Menhut Fokus Penanganan Bencana di Sumatera: Evaluasi Menyusul Setelah Penanganan Selesai

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan bahwa pihaknya sedang fokus menangani bencana banjir dan longsor di Sumatera. Meski tengah menghadapi situasi darurat, ia menegaskan kementerian tetap terbuka terhadap kritik dan masukan dari masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Raja Juli setelah melakukan peninjauan langsung ke lokasi longsor di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Dalam kesempatan itu, ia didampingi oleh Kapolda Sumbar Irjen Gatot Tri Suryanta dan Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan. “Saya mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya atas musibah yang kita alami bersama. Saya bersama Kapolda Sumbar, Riau, dan TNI telah mengevakuasi dua jenazah korban meninggal. Saat ini fokus utama kami adalah penanganan darurat,” ujar Raja Juli di Agam, Minggu (30/11/2025).

Ketika ditanya mengenai langkah konkret Kementerian Kehutanan dalam menanggapi bencana banjir bandang di kawasan utara Pulau Sumatera, Raja Juli menekankan prioritas penanganan korban terlebih dahulu. Ia juga menegaskan kesiapan menerima evaluasi dan kritik setelah masa tanggap darurat berakhir. “Kami meminta semua pihak bersabar. Saat ini fokus kami adalah menyelesaikan persoalan darurat. Setelah situasi kondusif, saya sangat terbuka untuk menerima masukan, kritik, serta evaluasi dari seluruh elemen masyarakat,” tambahnya.

Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban yang terus bertambah akibat bencana alam yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Hingga Minggu (30/11), total korban meninggal mencapai 316 orang, dengan rincian 54 orang di Aceh, 90 orang di Sumatera Barat, dan 172 orang di Sumatera Utara. Selain itu, masih terdapat ratusan orang yang dinyatakan hilang, yakni 55 orang di Aceh, 87 orang di Sumatera Barat, dan 147 orang di Sumatera Utara.

Berdasarkan penjelasan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, proses evakuasi dan pencarian korban masih terus dilakukan meskipun cuaca menjadi kendala utama. Tim gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, dan relawan kembali dikerahkan untuk membantu masyarakat terdampak serta mempercepat pemulihan infrastruktur dasar.

Data Riset Terbaru menunjukkan bahwa intensitas curah hujan ekstrem di wilayah Sumatera mencapai 250-400 mm per hari selama tiga hari terakhir, jauh di atas rata-rata normal. Kondisi ini diperparah oleh kerusakan hutan di daerah aliran sungai, yang diduga menjadi faktor pemicu banjir dan longsor semakin parah. Studi dari Pusat Penelitian Kebencanaan Universitas Andalas menyebutkan bahwa 60% hutan di DAS Agam mengalami degradasi berat akibat aktivitas ilegal seperti penebangan liar dan perluasan lahan pertanian.

Infografis yang dirilis oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan tren penurunan tutupan hutan di Sumatera sebesar 1,2% per tahun dalam dekade terakhir. Angka ini menjadi peringatan serius bagi upaya mitigasi bencana jangka panjang. Analisis unik menyimpulkan bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat lokal, dan lembaga swadaya perlu diperkuat untuk memperbaiki tata kelola hutan dan mencegah bencana serupa di masa depan.

Kita tidak boleh menyerah menghadapi bencana alam. Semangat gotong royong dan kerja sama lintas sektor menjadi kunci utama dalam membangun ketahanan masyarakat. Mari jadikan musibah ini sebagai momentum untuk belajar, berbenah, dan membangun sistem penanggulangan bencana yang lebih tangguh. Dengan solidaritas dan komitmen bersama, Indonesia pasti mampu bangkit dan tumbuh lebih kuat lagi.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan