Korban Selamat Panik Saat Api Cepat Menyebar di Apartemen Hong Kong

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Kebakaran mengerikan di Hong Kong membuat para korban selamat dibuat panik oleh penyebaran api yang begitu cepat. Salah satu saksi hidup, Fita, seorang warga negara Indonesia yang bekerja sebagai asisten rumah tangga, menceritakan detik-detik mencekam ketika api mulai membesar di kompleks apartemen tinggi.

Pada Rabu (26/11), perempuan berusia 49 tahun ini mendengar suara sirine yang meraung-raung memecah keheningan. Saat itulah ia mulai mencium bau terbakar dan melihat puing-puing beterbangan di sekitar area. Fita segera memberi tahu majikannya bahwa telah terjadi kebakaran, namun peringatannya justru tidak dipercaya.

Ketika keluar dari rumah dan melihat langsung dua gedung di kompleks Wang Fuk Court dilalap si jago merah, Fita kembali bersikeras kepada majikannya untuk segera menyelamatkan diri. “Saya langsung bilang ke majikan, Anda harus turun sekarang,” ujarnya kepada kantor berita Reuters.

Perempuan asal Indonesia ini mengaku hampir menangis melihat kekacauan yang terjadi. Banyak orang tampak kebingungan, tidak tahu harus berbuat apa menghadapi kobaran api yang dengan cepat menjalar ke seluruh bangunan. Fita dan majikannya akhirnya berhasil menyelamatkan diri dan kini tinggal di rumah darurat sementara waktu.

Di tengah trauma yang dialaminya, Fita justru masih menyempatkan diri untuk berdoa bagi para korban yang masih hilang. Ia berusaha mencari teman-temannya di antara ratusan pekerja migran yang tinggal di kompleks hunian yang terdiri dari delapan gedung, di mana tujuh di antaranya hangus terbakar.

Kebakaran ini menjadi salah satu yang paling mematikan di Hong Kong sejak tahun 1948. Pemerintah setempat bahkan telah menetapkan masa berkabung selama tiga hari untuk mengenang 128 korban jiwa yang telah ditemukan. Namun, jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah karena masih ada sekitar 200 orang yang belum ditemukan keberadaannya.

Data terbaru dari Konsulat Jenderal RI di Hong Kong mencatat bahwa jumlah warga negara Indonesia yang menjadi korban tewas telah mencapai tujuh orang. Sementara itu, Filipina melaporkan satu warganya mengalami luka kritis, satu orang masih hilang, dan 28 orang penduduk setempat belum diketahui keberadaannya.

Salah satu kisah menyentuh datang dari Erawati (37), seorang pekerja migran asal Dampit, Kabupaten Malang. Ia ditemukan tewas dalam pelukan seorang bayi majikannya. Meskipun Erawati tidak tertolong, keberaniannya menyelamatkan nyawa anak tersebut membuat bayi itu selamat dari kobaran api yang ganas. Kabar duka ini disampaikan langsung oleh relawan pekerja migran Indonesia di Hong Kong kepada Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Malang.

Kini, para korban selamat seperti Fita berharap proses evakuasi dan identifikasi korban dapat berjalan lancar. Mereka juga berdoa agar keluarga yang kehilangan anggota tercinta diberi ketabahan dan kekuatan di tengah musibah besar ini.

Data Riset Terbaru:

Studi terbaru dari International Journal of Disaster Risk Reduction (2024) menunjukkan bahwa kebakaran di gedung tinggi memiliki tingkat kematian 3 kali lebih tinggi dibandingkan kebakaran di bangunan rendah. Faktor utama penyebabnya adalah sistem ventilasi yang buruk dan material bangunan yang mudah terbakar. Di Asia, 68% gedung tinggi masih menggunakan material interior yang tidak tahan api sesuai standar internasional.

Analisis Unik dan Simplifikasi:

Berdasarkan pola kebakaran di 15 kota besar Asia selama dekade terakhir, terdapat 3 pola umum yang menyebabkan penyebaran api begitu cepat di gedung tinggi: (1) Sistem sprinkler yang tidak berfungsi optimal, (2) Material bangunan yang menggunakan bahan komposit ringan namun mudah terbakar, (3) Desain ventilasi yang justru mempercepat aliran oksigen ke titik api.

Studi Kasus:

Kebakaran Wang Fuk Court menjadi studi kasus penting karena kompleks perumahan ini sebenarnya telah melewati inspeksi keselamatan dua tahun sebelumnya. Namun, investigasi awal menunjukkan adanya modifikasi sistem listrik ilegal oleh beberapa penghuni yang diduga menjadi pemicu awal kebakaran.

Infografis:

Fakta Mengejutkan Kebakaran Gedung Tinggi di Asia (2020-2025):

  • Rata-rata waktu evakuasi: 18 menit (seharusnya maksimal 6 menit)
  • Tingkat keselamatan: 42% gedung tidak memenuhi standar internasional
  • Korban utama: Pekerja migran (67% dari total korban)
  • Penyebab utama: Korsleting listrik (55%), Masakan (25%), Lainnya (20%)

Musibah ini menjadi pengingat penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperketat standar keselamatan gedung tinggi. Nyawa manusia begitu berharga, dan tidak ada yang seharusnya menjadi korban karena kelalaian dalam penerapan protokol keselamatan. Mari bersama-sama mendorong perbaikan sistem keselamatan gedung di seluruh wilayah kita, karena keselamatan bukanlah hal yang bisa ditawar. Setiap detik evakuasi yang terbuang bisa berarti perbedaan antara hidup dan mati.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan