Guru besar FKUI ungkap strategi antisipasi penyakit pasca bencana alam Sumatera

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jakarta –
Prof Ari Fahrial Syam, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI, menjelaskan serangkaian langkah strategis guna mengantisipasi penyebaran penyakit setelah bencana alam di kawasan utara Sumatera. Ia menekankan pentingnya penyediaan alat pelindung diri bagi korban banjir sebagai garda terdepan pencegahan infeksi.

Menurut Prof Ari, banyak kasus penyakit pasca bencana timbul karena minimnya akses terhadap alat pelindung. Bakteri patogen dapat masuk melalui luka di kulit atau terhirup melalui saluran pernapasan jika tidak menggunakan pelindung yang memadai.

“Warga yang membersihkan sisa banjir wajib menggunakan sepatu bot, masker, sarung tangan, serta pelindung kepala dan mata. Bakteri bisa menembus luka di kaki atau tangan, bahkan saat tertelan,” ujarnya kepada Thecuy.com, Minggu (30/11/2025).

Selain alat pelindung, distribusi desinfektan juga menjadi prioritas utama, terutama bagi mereka yang terlibat dalam pembersihan area terdampak. Lingkungan yang terkontaminasi menjadi sarang bakteri dan virus, sehingga proses desinfeksi harus dilakukan secara masif dan terstruktur.

Kondisi kesehatan pengungsi juga harus menjadi perhatian serius. Asupan makanan dan minuman bergizi sangat penting untuk menjaga daya tahan tubuh, terutama di tengah ancaman infeksi yang tinggi. Ketersediaan selimut, alas tidur, masker, sabun, dan hand sanitizer harus dipastikan guna mencegah penularan penyakit menular.

“Semoga musibah ini segera berakhir dan pemulihan infrastruktur dapat berjalan cepat, sehingga masyarakat bisa kembali beraktivitas normal,” harap Prof Ari.

Banjir tidak hanya merusak fisik, tetapi juga membawa ancaman kesehatan yang serius. Masyarakat yang tinggal di area terdampak berisiko tinggi mengalami infeksi saluran pencernaan seperti diare atau demam tifoid. Kondisi ini diperparah oleh daya tahan tubuh yang menurun dan minimnya akses terhadap air bersih serta sanitasi yang layak.

Di samping infeksi pencernaan, dua penyakit yang paling mengkhawatirkan adalah tetanus dan leptospirosis. Tetanus terjadi ketika bakteri Clostridium tetani masuk melalui luka yang terkontaminasi debu atau kotoran hewan. Gejalanya meliputi kekakuan otot pada tangan, kaki, dan leher, disertai nyeri hebat.

“Kita masih ingat kasus tetanus yang melonjak setelah tsunami Aceh. Gejala biasanya muncul 4 hingga 21 hari setelah infeksi masuk ke tubuh,” jelas Prof Ari.

Leptospirosis, di sisi lain, ditularkan melalui air atau tanah yang terkontaminasi urine hewan yang terinfeksi. Kontak langsung dengan luka terbuka atau selaput lendir menjadi jalan masuk bakteri ini. Gejalanya bisa mirip demam berdarah, sehingga diagnosis dini sangat penting.

Di tengah situasi darurat, kesiapan medis dan edukasi masyarakat menjadi kunci utama. Pelatihan dasar penanganan luka, vaksinasi tetanus, serta sosialisasi pentingnya kebersihan diri dan lingkungan harus digencarkan segera.

Studi kasus pascabanjir besar di Nias tahun 2023 menunjukkan bahwa wilayah dengan distribusi alat pelindung diri dan desinfektan yang cepat mengalami penurunan kasus infeksi hingga 60% dalam dua minggu pertama. Sementara daerah terpencil yang minim bantuan mengalami lonjakan kasus diare dan leptospirosis selama sebulan penuh.

Infografis sederhana dapat membantu masyarakat memahami alur penyebaran penyakit dan langkah pencegahannya. Visualisasi seperti rantai penularan, alur distribusi bantuan kesehatan, dan checklist alat pelindung diri sangat efektif dalam edukasi darurat.

Kesehatan bukan hanya tanggung jawab petugas medis, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Dengan kesiapan yang matang, gotong royong, dan disiplin menjaga kebersihan, risiko penyakit pasca bencana bisa ditekan secara signifikan. Mari jadikan kewaspadaan sebagai kebiasaan, dan kepedulian sebagai aksi nyata demi keselamatan bersama.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan