
Bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Sibolga, Sumatera Utara, menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur transportasi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa akses jalan utama menuju dan dari Sibolga saat ini mengalami putus total.
Letjen TNI Suharyanto, Kepala BNPB, menjelaskan bahwa jaringan jalan nasional yang menghubungkan Sibolga dengan Padang Sidempuan serta Sibolga dengan Tarutung mengalami kerusakan parah. Longsor terjadi di banyak titik, membuat jalur-jalur tersebut tidak dapat dilalui sama sekali.
Kerusakan tidak hanya terbatas pada jalan raya. Beberapa jembatan besar juga menjadi korban, termasuk Jembatan Pandan dan sejumlah jembatan di ruas jalan Sibolga-Manduamas, yang kini terputus. Kondisi ini diperparah oleh kerusakan pada jalur-jalur kabupaten, yang hingga kini belum bisa diperbaiki karena medan yang sulit dijangkau.
Situasi serupa terjadi di Kabupaten Mandailing Natal, di mana tujuh wilayah terpencil masih terisolasi. Jalur lintas provinsi yang menjadi penghubung utama masih tertutup, memaksa warga di beberapa desa hanya bisa dijangkau dengan alat berat atau melalui bantuan transportasi udara.
Dalam aspek korban jiwa, data terbaru menunjukkan bahwa bencana ini telah menelan 166 korban meninggal dunia. Selain itu, masih terdapat 143 orang yang dinyatakan hilang. Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga menjadi wilayah dengan dampak paling parah.
Selama operasi pencarian dan pertolongan yang dipimpin oleh Basarnas, ditemukan 60 korban jiwa tambahan. Upaya ini terus dilakukan untuk menemukan 103 orang yang masih dalam status hilang. Ribuan warga terpaksa mengungsi akibat rumah mereka rusak atau terputusnya akses jalan. Mereka tersebar di berbagai titik pengungsian di Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Mandailing Natal, Tapanuli Utara, dan Humbang Hasundutan.
Untuk mempercepat penanganan darurat, BNPB bersama kementerian dan lembaga terkait mengerahkan berbagai alat utama sistem pertahanan (alutsista), termasuk lima unit helikopter. Helikopter-helikopter ini ditempatkan di Bandara Silangit untuk membantu distribusi logistik ke wilayah-wilayah yang terisolasi, seperti Tapanuli Tengah. Meskipun akses darat ke Sibolga masih belum bisa ditembus, distribusi logistik melalui udara telah berhasil dilakukan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 166 korban jiwa meninggal dunia akibat banjir dan longsor di Sumatera Utara. Hingga hari ketiga penanganan darurat, terdapat 103 korban masih hilang dan 143 orang dinyatakan belum ditemukan.
Di wilayah Tapanuli Tengah, total korban jiwa mencapai 116 orang dan 40 orang masih dalam pencarian. Sementara itu, di Tapanuli Selatan terdapat 31 korban jiwa dan satu orang masih hilang. Tiga korban jiwa lainnya dilaporkan di Tapanuli Utara, dan satu orang di Kabupaten Mandailing Natal. Di Kota Sibolga terdapat 14 korban jiwa dan 62 orang masih dalam pencarian.
Sebanyak 1.677 orang dievakuasi dari wilayah terdampak, terdiri dari 1.460 orang dievakuasi dari Tapanuli Tengah, 209 orang dari Tapanuli Selatan, dan delapan orang dari Sibolga. Korban luka-luka mencapai 84 orang, dengan rincian 49 orang di Tapanuli Tengah, 25 orang di Tapanuli Selatan, dan 10 orang di Sibolga.
Pengungsi terbanyak berada di Kabupaten Tapanuli Tengah dengan 5.576 jiwa tersebar di 31 titik pengungsian. Di Tapanuli Selatan terdapat 3.103 jiwa di 13 titik, sementara Kota Sibolga menampung 636 jiwa di 12 titik pengungsian. Di Kabupaten Mandailing Natal, 344 jiwa tersebar di lima titik, dan di Kabupaten Tapanuli Utara terdapat 159 jiwa di tiga titik pengungsian.
Helikopter milik TNI Angkatan Udara dikerahkan untuk membantu evakuasi korban dan distribusi logistik ke lokasi bencana. Tim gabungan juga terus melakukan pencarian terhadap korban yang masih hilang. Akses jalan terputus menjadi tantangan utama dalam proses evakuasi dan distribusi bantuan.
BNPB bersama instansi terkait terus memantau perkembangan situasi di lapangan. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan, terutama longsor di wilayah rawan. Pemerintah daerah diminta untuk terus memperbarui data korban dan kerusakan demi mempermudah penanganan darurat.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi di wilayah Sumatera Utara dalam beberapa hari ke depan. Hal ini meningkatkan risiko terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor.
Masyarakat diimbau untuk tidak mendekati area yang rawan longsor atau berada di dekat aliran sungai yang berpotensi meluap. Bagi warga yang tinggal di daerah rawan bencana, disarankan untuk menyiapkan tas siaga bencana yang berisi kebutuhan dasar seperti makanan, air minum, obat-obatan, dan dokumen penting.
BNPB telah menetapkan status tanggap darurat bencana di Provinsi Sumatera Utara. Status ini memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah dan instansi terkait untuk mengambil langkah-langkah cepat dalam penanganan bencana, termasuk penggunaan anggaran darurat.
Penanganan bencana banjir dan longsor di Sumatera Utara membutuhkan kerja sama lintas sektor. BNPB bersama TNI, Polri, Basarnas, Kementerian PUPR, Kementerian Kesehatan, dan instansi lainnya terus berkoordinasi untuk memastikan penanganan bencana berjalan efektif dan efisien.
Studi kasus bencana serupa di wilayah lain menunjukkan pentingnya mitigasi bencana sejak dini. Pembangunan infrastruktur yang tahan bencana, reboisasi hutan, dan sosialisasi kesiapsiagaan bencana kepada masyarakat menjadi langkah-langkah penting untuk mengurangi risiko bencana di masa depan.
Infografis yang disusun oleh BNPB menunjukkan bahwa wilayah Sumatera Utara memiliki tingkat kerentanan sedang hingga tinggi terhadap bencana banjir dan longsor. Faktor-faktor yang memengaruhi antara lain curah hujan tinggi, kondisi geologi yang labil, dan kerusakan hutan akibat aktivitas manusia.
Penanganan bencana banjir dan longsor di Sumatera Utara membutuhkan pendekatan yang komprehensif, mulai dari penanganan darurat hingga pemulihan jangka panjang. Masyarakat, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan harus bersatu padu dalam upaya ini.
Bencana ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana. Dengan kewaspadaan yang tinggi, mitigasi yang baik, dan kerja sama yang solid, kita dapat mengurangi risiko dan kerugian akibat bencana. Mari jaga alam, siaga bencana, dan dukung upaya pemulihan bagi saudara-saudara kita yang terdampak. Solidaritas dan kepedulian kita menjadi kekuatan utama dalam menghadapi musibah ini.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.