Sekelompok peneliti dari University of Toronto menyampaikan bahwa perubahan cara berbicara bisa menjadi tanda awal penurunan fungsi otak, termasuk yang terkait dengan penyakit Alzheimer. Alzheimer merupakan gangguan neurodegeneratif yang menyebabkan penurunan kemampuan berpikir, mengingat, dan menjalani aktivitas harian secara bertahap akibat kerusakan sel saraf di otak.
Penelitian ini menekankan bahwa kecepatan berbicara seseorang bisa menjadi indikator penting terhadap penurunan kognitif. Fenomena ini dikenal sebagai ‘lethologica’, yaitu kesulitan untuk mengingat kata atau nama secara tiba-tiba. Kondisi ini dapat terjadi pada usia muda maupun tua, namun cenderung lebih sering dialami oleh mereka yang berusia di atas 60 tahun. Dalam penelitian tersebut, 125 orang dewasa dengan rentang usia 18 hingga 90 tahun diminta untuk mendeskripsikan sebuah adegan secara detail.
Setiap peserta ditunjukkan gambar benda sehari-hari, seperti sapu, sambil mendengarkan rekaman suara yang bisa mendukung atau justru membingungkan. Sebagai contoh, saat melihat gambar sapu, peserta mendengar suara ‘sapu’ untuk memudahkan, atau ‘pel’ yang justru menyesatkan. Hasilnya, semakin cepat kecepatan bicara alami seseorang, semakin cepat pula ia mampu memberikan respons yang tepat.
Temuan ini mendukung teori kecepatan pemrosesan (processing speed theory), yang menyatakan bahwa perlambatan umum dalam pemrosesan informasi oleh otak menjadi pusat dari penurunan fungsi kognitif, bukan hanya disebabkan oleh gangguan memori semata. Psikolog Hsi T Wei, yang memimpin penelitian, menjelaskan bahwa individu yang lebih tua cenderung lebih lambat dalam menyelesaikan berbagai tugas kognitif, seperti menyebutkan nama gambar, menjawab pertanyaan, atau membaca teks.
Dalam interaksi sehari-hari, orang tua juga sering menunjukkan ketidaklancaran berbicara, seperti jeda panjang atau penggunaan kata pengisi seperti ‘uh’ dan ‘um’. Kecepatan bicara yang melambat ternyata bukan sekadar masalah pelafalan, melainkan cerminan dari proses kognitif yang lebih dalam.
Studi ini semakin diperkuat oleh penelitian dari Stanford University pada tahun 2024, yang menemukan hubungan antara jeda bicara yang lebih panjang serta kecepatan bicara yang lebih lambat dengan peningkatan kadar protein tau di otak—salah satu penanda biologis utama Alzheimer. Pemindaian otak dari 237 orang dewasa tanpa gangguan kognitif menunjukkan bahwa mereka yang memiliki akumulasi protein tau lebih tinggi cenderung berbicara lebih lambat, memiliki jeda antar kata yang lebih lama, serta lebih sering terdiam dalam percakapan.
Yang menarik, temuan ini mengungkap bahwa tanda penurunan fungsi otak tidak hanya dilihat dari isi atau struktur kalimat yang diucapkan, tetapi juga dari ritme dan kecepatan berbicara seseorang. Ini membuka peluang besar bagi pengembangan alat skrining dini berbasis suara yang non-invasif dan mudah diakses.
Studi Kasus: Deteksi Dini Lewat Rekaman Suara
Sebuah proyek kolaborasi antara tim medis dan insinyur AI di Jepang berhasil menguji coba sistem deteksi dini penurunan kognitif menggunakan rekaman suara pasien lansia selama 5 menit. Dengan algoritma analisis kecepatan bicara, frekuensi jeda, dan pola pengucapan, sistem ini mampu mengidentifikasi kelompok risiko tinggi dengan akurasi mencapai 82%. Hasilnya kemudian dikonfirmasi melalui pemeriksaan neuroimaging. Studi ini membuktikan bahwa perubahan kecil dalam cara seseorang berbicara bisa menjadi early warning system yang andal.
Infografis: Tanda Penurunan Kognitif dari Cara Bicara
- Kecepatan bicara menurun drastis
- Sering mengalami jeda panjang sebelum menjawab
- Banyak menggunakan kata pengisi (‘eh’, ‘um’, ‘yang…’)
- Sulit menyebutkan nama benda atau orang secara tiba-tiba
- Ucapan menjadi terputus-putus tanpa sebab jelas
Perubahan cara berbicara bukan sekadar efek penuaan, tapi bisa jadi sinyal penting dari kesehatan otak Anda. Semakin cepat Anda peka terhadap perubahan ini, semakin besar peluang untuk melakukan intervensi dini. Lindungi otak Anda mulai dari sekarang—dengan pola hidup sehat, stimulasi mental rutin, dan deteksi dini yang cermat. Otak sehat, hidup bermakna.
Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.