dan menghormati alam serta penghuninya.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan