Wakil Ketua MPR RI, Dr. M. Hidayat Nur Wahid (HNW), menyampaikan apresiasinya terhadap keputusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menetapkan tanggal 29 November sebagai Hari Solidaritas Internasional Bersama Rakyat Palestina. Namun, dalam pernyataannya, HNW menekankan bahwa peringatan ini tidak boleh hanya menjadi seremonial belaka, melainkan harus diikuti dengan aksi nyata dari PBB untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina menuju kemerdekaan.
“Peringatan Hari Solidaritas Internasional bersama Rakyat Palestina pada 29 November ini harus lebih dari sekadar upacara tahunan. Sejak PBB menetapkan hari ini, kenyataannya perjuangan Palestina justru semakin terpuruk, dan solusi dua negara (two state solution) semakin sulit tercapai,” ujar HNW, Minggu (30/11/2025).
Ketua Fraksi PKS DPR RI ini juga menyoroti fakta bahwa kejahatan kemanusiaan oleh Israel terhadap rakyat Palestina terus berlangsung, baik di Jalur Gaza, Tepi Barat, maupun di kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem. Ia menegaskan bahwa solidaritas internasional harus diwujudkan dalam langkah-langkah konkrit, bukan hanya retorika.
Menurut HNW, pernyataan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres yang mengingatkan bahwa rakyat Palestina, seperti bangsa-bangsa lainnya, memiliki hak atas martabat, keadilan, dan penentuan nasib sendiri, harus diimplementasikan secara nyata. Namun kenyataannya, dalam dua tahun terakhir, hak-hak tersebut terus dilanggar oleh Israel tanpa adanya tindakan tegas dari PBB.
“Seruan Sekjen PBB tidak boleh berhenti sebagai slogan. PBB harus bertindak lebih tegas dan melaksanakan resolusi-resolusi yang telah disepakati, termasuk putusan Mahkamah Internasional dan Mahkamah Pidana Internasional, untuk menghentikan kejahatan kemanusiaan dan mewujudkan solusi dua negara,” tegasnya.
HNW juga menyoroti situasi pasca gencatan senjata yang ditandatangani pada 10 Oktober 2025. Fakta menunjukkan bahwa kekerasan terhadap warga sipil Palestina terus terjadi. Menurut data Kementerian Kesehatan Palestina, lebih dari 280 warga sipil tewas, termasuk 67 anak-anak, sejak kesepakatan gencatan senjata berlaku. Hal ini menunjukkan bahwa penghentian kekerasan masih jauh dari kenyataan.
Selain itu, HNW mengingatkan bahwa ribuan warga Palestina, termasuk anak-anak, masih ditahan secara sewenang-wenang oleh Israel tanpa dasar hukum yang jelas. Menurutnya, ini menjadi tanggung jawab besar PBB untuk mengambil tindakan nyata.
“PBB harus membuktikan solidaritasnya bukan hanya melalui pernyataan, tetapi juga dengan membebaskan tahanan Palestina dan menegakkan hukum internasional. Solidaritas yang ditunjukkan masyarakat global harus direspon dengan kebijakan yang tegas dari negara-negara anggota PBB,” ujarnya.
HNW menambahkan bahwa penyelesaian konflik Palestina-Israel hanya dapat tercapai jika semua pihak menghormati hak asasi manusia, menghentikan pendudukan ilegal, dan mendukung terbentuknya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat.
“Hanya dengan komitmen nyata dan keberanian politik, perdamaian yang adil dan abadi di kawasan Timur Tengah dapat terwujud,” pungkas HNW.
Data Riset Terbaru:
Studi dari Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) tahun 2025 menunjukkan 1,9 juta warga Palestina di Gaza mengalami krisis kemanusiaan berat akibat blokade. Laporan Amnesty International menyebutkan pelanggaran HAM sistematis oleh Israel terhadap warga Palestina meningkat 40% sejak 2020. Data Universitas Al-Quds mencatat 97% anak-anak Gaza mengalami trauma psikologis akut.
Analisis Unik dan Simplifikasi:
Konflik Palestina-Israel bukan sekadar sengketa wilayah, melainkan pertarungan antara penjajahan vs hak menentukan nasib sendiri. PBB perlu reformasi sistem voting Dewan Keamanan yang kerap di-veto AS. Solusi abadi hanya mungkin dengan pendekatan HAM, bukan militeristik.
Studi Kasus:
Operasi “Al-Aqsa Flood” 2023 memicu eskalasi terburuk dalam dekade ini. Namun, semangat resistensi rakyat Palestina justru menginspirasi gerakan solidaritas global di 150+ negara. Ini bukti bahwa semangat perjuangan kemerdekaan tetap menyala.
Infografis:
[Data Visual: 77 tahun perjuangan Palestina – 1948: Nakba (pemusnahan), 1967: Pendudukan Tepi Barat, 2007: Blokade Gaza, 2025: Genosida sistematis. Total korban: 150.000+ warga sipil tewas sejak 1948]
Solidaritas bukan hanya saat November, tapi tiap detik kehidupan. Rakyat Palestina mengajarkan kita arti keteguhan di tengah gempuran. Saat mereka bertahan hidup, kita wajib jadi suara bagi yang tak bersuara. Perdamaian sejati dimulai dari pengakuan hak, bukan kompromi penjajah. Bersama, kita jaga api solidaritas hingga kemerdekaan berkibar di bumi Palestina.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.